Musim Layangan Pembawa Berkah

Kupercepat lariku begitu kulihat layang-layangku putus. Tak pedui kakiku penuh lumpur dan katak-katak yang lompat karena kaget. Aku terus berlari di pematang sawah, sambil terus melihat ke atas. Mengawasi kemana jatuhnya layanganku. Saking tegangnya aku hampir menabrak pagar Pak Mendra.
Semua semak tidak luput dari perhatianku. Tapi layanganku tidak kutemukan juga. Dengan lemas aku berjalan menuju pondokku. Akhir-akhir ini nasibku benar-benar sial. Empat hari lalu layanganku juga hilang. Kemarin Ibu membelikan layangan di pasar dengan catatan, ini layangan terakhir. Ibu tidak mau membelikan lagi.
Sebagian besar anak di kampungku memang lebih suka beli layangan di pasar. Walaupun ada juga yang membuat sendiri. Mungkin karena mereka sibuk membantu orang tua di musim panen padi ini.
“Ketuuuut!”
Terdengar panggilan Ibu. Aku melambaikan tangan mengerti maksudnya. Hari sudah siang, aku harus segera menyabit rumput. Sapiku harus segera kuberi makan. Sambil menyabit rumput otakku terus bekerja. Memikirkan cara mendapatkan layang-layang lagi. Dan… ah! Aku dapat akal!
Setelah memberi makan sapi, aku sibuk dengan hal lain. Berkutat dengan bambu, plastik dan benang. Ya, aku akan buat layang-layang sendiri. Uangnya kuambil dari sisa uang jajanku kemarin. Kebetulan ini hari Minggu jadi aku bisa lebih santai. Aku akan membuat banyak layangan.
“Bli, kok, banyak sekali layangannya? Minta satu buat aku, ya?” adikku yang paling kecil, Wayan, datang mendekat.
“Ya, nanti Bli buatkan satu untukmu. Sana, main dulu jangan menganggu!” kataku. Wayan langsung pergi dengan wajah gembira.
Begitu semua layangan telah siap, aku langsung pergi ke sawah. Di situlah tempat teman-temanku biasa main layangan. Melihat aku, Made langsung mendekati, “Tut, layangan itu mau kamu jual , ya? Aku beli satu, ya?”
“Aku juga, Tut. Aku beli dua buat aku dan adikku,” Bagus tidak mau kalah. Teman-teman yang lain juga mengerumuniku.
“Layangan ini masing-masing kujual seribu rupiah. Kalian boleh pilih sendiri,” kataku. Wow, luar biasa! Layanganku laris manis. Mengalahkan pisang goreng yang dijual Ketut Darmi. Ini benar-benar kejutan buatku.
Setelah itu, aku terima banyak pesanan. Jadi, aku bisa membeli buku-buku sendiri. Sisanya aku tabung. Ini berarti menghemat pengeluaran Ibu dan Bapa. Musim layangan kali ini benar-benar membawa berkah buatku.*****

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: