Terlempar dari Negeri Dongeng

Dindon bersama Mama dan Tante Eda pergi ke pasar murah. Tante Eda minta ditemani membeli kereta bayi. Tepat di sebelah toko itu, ada toko boneka bekas. Bermacam boneka dipajang di situ. Sementara Mama dan Tante Eda asyik melihat-lihat kereta bayi, Dindon asyik pula melihat boneka-boneka itu. Tiba-tiba Dindon terpaku melihat sebuah boneka yang bersih dan cantik.
Dindon penasaran dengan boneka itu. Itu sebabnya, esok harinya, sepulang sekolah, Dindon mengajak Roni ke toko itu. Roni pun terpaku saat melihat boneka itu. Dindon dan Roni merasa boneka cantik itu menatapi mereka.
Dindon membisiki Roni sambil menarik tangan temannya itu, “Coba kita bergerak ke dekat toko kereta bayi.”
Meraka berjalan pelan sambil melirik boneka itu. Lalu mereka berhenti. “Kok bisa?” kata Roni tak habis mengerti. Bola mata boneka itu betul-betul mengikuti kemana pun mereka bergerak.
“Apa penjaga toko yang menggerakkannya?” bisik Dindon.
Roni menggeleng. Dindon akhirnya memutuskan untuk membelinya.
“Kau akan memajangnya di kamar?” tanya Roni dalam perjalanan pulang.
“Tentu saja tidak. Mama akan heran kalau anak lelakinya main boneka,” jawab Dindon “Nanti sore, kamu ke rumahku, ya! Kita selidiki keanehannya.”
Sore harinya Roni datang. Mereka berdua segera mengunci pintu kamar.
Dindon mengeluarkan boneka itu dari tasnya. Lalu diletakkan di tempat tidur. Perlahan, mata boneka itu menatapi mereka. Wajahnya berubah jadi berseri-seri.
Kepala Dindon dan Roni serentak tegak.
“Apa ia bisa bicara juga?” bisik Roni pelan.
Tiba-tiba terdengar suara tawa lembut. “Ya, aku bisa bicara. Nama kalian Dindon dan Roni, kan?” kata boneka itu.
Kedua anak lelaki itu terngaga. “Dia bicara!” bisik mereka tersentak.
“Kamu… kamu…, siapa kamu sebenarnya?” tanya Roni gugup.
“Aku mengerti kalau kalian merasa aneh. Aku sebenarnya seorang puteri dari Negeri Dongeng. Namaku Puteri Renda,” ujar boneka itu.
“Oh, kamu seorang Puteri?” gumam Dindon keheranan.
“Apa yang terjadi padamu, sampai kamu bisa jadi boneka,” sambung Roni.
“Aku dihukum oleh pemuda sakti. Aku diubahnya jadi boneka. Jika ada anak yang ingin memiliki aku, barulah aku terbebas dari hukuman. Dan bisa kembali ke negeriku. Tapi, orang jahat itu menyihir, sehingga aku tampak kumal dan jelek di mata anak perempuan. Padahal, biasanya kan anak perumpuan yang suka main boneka. Di mata anak lelaki aku tetap boneka yang cantik dan bersih. Tetapi, anak lelaki kan tidak suka boneka. Dengan cara demikian, dia ingin aku tidak bisa kembali ke negeriku,” cerita Puteri Renda.
“Sekarang kami telah memilikimu,” kata Dindon.
“Ya, kalianlah yang bisa menolongku,” kata Puteri Renda.
“Bagaimana caranya?” tanya Roni.
“Sebenarnya sekarang aku bisa kembali ke negeriku. Namun aku tak bisa membebaskan kedua orangtuaku dan Pangeran Tara. Mereka ditahan oleh pemuda sakti itu. Pemuda itu ingin menjadikan aku istrinya. Tapi aku telah bertunangan dengan Pangeran Tara, dan tak mau menjadi istrinya. Itu sebabnya aku disihir menjadi boneka. Dan dilempar ke negeri kalian ini. Jika berada di negeriku, tubuh kalian akan memancarkan sinar. Sebab kalian berasal dari negeri yang bermatahari. Nah, sinar itu akan menghilangkan kejahatan di tubuh pemuda itu,” kata Puteri Renda.
“Jadi, kami bisa membersihkan negerimu dari kejahatan?” tanya Dindon.
“Benar,” jawab Puteri Renda.
“Baiklah. Aku ingin melihat Negeri Dongeng itu,” kata Roni.
“Apakah kami akan bertarung melawannya?” tanya Dindon.
“Tidak. Tanpa bertarung, kalian bisa menyelamatkan kerajaan kami. Saat ini, pemuda sakti itu telah menguasai istana,” jawab Puteri Renda.
“Kalau begitu, mari kita berangkat,” kata Dindon dan Roni.
“Pejamkanlah mata kalian,” ujar Puteri Renda.
Dindon dan Roni memejamkan mata mereka. Beberapa detik kemudian Puteri Renda berkata, “Bukalah mata kalian.”
Kedua anak lelaki itu membuka mata. Kini di hadapan mereka berdiri seorang puteri. Saat menoleh, mereka melihat seorang pemuda dengan mahkota di kepalanya di singasana. Juga ada sebuah kerangkeng besar mengurung tiga orang. Dari dalamnya seorang wanita berseru,
“Renda, putriku. Oh, anakku telah kembali!’ ujarnya.
“Negeri Dongeng! Sekarang kita berada di Negeri Dongeng!” kata Roni.
“Ya. Selamat datang di negeriku, Dindon dan Roni. Lihatlah! Pemuda jahat itu telah mengangkat dirinya menjadi raja!” Putri Renda menunjuk ke singgasana.
“Hahaha, kau tetap tak kan bisa melawan, Putri Renda! Kau akan kujadikan benda yang lebih jelek. Dan kalian akan kulempar ke tempat yang lebih jauh,” tantang pemuda itu, lalu mengacungkan jarinya. Namun, sesuatu yang aneh terjadi.
“Lihat, tubuh kita mengeluarkan cahaya!” seru Roni.
Cahaya di tubuh Roni dan Dindon merambat ke arah pemuda jahat itu. Tubuhnya terkulai dan jatuh berlutut. Bersamaan dengan itu kerangkeng yang menutup baginda, permaisuri dan Pangeran Tata pun lenyap
Pemuda itu mencoba melarikan diri, tetapi dengan cepat diringkus oleh prajurit. Puteri Renda sangat gembira dan sangat berterima kasih pada Dindon dan Roni.
Kedua anak laki-laki itu lalu berpamitan. Mereka khawatir orang tua mereka mencari mereka. Dindon dan Roni memejamkan mata. Beberapa detik kemudian, mereka telah kembali ke rumah mereka. Pengalaman itu sangat mengesankan. Namun Dindon merasa kehilangan boneka yang dibelinya dengan harga murah itu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: