Rahasia Sebutir Telur

Bobi ingin sekali membeli mainan sega dreamcast. Kata teman-temannya mainan itu lebih canggih dari play station. Tetapi Mama malah membelikannya sebutir telur ayam.
“Untuk apa?” tanya Bobi hampir tertawa, “Mama salah dengar, ya?”
Mama tersenyum, lalu menggeleng, “Itu telur ajaib. Telur itu mempunyai sebuah rahasia. Kalau kamu bisa menjaganya selama dua minggu, Mama akan belikan sega dreamcast yang kamu minta,” jawab Mama sambil mengeluarkan belanjaannya.
Bobi memperhatikan telur di tangannya. Hanya sebuah telur ayam yang biasa digoreng untuk sarapan. Tapi, kenapa dibilang telur ajaib? Bobi garuk-garuk kepala.
“Bagaimana? Kamu mau menjaganya selama dua minggu atau sama sekali tidak dibelikan mainan itu?” tawar Mama melihat Bobi diam saja.
“Tapi Ma, ajaibnya dimana?” Bobi penasaran.
Sekali lagi Mama tersenyum, “Ajaibnya baru ketahuan kalau kamu mau menjaganya. Kamu berani menerima tantangan?” ujar Mama lagi.
“Beres. Tapi, Mama janji, ya, hanya dua minggu?” pinta Bobi.
Bobi pikir menjaga telur itu mudah sekali. Tetapi nyatanya? Baru satu jam saja, anak kelas lima SD itu sudah kelabakan. Ceritanya, telur itu ia letakkan di atas meja belajar. Bobi lupa kalau telur itu bentuknya oval dan sewaktu-waktu bisa menggelinding. Bobi membuka laci, mencari kunci sepedanya. Begitu kunci yang dicarinya ketemu, ia membanting laci itu. Akibatnya, telur itu menggelinding dan… Dengan panik Bobi meloncat dan berusaha menangkap telur itu. Hup! Berhasil!
“Selamat….selamat….,” katanya sembari mencium telur itu. Kan tidak lucu kalau baru satu jam telur itu sudah hancur.
Hari itu juga Bobi menaruh telur itu di gelas plastik air mineral, yang telah diberi kapas. Biar aman kalau dibawa ke mana-mana.
Akan tetapi, pada hari kedua, ketika Bobi buru-buru pergi ke sekolah karena kesiangan, untuk yang kedua kalinya telur itu hampir pecah. Saat Bobi membelokkan sepedanya, tiba-tiba dari sebuah gang muncul penjual bubur ayam. Bobi mengerem sepedanya dengan keras. Telur yang belum sempat dimasukkan ke dalam tas terlepas dari tangannya dan jatuh. Beruntung telur itu tidak pecah. Sekali lagi dia mengucapkan syukur dan menciumi telur itu. Penjual bubur ayam sampai keheranan.
Telur itu lalu ia masukkan itu ke dalam tas. Bobi kemudian mengayun sepedanya dengan pelan. Sejak itu Bobi lebih hati-hati lagi menjaga telur ajaibnya. Dia tidak mau, gara-gara kecerobohannya telur itu pecah. Dan akibatnya ia tidak jadi mendapat mainan.
Memang awalnya amat menyiksa. Biasanya pulang sekolah Bobi langsung main. Tapi kini ia harus langsung pulang. Biasanya ia tidak betah lama-lama mendekam di kamar. Tapi kini ia harus betah. Biasanya ia mengerjakan PR terburu-buru, main banting pintu, taruh barang sembarangan… Tapi kini tidak. Ia harus lebih hati-hati. Dan tanpa terasa telah dua minggu Bobi menjaga telur itu.
Pulang sekolah, Bobi mencari Mama. Ia mau menagih janji Mama karena telah sukses menjaga telur ajaibnya. Tapi Mama tidak ada.
“Mas Bobi, tadi Mama pesan mau ke rumah sakit. Menengok suami Tante Retno yang kecelakaan,” kata Bi Suri, pembantu di rumah Bobi.
“O…, makasih, Bi,” ucap Bobi sambil masuk ke kamar.
Bi Suri mengerutkan kening mendengar ucapan terima kasih dari Bobi. Soalnya, tidak biasanya Bobi sesopan itu. Apa Mas Bobi sudah berubah? Atau….ah, Bi Suri mengibaskan tangannya lalu melanjutkan pekerjaannya.
Menjelang sore hari Mama baru pulang. Bobi langsung menyambutnya dengan senang.
“Bagaimana keadaan suami Tante Retno, Ma?” tanya Bobi.
Mama menggeleng, “Dia masuk ruang ICU. Keadaannya parah,” cerita Mama.
“Terus?”
“Tante Retno butuh uang banyak, karena itu….” sejenak Mama menarik napas, “Uang yang sudah Mama siapkan untuk beli mainan kamu, Mama pinjamkan ke Tante Retno,” lanjutnya.
Deg! Bobi kaget sekali. Berarti dia tidak jadi beli dreamcast. Berarti dia…aduh, bagaimana ini? Padahal dia sudah bilang ke teman-temannya akan membelinya. Bagaimana kalau teman-teman bertanya?
“Kamu tidak marah kan, Bob?” tanya Mama sambil mengelus kepala Bobi.
Untuk beberapa lama Bobi terdiam. Akhirnya perlahan-lahan dia menganggukkan kepala. Mama tersenyum, lalu memeluknya, “Kalau Tante Retno sudah mengembalikan, Mama janji akan langsung membelikannya,” kata Mama.
Ting! Tong! Tiba-tiba bel berbunyi. Buru-buru Bobi berlari ke ruang tamu dan membuka pintu. Ternyata anak Tante Retno yang paling besar.
“Ada apa, Adi?” tanya Mama setelah dia dipersilahkan duduk.
“Ini Tante, uang Tante yang tadi dipinjamkan ke Mama. Kata Mama, Mama tidak jadi pinjam. Karena orang yang menabrak Papa mau membiayai semua perawatan Papa,” jelas anak Tante Retno sambil menyerahkan amplop berwarna coklat.
Sungguh, Bobi hampir-hampir tidak percaya mendengarnya. Dia ingin melonjak dan berteriak keras-keras saking girangnya. Tapi ia mampu menahannya. Inikah rahasia telur yang dimaksud Mama?
“Bagaimana, Bob? Jadi beli mainan?” tanya Mama setelah Adi pulang.
Bobi terdiam. Bukannya menjawab, dia malah masuk kamar. Diambilnya telur itu, lantas diperhatikannya dalam-dalam. Tidak ada yang istimewa. Tetapi, dia merasa harus berterima kasih. Karena telur itu telah memberikan pelajaran paling berharga, yaitu sebuah kesabaran.
“Bagaimana, Bob?” tanya Mama lagi yang mengikutinya ke kamar.
Pelan-pelan Bobi menggelengkan kepala, “Tidak jadi, Ma. Bobi pikir uang itu sebaiknya dipakai untuk hal yang lebih berguna,” ujarnya cukup mengharukan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: