Permainan Raja Ken

Raja Ken masih sangat muda. Ayahandanya meninggal tiga tahun lalu saat ia masih delapan belas tahun. Namun ia adalah satu-satunya pewaris kerajaan. Sebagai raja muda, ia belum banyak pengalaman. Ia juga seorang pembosan.
Semula, Raja Ken sangat tertarik bermain catur. Tapi lama-kelamaan ia mulai bosan. Lalu, tidak satu pun permainan yang menarik hatinya. Jika sedang jenuh, Raja Ken sering berbuat hal-hal aneh. Kadang ia berbuat keterlaluan. Kali ini, perdana mentri yang menjadi korbannya.
Karena sudah bosan bermain catur, Raja Ken mencari cara yang menarik. Ia menjatuhkan hukuman bagi yang dua kali kalah bermain catur. Si pemenang berhak menentukan hukuman. Ketika perdana menteri kalah, Raja Ken tersenyum penuh kemenangan.
“Paman Mentri, tanggalkan pangkatmu. Berikan kepada tukang kebun. Mulai saat ini, tukang kebun menjadi perdana mentri. Dan kamu jadi tukang kebun! Bagaimanai? Sesuai peraturan, kan?” kata Raja Ken.
Perdana menteri tentu tidak membantah. Walau dengan dongkol, ia harus menjalani jabatan baru sebagai tukang kebun istana.
Sebenarnya, perdana menteri lebih pandai bermain catur. Namun ia selalu mengalah. Apalagi setelah raja membuat peraturan baru itu. Perdana mentri sungkan untuk menjatuhkan hukuman pada raja jika dirinya menang.
Tanpa terasa, perdana mentri sudah dua tahun menjadi tukang kebun. Namun Raja Ken tidak juga memanggilnya untuk kembali ke kedudukannya semula. Raja pun belum bosan dengan permainan hukuman itu. Tabib istana dan beberapa pegawai tinggi lainnya juga mengalami nasib malang. Sang tabib dihukum menjadi petani. Dan si petani kini menjadi tabib baru. Padahal petani itu samasekali tidak tahu soal obat-obatan.
Suatu hari sang tabib mendatangi perdana menteri di taman istana. Ia menceritakan kekalahannya bermain catur.
“Keadaan ini jadi membingungkan,” katanya pada perdana menteri.
“Juga jadi membahayakan kerajaan!” ujar perdana mentri.
“Beberapa minggu ini banyak penghuni istana yang sakit. Dan sakit mereka semakin parah karena tidak mendapat obat,” kata tabib. “Sebagai perdana menteri, tentu Anda punya pemecahannya.”
Perdana menteri mengangguk. “Baginda sendiri kelihatannya dapat menikmati keadaan ini sebagai lelucon. Baginya terasa lucu dan karena itu merasa asyik. Beliau sering datang ke sini dan tersenyum melihat aku berkebun. Untunglah Anda datang. Aku jadi semakin yakin ingin menghentikan permainannya,” jawab perdana menteri.
“Baginda melihatku memacul di sawah. Dan ia tertawa geli,” cerita tabib.
“Tapi apakah juga lucu, kalau melihat seorang petani kebingungan menghadapi seorang yang hampir mati?” tanya perdana menteri dongkol.
Sementara itu, sejak tabib menjadi petani, tak ada orang yang memeriksa kesehatan raja. Sudah empat hari raja sakit. Makin hari makin parah.
“Panggillah tabib yang lama ke istana!” perintah Raja Ken akhirnya.
Tabib pun menghadap raja. Sebelum mengobatinya, ia mengajukan dua permintaan yang sudah direncanakannya dengan perdana mentri. Yaitu, Raja Ken harus bertanding main catur lagi dengan perdana mentri. Raja Ken setuju.
Beberapa hari kemudian Raja Ken sembuh. Sesuai janjinya pada tabib, ia mengadakan tanding ulang dengan perdana mentri. Kali ini, perdana mentri bermain sungguh-sungguh. Ia tidak mengalah lagi. Dan, tidak sampai satu jam Raja Ken pun kalah.
“Kali ini aku kalah,” kata Raja Ken lesu. “Paman menteri berhak memberiku hukuman. Katakanlah.”
Perdana menteri segera memerintahkan raja membuka mahkota kerajaan. “Berikan pada tukang masak. Mulai saat ini, Baginda harus mengurus dapur istana,” katanya sambil menahan tawa dalam hati.
Raja Ken terdiam. Semua yang hadir melihat kegelisahan raja. Keningnya basah oleh keringat. Ia masih saja tercenung. Sementara perdana menteri tersenyum penuh arti.
“Bagaimana jadinya kerajaan dipimpin oleh tukang masak?” kata raja pelan dan cemas.
Terdengar tawa kecil perdana menteri. “Demikian juga ketakutan hamba. Misalnya saja Baginda kalah oleh orang licik lalu mahkota jatuh ke tangannya. Bahaya, kan? Semua orang kan punya bakat dan kelebihan masing-masing. Sudahlah. Hukuman tadi hanyalah lelucon. Tapi karena hamba menang, hamba tetap akan memberi satu perintah. Mulai saat ini tidak ada lagi permainan seperti ini,” kata perdana menteri.
Dengan senang hati Raja Ken menerima perintah itu. Sambil bersyukur diraihnya tangan perdana menteri yang bijak itu lalu diciuminya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: