RAHASIA DI BALIK SEBUAH LUKISAN KUNO

Mobil sedan itu berhenti di pelataran sebuah hotel. Hari masih pagi. Seorang anak perempuan keluar dari dalam mobil. Menjinjing sebuah tas besar, ia menaiki tangga hotel yang menuju lantai dasar hotel.
Ia langsung menuju resepsionis. Anak perempuan itu mengeluarkan sesuatu dari sakunya dan menunjukkannya kepada petugas resepsionis. Sambil tersenyum lebar, petugas memberikan sebuah kunci kamar.
“Kamar 333, Nona!” ujar petugas itu.
Anak perempuan itu mengangguk dan segera berlalu.
Tepat di pintu kamar 333, anak perempuan itu berhenti. Ia segera membuka pintu dengan kunci yang diterimanya dari petugas tadi.
Sebentar ia berdiri memperhatikan bagian dalam kamar itu. Sebuah lukisan tergantung di dinding. Dari warnanya yang sangat sederhana terlihat kalau lukisan itu adalah lukisan yang sangat tua. Lukisan seorang gadis cantik berusia kurang lebih duabelas tahun. Dengan senyumannya yang manis, ia seolah menyambut tamu yang baru datang.
“Hai, Nerissa!” Sebuah suara tiba-tiba mengejutkan anak perempuan itu. “Mengapa kau tidak segera masuk?”
“Dora, itu kau, ya?” anak perempuan itu balik bertanya.
“Bukan! Aku bukan Dora!” suara itu terdengar lagi. “Dia janji padamu akan datang menjelang sore, kan?”
“Lalu kau siapa?” tanya Nerissa. “Aku tidak melihatmu!”
“Masuk dan tutuplah pintu. Kau akan segera melihatku.”
Nerissa menurut. Masakan lukisan itu yang berbicara. Nerissa tidak percaya hantu.
“Namaku Luisa! Aku senang bertemu denganmu!”
Seorang gadis tiba-tiba muncul di hadapan Nerissa. Nerissa mundur beberapa langkah. Digosok-gosoknya matanya karena tak percaya. Setelah yakin bahwa ia tidak bermimpi, Nerissa pun berani bertanya.
“Kenapa kau berada di sini? Apa Dora juga mengundangmu?”
“Tidak!” jawab Luisa. “Aku hanya ingin tahu, apa kau betul-betul tertarik pada lukisan ini!”
“Ya! Bagus sekali!” jawab Nerissa. “Siapa yang melukisnya?”
“Kau!” jawab Luisa.
“Aku?” seru Nerissa terkejut.
“Ya, kau!” jawab Luisa lagi. “Selama ini orang selalu mengatakan bahwa Luisa-lah yang melukisnya! Mereka tidak tahu kalau lukisan ini sebenarnya hasil karyamu! Dan kau…pernah berjanji untuk menyelesaikannya!”
“Menyelesaikannya?” tanya Nerissa bingung. “Lukisan itu sudah selesai dan aku tidak pernah merasa melukisnya!”
“Lihat lukisan ini!” ujar Luisa lagi. “Bibir gadis di dalam lukisan ini belum diwarnai seluruhnya, kan?”
Nerissa memperhatikan lukisan itu baik-baik. Ia memang melihat kekurangannya.
“Sekarang, selesaikanlah lukisanmu. Warnailah bagian bibir yang belum diwarnai. Setelah itu akan kutunjukkan bahwa lukisan itu adalah hasil karyamu!” Luisa menjelaskan sambil menyodorkan kuas dan palet berisi cat merah.
Nerissa menerima kedua benda itu. Dengan ragu dicelupnya kuas ke cat merah, lalu mengolesnya ke bagian bibir lukisan. Tapi….ketika Nerissa baru saja menyelesaikannya, ia merasa tubuhnya ditarik oleh lukisan itu. Dan Nerissa berada di sebuah ruangan yang hanya diterangi sebatang lilin.
Dengan sangat bingung, Nerissa mundur pelan-pelan.
“Hei, kenapa kau linglung begitu?” sebuah suara menegurnya.
“Maaf Luisa…”, ujarnya gugup.
“Luisa?” tanya si pemilik suara. “Kenapa kau panggil aku seperti itu? Bukankah kau selalu memanggilku Tuan Putri?”
Nerissa terkejut mendengarnya. Ia baru sadar bahwa Luisa yang kini ada di depannya adalah seorang putri raja. Sedang dirinya hanyalah seorang pelayan. Dari pakaian yang ia kenakan, Nerissa sadar bahwa ia berada di zaman yang berbeda.
“Kenapa bengong?” tanya Luisa. “Aku sudah menyiapkan semua peralatan gambar yang kau butuhkan! Kita harus bekerja cepat! Jangan sampai Ayah tahu kalau kau ada di kamarku! Kau bisa dihukumnya nanti!”
Luisa segera menarik tangan Nerissa untuk duduk di depan kanvas yang telah ia sediakan.
“Tolong lukis seorang anak perempuan yang cantik!” pinta Luisa.
Nerissa meraih kuas yang tergeletak di lantai, tapi ia tidak langsung melukis. Ia ragu-ragu untuk memulainya. Ia belum pernah melukis manusia sebelumnya. Ia selalu menggambar pemandangan dan hewan saja.
“Kenapa melamun?” tanya Luisa. “Kau sudah biasa melukis anak perempuan, kan?”
Nerissa kembali terkejut. Kenapa Luisa berkata seperti itu? Seolah-olah ia sudah mengenal Nerissa. Padahal mereka baru bertemu tadi di kamar hotel. Dengan pelan dan canggung, Nerissa mulai menggerakkan kuas yang dipegangnya di atas kanvas. Setengah percaya setengah tidak, Nerissa menatap hasil lukisannya.
Ia tak mengira hasil lukisannya tampak begitu sempurna. Ia lebih heran lagi ketika sadar kalau lukisan itu adalah lukisan yang ada di dinding kamar hotel.
“Bentuk dan warnanya sudah bagus!” puji Luisa.
“Ya!” jawab Nerissa. “Hanya aku tak tahu seperti apa warna bibirnya?”
“Bagaimana kalau warnanya merah darah?”
“Merah darah?” tanya Nerissa. “Tapi di sini tidak ada cat merah!”
Luisa berpikir sejenak, “Kalau begitu, akan kucari…” belum selesai Luisa berkata, tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka lebar. Seorang laki-laki setengah baya dan beberapa laki-laki muda memasuki ruangan itu.
“Oh, Ayah!” seru Luisa kaget. “Ada perlu apa Ayah datang kemari?”
“Ayah mendengar suara orang bercakap-cakap!” jawab Raja. “Rupanya si anak pelayan ini ada di sini!”
“Maaf Yang Mulia! Semua ini atas perintah Tuan Putri!” ujar Nerissa. Kata-kata itu keluar begitu saja dari mulutnya tanpa ia sadari.
“Tapi kau tahu apa hukumannya jika melanggar perintahku?” tanya Raja kembali. “Kau sudah berani menemui Putriku di tengah malam begini! Itu berarti kau sudah siap mati di ujung pedangku!”
Sambil berkata demikian, Raja menarik lengan Nerissa dengan kasar sehingga Nerissa terpaksa berdiri.
“Tapi Ayah! Ia belum selesai melukis!” rengek Luisa sambil memohon agar Ayahnya mau memaafkan Nerissa.
“Hmm…” Raja mendengus sambil memperhatikan lukisan yang belum selesai itu. Ia berkata, “Pengawal, gantung lukisan yang belum selesai itu di dinding! Anak pelayan ini harus menyelesaikannya sebelum ia mati di ujung pedangku!”
Kedua pengawal melaksanakan perinah Raja.
“Cepat selesaikan lukisan itu!” perintah Raja sambil mendorong Nerissa dengan kasar.
Seorang pengawal mencari cat merah. Lalu diberikan pada Nerissa. Dengan gemetar Nerissa mulai mewarnai bibir anak perempuan di lukisannya. Ketika selesai… Nerissa merasa tubuhnya ditarik masuk ke dalam lukisan. Beberapa saat kemudian Nerissa berada kembali di kamar hotel.
“Kini kau percaya apa yang kukatakan?” tanya Luisa. “Dulu, sebelum kau selesai mewarnai lukisan itu, ayahku sudah menghunuskan pedang. Kau berusaha lari mengelak. Namun kau terjatuh dan menggelinding di tangga. Aku mengejarmu menuruni tangga. Kau meninggal di pangkuanku. Sebelum menutup mata, kau berjanji akan menyelesaikan lukisan itu!” Luisa terdiam sejenak.
“Janji itu harus ditepati! Dan kau sudah menepatinya sekarang!” ujar Luisa kemudian. “Terima kasih! Lukisan ini jadi lambang persahabatan sejati antara kita! Maafkan ayahku yang kejam itu! Ayah memang tak suka padamu. Karena kau lebih pintar dariku. Ketika tahu kita masih terus bersahabat, Ayah melarangmu bertemu denganku! Ayah tak suka kau pandai pelukis sedangkan aku tidak bisa! Maafkan juga, ayahku telah mengakui ini adalah hasil lukisanku! Aku tak bisa menyangkalnya demi nama baik ayahku!”
Setelah berkata, Luisa berjalan ke arah lukisan dan hilang di dalamnya, meninggalkan Nerissa yang masih berdiri terpaku.
Pintu kamar hotel kembali terbuka. Seorang gadis cantik datang dengan dua koper.
“Hai, Nerissa! Selamat sore!” sapa gadis itu.
“Hai, Dora!” balas Nerissa. Ia hanya menoleh sesaat. Lalu menatap lagi lukisan di dinding kamar.
“Kau suka lukisan itu?” tanya Dora. “Ibu dari nenek buyutku yang membuatnya! Ketika Nenek mendirikan hotel ini, lukisan itu digantung di kamar ini! Kamar khusus keluarga! Nenek Luisa pernah menulis di buku hariannya. Katanya, di lukisan itu terkandung janji seorang sahabat sejati, yang pasti akan ditepati! Jika kau mau tahu lebih banyak, nanti setelah aku mandi, kuajak kau ke perpustakaan keluargaku yang ada di hotel ini!”
Nerissa terus menatap lukisan itu. Ia percaya pada apa yang dikatakan Dora, sahabatnya yang mengundangnya ke hotel itu. Sebab Nerissa baru saja mengalami sendiri kisah yang ada di balik lukisan kuno itu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: