SESUDAH SUATU KEGAGALAN

Pulang dari rumah Nano, hati Ipong berbunga-bunga.  Lengan kanan mengempit kotak catur dan tangan kiri melenggang.  Udara sore yang cerah dengan awan biru seolah-olah turut bergembira bersama Ipong.
“Tak kusangka aku berhasil mengalahkan Nano dan Budi.  Nano, juara catur di sekolah dan Budi, juara catur tingkat RT!” begitu kata hati Ipong.  Masih terbayang di ruang matanya kedua kawannya menyalaminya dan berkata, “Kamu banyak maju, Pong.  Kalau besok menang, jangan lupa traktir kami!”
“Tentu saja.  Doakan supaya aku menang!”  begitu kata Ipong tadi.
Makin dekat ke rumah, langkah kaki Ipong makin cepat.  Ia mau menelepon Paman Dani yang bekerja di majalah anak-anak.  Besok ada lomba catur untuk anak-anak SD di mal dan Paman Dani termasuk  anggota panitia perlombaan.  Sabtu lalu Paman Dani menelepon Ibu dan memberitahu tentang lomba catur tersebut.  Kalau Ipong berminat supaya mendaftar selambat-lambatnya hari Senin.  Sekarang sudah hari Sabtu dan Ipong belum mendaftar.
Setiba di  rumah, Ipong menelepon Paman Dani.  Wah, ternyata Paman Dani belum pulang.  “Bu, aku telepon Paman Dani ke handphone saja, ya!”  Ipong minta izin pada Ibu. “Boleh, tapi jangan lama-lama!”  pesan Ibu.  Ipong berdiri dekat meja telepon dan menelepon Paman Dani. “Halo, Paman, aku sudah siap ikut lomba catur besok.  Jam berapa aku harus tiba di mal?  Paman jemput aku tidak?”  bertubi-tubi pertanyaan Ipong. “Pong, kamu tak bisa ikut.  Pendaftaran kan sudah ditutup Senin sore yang lalu!”  “Yaaa, Paman, kok begitu?  Paman kan Panitia.  Kupikir Paman sudah daftarkan!”  kata Ipong dengan perasaan kecewa bercampur  was-was. “Lo, aku kan tidak tahu kalau kamu berminat.  Kamu tidak menelepon aku seminggu ini.  Maaf, panitia tidak boleh KKN!  Sudah, ya!”  Paman Dani mengakhiri percakapan. Langsung Ipong merasa lututnya lemas.  Seminggu ini ia  latihan terus bertanding catur melawan Nano dan Budi.  Dan sekarang, semuanya sia-sia hanya karena kelalaian, tidak mendaftar dan tidak menghubungi Paman Dani.  Mengira Paman Dani sudah mendaftarkan.  Wah, apa kata Nano dan Budi kalau tahu hal ini?
Sepanjang petang sampai malam wajah Ipong murung.  Esok paginya Ipong tak mau bangkit dari tempat tidur.  Ia sangat kecewa.  Dalam hati ia menyalahkan  Paman Dani yang berlaku kejam dan Ibu yang tidak mengingatkannya untuk mendaftar. Jam 8.30 telepon berdering.  Tak lama kemudian ibu masuk ke kamar. “Pong, ada telepon dari Paman Dani!”  Ibu memberitahu.  Dengan segan Ipong ke luar kamar. “Pong, sebetulnya aku sudah daftarkan kamu.  Kemarin aku cuma mau mendidikmu agar lain kali jangan lalai!”  kata Paman Dani.  “Kamu bisa datang ke sini dalam waktu setengah jam?” “Aaah…ehhh, aku belum mandi dan makan.  Tapi, aku akan datang naik taksi!”  kata Ipong. Dengan sigap Ipong mengambil handuk dan lari ke kamar mandi, setelah mandi, ia membongkar celengan dan pamit pada Ibu.“Sarapan dulu, Pong!”  Ibu mengingatkan.  “Tak bisa, Bu.  Kata Paman Dani jam 9.00 aku sudah harus ada di mal!  Aku akan naik taksi saja.  Uangku ada kok!”  kata Ipong dan ia pun berlari ke jalan mencari taksi.

Dengan terengah-engah akhirnya ia tiba di tempat lomba di lantai III.  Para orangtua hadir mengantar anak-anak mereka.  Selain lomba catur, ada juga lomba mewarnai gambar dan lomba nyanyi.  Ipong menemui Paman Dani. “Duduk di meja nomor 4, Pong!” kata Paman Dani.  Setelah duduk, Ipong berhadapan dengan lawannya, seorang anak laki-laki yang tampan dan rapi.  Anak itu tersenyum dan menjabat tangan Ipong, menyebutkan namanya Ian.
Ketika menoleh ke kiri, di meja nomor tiga ternyata ada anak  yang tinggal di kompleks perumahan yang sama dengan Ipong.  Anak itu berkaus biru, menganggukkan kepala dan tersenyum pada Ipong.
Panitia membacakan peraturan-peraturan yang harus ditaati dan nama-nama peserta lomba, lalu acara lomba dimulai.  Lawan Ipong ternyata sangat pandai.  Dalam sekejap ia sudah melahap tiga pion Ipong dan dalam waktu 8 menit Ipong kalah.

Ipong menoleh ke kiri dan anak berkaus biru sudah kalah lebih dulu dan meninggalkan kursinya. Ipong mendekati pamannya dengan kecewa dan berkata, “Paman, aku mau pulang saja sekarang!” “Jangan pulang, nonton saja pertandingan dulu.  Kamu kan bisa belajar dari para calon juara!”  Paman Dani mencegah “Untuk apa? Aku kan sudah kalah!” kata Ipong dengan wajah lesu dan nada kurang senang.  Ia pun ingat isi celengannya yang sudah berpindah ke tangan supir taksi. Paman Dani mengeluarkan uang Rp10.000,00 dan memberikan pada Ipong.“Turunlah ke lantai dua.  Kamu bisa makan ayam goreng dan kentang.  Sesudah itu kembali ke sini dan baru ambil keputusan.   Kamu belum sempat makan, kan!”Ketika Ipong masuk ke restoran, anak berkaus biru ternyata sudah ada di sana.  Ia baru mau  mulai makan.  Ia memberi isyarat agar Ipong duduk di dekatnya.Ipong memesan makanan dan kemudian membawa bakinya ke meja anak itu.Keduanya berkenalan.“Rupanya kita sama-sama belum sarapan, Pong!” kata Aris, anak berkaus biru itu.  Ipong menceritakan masalah pendaftaran lomba catur. “Kalau aku sudah mendaftar.  Cuma semalam aku asyik main catur sendiri, tahu-tahu pagi hari aku masih mengantuk dan sulit bangun.  Jadi tidak sempat sarapan dulu!”  Aris menjelaskan.  “Benar kata ibuku, kalau mau ikut lomba harus menyiapkan diri sebaik-baiknya!” “Iya, kalu aku tidak ngambek tadi pagi, mungkin aku bisa mandi dengan tenang, sarapan dan kemudian tidak tergesa-gesa ke tempat lomba!”  Ipong mengakui. “Rumah kita satu kompleks, kita bisa pulang sama-sama!” kata Ipong.  “Ya, tapi aku  tak mau pulang sekarang, rugi!” kata Aris.  “Aku mau melihat cara rekan-rekan kita bertanding dan memperhatikannya.  Kata ibuku kalau kita gagal kita harus bangkit dan berusaha lebih giat!  Kegagalan sesungguhnya adalah awal keberhasilan kalau kita mau memperbaiki diri!” “Benar juga.  Kalu begitu kita kembali saja ke lantai 3!”  Ipong setuju.  “Bagus juga kalau kita singgah dulu ke toko buku, beli ballpoint dan buku kecil untuk mencatat langkah-langkah para juara!”  “Ya, omong-omong ada juga hikmahnya kegagalan kita ini.  Aku jadi kenal kamu.  Lain kali kita bisa sama-sama latihan catur.  Selama ini kita tinggal satu kompleks perumahan, kita saling berselisih jalan, hanya memandang wajah, tidak bertegur sapa!” kata Aris.  “Aku punya beberapa buku catur di rumah, kamu bisa pinjam!” “Wah, bagus sekali.  Terima kasih!” kata Ipong dengan ceria.  Perutnya sudah kenyang, semangatnya sudah timbul, dan rasa kecewanya sirna.  Kesadaran baru muncul bahwa tidak seharusnya ia menyalahkan Ibu dan Paman Dani, karena ia sendiri yang salah.  Kedua anak itu keluar keluar dari restoran, singgah ke toko buku dan naik ke lantai 3.  Ipong dan Aris menonton lomba catur dengan penuh perhatian.  Sesekali mereka mencatat.  Sesudah suatu kegagalan, selalu kita bisa memiliki semangat baru.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: