Yang Lebih Berharga

“Kak Sari lagi, Kak Sari lagi!” gerutu Nia kesal. Bagaimana tidak kesal? Mama telah berjanji membeli sepatu Nike untuknya. Namun rencana tadi batal gara-gara Kak Sari minta uang untuk mengikuti les bimbingan belajar.
“Nia sudah minta duluan, kan, Ma,” protes Nia.
“Sepatu Nia, kan, masih bagus. Nanti kalau Mama punya rejeki, pasti akan Mama belikan,” jawab mamanya, sabar.
Nia semakin menghela napas panjang. Memang, setelah ayah Nia meninggal, Mama bekerja kerja keras untuk menghidupi Nia dan kakaknya. Akhir-akhir ini usaha catering Mama sudah mulai menggembirakan. Namun mama Nia masih harus tetap berhemat.
“Nia, Nia…! Lihat ada kejutan, nih!” Kak Sari menyodorkan sebuah koran.
“Apa?” Nia menyingkirkan koran itu dengan kasar. Ia masih marah.
“Ini namamu! Kamu menang lomba membuat poster!” Kak Sari menyodorkan koran itu ke depan hidung Nia lagi.
Kali ini Nia merebut penuh semangat. Matanya menelusuri daftar nama pemenang. Ah, namanya bertengger di urutan ke tiga. Lumayan sekali!
Nia meloncat kegirangan, memeluk Kak Sari. Pupus sudah semua rasa permusuhan yang tadi meracuni hatinya. Nia meminta Kak Sari mengurus weselnya. Setelah itu, ia langsung mengajak Kak Sari ke toko sepatu.
Kali ini wajah Kak Sari terlihat sangat serius saat Nia mengutarakan maksudnya. Ia lalu pergi menyelinap ke kamar Mama sebentar. Lalu keluar sambil membawa sebuah buku.
“Kamu mau lihat ini sebentar, Ni?” Kak Sari memperlihatkan isi buku yang biasa Mama letakkan di bufet.
“Apa itu, Kak?” Nia melongok bingung melihat deretan angka tulisan mamanya.
“Lihat deretan ini.” Kak Sari menunjuk angka-angka. Kini Nia mulai dapat mengerti rupiah demi rupiah yang dikumpulkan mamanya dengan susah payah.
Nia lantas melihat pada lembar berikutnya. Mama menuliskan daftar barang yang direncanakan untuk dibeli atau memerlukan dana besar. Nia melihat ada tulisan “oven kompor”. Di baris berikutnya ada tulisan “sepatu Nia”. Ada tanda panah dari tulisan “oven kompor” yang diarahkan ke tulisan “sepatu Nia”. Pada deretan ketiga ada tulisan “kursus Sari” yang sudah dicoret.
Dada Nia mendadak sesak. Mamanya telah mengidam-idamkan oven sejak lama. Namun selalu mendahulukan kepentingan putri-putrinya. Padahal oven itu pasti untuk menunjang kerja catering Mama.
Dalam perjalanan menuju ke toko sepatu, Nia terus merenung.
“Ayo, Ni…Mau pilih yang mana?” senggol Kak Sari ketika Nia terpaku lama di depan barisan sepatu bermerek. Kak Sari mengira Nia kebingungan memilih.
“Kak Sari. Ayo antar Nia ke toko oven,” kata Nia akhirnya, dengan suara lirih.
Kak Sari menghela napas panjang. “Maafkan Kak Sari, Nia. Seharusnya Kak Sari tak menunjukkan buku itu kepadamu.”
Nia menggeleng lemah. “Tak apa, Kak. Keadaan kita memang seperti ini. Nia sudah tak ingin sepatu Nike lagi.”
Nia dan Sari akhirnya membeli oven untuk mama mereka. Setibanya di rumah, Mama menyambut oven dari Nia dengan mata berkaca-kaca. Tak ada kata yang keluar dari mulutnya. Namun pelukan Mama yang hangat dan menyalurkan kasih sayang, memenuhi relung hati Nia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: