Petualangan Sebuah Mobil Tua


Di sebuah toko mobil, ada sebuah mobil tua. Sudah lama ia dipajang di sudut toko itu. Namun tak ada seorang pun yang mau membelinya. Dengan iri mobil tua itu memandangi mobil-mobil lain yang lewat di depan toko.
“Ah, andai aku bisa kesana-kemari seperti mereka. Aku akan pergi kemana aku suka. Walau di hari panas ataupun di saat salju turun,” bisiknya dalam hati.
Sore itu saljupun turun. Mobil tua menggigil kedinginan. “Brrr… kalau terlalu lama di sini, aku bisa berkarat dan tidak bisa berjalan lagi. Bisa-bisa aku diseret ke tempat besi-besi tua, lalu dihancurkan,” keluhnya sedih.
Malamnya, datanglah dua pencuri ke toko itu. Ketika melewati si mobil tua, salah satu pencuri berkata, “Kita curi saja mobil ini. Warnanya gelap. Jadi orang tidak mudah melihat kita.”
Kedua pencuri menyenter mobil tua itu. Si mobil tua terkejut oleh cahaya terang lampu senter. “Ah, akhirnya aku bisa jalan-jalan juga, walaupun dengan pencuri,” sorak mobil tua di dalam hati. Namun pencuri yang lain tidak setuju.
“Mobil ini terlalu tua. Pasti akan mogok di jalan. Kita curi mobil baru saja.”
Mendengar perkataan pencuri itu, hilanglah harapan si mobil tua. Ia menangis tersedu-sedu. Tiba-tiba terdengar suara, “Siapa itu yang menangis?”
Mobil tua terkejut. Ia melihat ke sekelilingnya. Tapi tidak ada siapa-siapa.
“Ini aku! Murry si kucing. Kenapa kau menangis, mobil tua?”
“Hukhh… tidak ada seorangpun yang mau membeliku. Bahkan pencuri pun tidak mau mengambilku! Hukh… Aku ingin sekali jalan-jalan. Bensin di tangkiku penuh. Aku hanya butuh kunci yang tergantung di kantor. Oh… Murry, maukah kau mengambilkannya?”
“Baik, akan kucoba!” ujar Murry kucing sambil melirik. “Tapi kau harus janji! Kau harus membawaku pergi ke mana pun yang kumau!”
“Beres, beres,” mobil tua kembali bersemangat.
Murry pun melompat ke arah jendela yang terbuka. Ia berhasil menjatuhkan kunci mobil tua itu. Betapa senangnya si mobil tua. “Sekarang, masukkan kunci itu ke lubangnya. Dan kita akan pergi kemana kau suka.”
Murry melakukan yang diperintahkan mobil tua. Dan… Drung … drung … drung… Mesin mulai menyala. “Mobil tua, aku ingin ke hutan! Cepat antar aku!”
Murry melompat ke atas jok dan menyetir mobil. Saat itu malam sudah sangat gelap. Jadi tak ada seorang pun yang melihat ada kucing yang menyetir mobil.
Mereka lalu berhenti di tepi sebuah hutan. Murry kucing melompat keluar dan masuk ke dalam hutan untuk berburu tikus. Setelah perutnya kenyang, ia kembali dan melompat ke jok mobil untuk tidur.
Begitulah seterusnya. Setiap malam mobil tua mengantar Murry, kemana pun yang ia mau.. Murry akhirnya jadi pemalas. Ia tak mau berjalan dengan kakinya sendiri. Suatu ketika, si mobil tua tidak bisa berjalan.
“Maafkan aku, Murry. Sepertinya ada yang rusak di tubuhku. Aku harus pergi ke bengkel untuk diperbaiki.”
“Apa?” Murry sangat marah. “Kau kan sudah berjanji untuk mengantar kemana pun yang aku mau. Sekarang, bagaimana caranya aku pulang? Salju sedang turun. Dan aku tidak mau kebasahan!”
“Tapi aku tidak bisa apa-apa lagi… ,” mobil tua sangat sedih.
Dengan kesal, Murry meninggalkan si mobil tua sendirian di hutan.
“Uhukh, apa yang harus kulakukan sekarang…” mobil tua menangis lagi. Tapi tak ada seorang pun yang mendengarnya. Salju mulai turun dengan deras.
Tak lama kemudian, lewatlah Sinterklas dengan keledainya. “Hei, ada sebuah mobil!” serunya. “Hampir tak kelihatan, karena tubuhnya tertutup salju!” Sinterklas mendekati mobil tua itu. “Tidak ada siapa pun di dalamnya!”
Mendengar suara Sinterklas, mobil tua langsung menyapanya, “Sinterklas yang baik! Bisakah Anda memperbaiki saya? Kalau saya bisa berjalan lagi, akan saya antar kemana pun Anda pergi!”
“Baiklah,” jawab Sinterklas. “Kaki keledaiku sudah mulai letih. Padahal hadiah-hadiah Natal yang harus kuantar masih banyak sekali.” Sinterklas mengambil sebuah tongkat kecil dari saku mantelnya. Tiba-tiba terlihat sinar terang. Ting!
Ah, tiba-tiba muncul beberapa orang kerdil. Mereka tersenyum, mengangguk pada Sinterklas. “Apa yang harus kami lakukan?” tanya mereka.
“Tolong perbaiki mobil ini. Aku akan memakainya malam ini.”
Orang-orang kerdil itu dengan cepat memperbaiki si mobil tua. Setelah itu, Sinterklas pun memakainya untuk mengantar hadiah-hadiah Natal. Beberapa saat kemudian, semua hadiah Natal telah diantar. Kini mobil tua harus berpisah dengan Sinterklas.
“Apa yang harus aku lakukan sekarang?” tanya si mobil tua. “Apa aku harus kembali ke tempatku semula dan menjadi besi tua? Lihatlah! Warnaku sekarang sudah memudar. Siapa yang mau membeliku?”
“Hahaha, jangan khawatir, mobil tua. Sebagai tanda terimakasihku, aku akan membuatmu menjadi benda yang berarti.” Sinterklas sekali lagi mengeluarkan tongkat ajaib dari saku mantelnya. Ting!
Kumpulan bintang-bintang mengelilingi si mobil tua. Ah! Ajaib! Si mobil tua mengecil… mengecil… sampai akhirnya hanya sebesar mobil mainan.
“Akan kuhadiahkan kau pada anak laki-laki yang baik di seberang jalan sana,” seru Sinterklas. Mobil tua pun tersenyum puas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: