Menanam Kebaikan

Setiap orang punya cara tersendiri untuk menanam kebaikan . Begitu pula dengan Pak Saroji. Pensiunan guru itu hidup sederhana dengan isterinya. Tiga orang anaknya sudah berkeluarga, dan tinggal terpisah di luar kota.
Uang pensiunan Pak Saroji tidak besar. Jadi ia tak mampu menyumbang uang ke panti asuhan. Pak Saroji juga tak kuat membantu membangun rumah ibadah, karena ia sakit-sakitan. Tapi tentu masih banyak cara untuk berbuat baik, begitu pikir Pak Saroji.
Pak Saroji lalu merencakan sesuatu. Ia tak ingin hanya berdiam diri. Suatu hari sepulang dari mengambil uang pensiun, ia membawa sekeranjang rambutan. Merah warna kulitnya, ranum, dan pasti manis rasanya!
“Banyak sekali, Pak? Untuk siapa?” sambut Ibu Saroji penasaran.
“Ya, untuk kita berdua!” jawab Pak Saroji sambil tersenyum.
“Seminggu tidak bakal habis. Mana gigi sudah tidak utuh lagi!” lanjut Bu Saroji.
“Gampang!”
“Lo? Maksud Bapak?”
“Panggil saja anak-anak tetangga itu. Kita undang mereka untuk makan rambutan. Apa salahnya? Selama ini pasti mereka anggap kita ini suami-isteri cerewet. Karena banyak melarang dan mengomeli apa saja yang mereka kerjakan!”
Bu Saroji tak ingin lagi membantah. Ia tahu, suaminya pasti punya rencana baik.
Siang itu setelah makan bersama isterinya, Pak Saroji membawa semua rambutan itu ke teras rumah. Ia lalu memanggil anak-anak tetangga satu persatu. Umur mereka antara 10 hingga 15 tahun.
“Kalian tentu suka buah rambutan?” tanya Pak Saroji spontan.
“Tentu, Kek! Wah mimpi apa nih kok tiba-tiba Kakek berbaik hati dengan mengundang pesta rambutan!” celetuk Rusli sambil tertawa kegirangan.
Disanjung begitu Pak Saroji mengangguk-angguk. “Sudahlah, tak usah banyak bicara. Ayo kita sikat rambutan ini rame-rame!”
Tanpa diperintah dua kali, Abid, Didi dan Sastri berebut cepat memilih butiran yang merah tua dan besar. Anak-anak lahap makan buah segar itu. Sesekali mereka berceloteh dan saling ledek. Lalu pecah tawa ria, yang diikuti senyum cerah Pak Saroji. Bu Saroji keluar membawa baki berisi 6 gelas es sirup.
“Manis, Nak?” tanya Bu Saroji sambil berusaha menyembunyikan rasa penasaran.
“Wah, sering-sering Nek bikin pesta kejutan begini. Asyik, lo!” ujar Mira.
“Boleh juga! Tapi ada syaratnya!” jawab Pak Saroji serius. Dipandanginya mata satu per satu anak-anak yang duduk di lantai teras rumahnya. Serentak anak-anak berhenti mengunyah. Mereka menerka-nerka dalam hati apakah ini semacam jebakan?
“Syarat, Kek?” gumam Didi sambil meringis.
“Gampang kok syaratnya. Jika kalian makan 10 butir rambutan, berarti ada 10 biji rambutan. Pesta buah bulan depan kita lanjutkan jika kalian bersedia mencari biji buah sebanyak yang kalian makan. Cari dimana saja, lalu serahkan pada Kakek!”
Anak-anak tercengang. Ada perasaan menyesal setelah makan banyak-banyak. Tiap anak rata-rata makan 25 butir rambutan. Tapi sesaat kemudian mereka kembali tertawa-tawa. Tidak sulit mencari biji rambutan, berapapun banyaknya. Bukankah sekarang lagi musim rambutan?
Bulan berikutnya Pak Saroji tidak ingkar janji. Sekeranjang buah salak ditenteng pulang. Anak-anak sudah menunggu. Kali ini 9 orang anak sudah berkumpul tanpa diundang. Mereka sudah tahu syaratnya. Cuma yang agak mengagetkan Pak Saroji ganti membawa buah salak.
“Siap menerima tantangan?” tanya Pak Saroji meniru iklan di televisi.
Anak-anak jelas tertantang. Salak pondoh itu pasti manis sekali. Legit dan harum. Mereka mau saja memenuhi syarat yang telah disepakati. Maka begitulah berturut-turut. Setiap bulan Pak Saroji menyisihkan uang pensiunnya untuk membeli buah-buahan berbiji.
Sepetak tanah di belakang rumah Pak Saroji telah disiapkan untuk membuat persemaian. Biji buah yang disebarkan, ada pula yang ditanam di dalam polibek. Tanah dipupuk, dipetak-petak, dan diberi catatan penanaman. Seperti petugas pertanian. Ya, Pak Saroji sedang menyiapkan bibit buah-buahan. Tak sulit pula mengajak anak-anak membantu.
“Nah, anak-anak bulan ini pesta buah berahir. Kini kegiatan kita menguji ketahanan kaki dan tubuh!” bujuk Pak Saroji kepada anak-anak yang terlihat agak kecewa.
“Untuk apa, Kek? Menanam bibit?” tanya Rusli.
“Tepat sekali!” ujarnya sambil mengelus kepala anak-anak yang ada di dekatnya. “Nenek sudah menyiapkan makan siang dengan goreng ikan mas, sayur lodeh, sambal terasi, dan minuman kelapa muda. Nanti kalau kita sudah sampai ke ujung desa.”
Anak-anak sudah menyiapkan cangkul. Lima belas orang anak kini. Cukup banyak untuk mewujudkan cita-citanya. Pak Saroji tidak punya kebun, atau pekarangan yang luas. Jadi, bibit-bibit itu ditanam di kebun orang. Di pinggir pekarangan, di pematang, tepian sungai, dan tentu juga di lereng perbukitan belakang desa. Pak Saroji telah minta izin kepada pemilik lahan. Kegiatan itu dilakukan tiap hari minggu sampai semua benih dan bibit disebarkan. Anak-anak ternyata menikmati acara ini, sebab mereka dapat berpesta masakan Bu Saroji yang dikenal sangat lezat!
Begitulah cara Pak Saroji berusaha menanam kebaikan. Ia tidak mengharapkan imbalan dan pujian. Orang-orang kagum akan keluhuran budi Pak Saroji.
Kelak jika desa itu menghijau dengan pohon buah-buahan, panen melimpah, dan nama desa menjadi terkenal, orang tentu tak lupa akan Pak Saroji. Sayangnya orang seperti Pak Saroji ternyata tidak banyak.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: