Martina Si Penyihir Usil


Bu Ziwina, guru di sekolah Penyihir Cilik, menugaskan murid-muridnya mempraktekkan mantra yang baru saja ia ajarkan. Ia lalu meninggalkan ruangan.
Ruang kelas langsung dipenuhi gumaman para penyihir cilik yang mengucapkan mantra. Tiba-tiba… Jepret!
“Adaow!” Pilopo mengaduh. Ia menoleh. Tak perlu sudah-susah ia mencari siapa yang menjepretnya dengan karet gelang. Dipelototinya Martina yang pura-pura asyik mempraktekkan mantra sihirnya.
“Bil-bol-bil-bol…zuppa!!!” kata Martina. Mudah saja Martina mengubah tali rafia di mejanya jadi puluhan karet gelang warna-warni. Salah satunya tadi dipergunakan untuk mengusili Pilopo. Martina membalas pelototan Pilopo dengan cengiran usil.
“Huh!” dengus Pilopo. Ia kembali membaca mantra yang baru saja diajarkan oleh Bu Ziwina.
“Bil-bol-bi-bol….zupa!!!” ucap Pilopo. Tetapi ia sudah dapat menduga hasilnya. Mengapa tali rafianya tak bisa berubah jadi karet gelang? Padahal Martina mudah saja melakukannya.
Pilopo mengakui Martina memang pintar. Huh, kalau saja Martina tak suka mengusilinya, ia pasti tak akan malu-malu minta diajari oleh Martina. Tetapi kalau ia melakukan hal itu, maka sama artinya memberi kesempatan pada Martina untuk mengusilinya habis-habisan.
Pilopo masih ingat keusilan Martina padanya. Minggu lalu, setelah gagal berkali-kali mengubah sepatu jadi kelinci, ia mendatangi Martina.
“Martina, eh…bisa ajari aku mengucapkan mantra pengubah sepatu ini?” pinta Pilopo.
“Mengubah sepatu itu? hm, baiklah,” kata Martina cepat.
Pilopo tak menyangka Martina akan langsung menyanggupi permintaannya. Biasanya Martina akan mengusilinya terlebih dahulu.
“Ikuti ucapanku!” kata Martina serius, “Pio-no-pio-lo…humpa!!!”
“….humpa!!!” tiru Pilopo mantap.
Wusss! Dalam sekejap sepatu itu berubah menjadi kelinci seperti yang diinginkan Pilopo. Tetapi, TIDAK! Pilopo juga berubah menjadi kelinci!
“Tak ingat mantra tadi? Baru seminggu yang lalu diajari Bu Ziwina, kok sudah lupa?” ejek Martina.
Martina memungut Pilopo sambil tertawa geli. Pilopo yang sudah berubah menjadi kelinci tak bisa apa-apa ketika Martina memakaikannya baju boneka. Ia pun kemudian dipamerkan ke para penyihir. Mirip kelinci sulap.
“Betul ini adalah Pilopo?” tanya si Penyihir Jubah. Ia memegang-megang kaki kelinci Pilopo.
“Betul. Ia kuhukum karena tak becus mempelajari mantra sihir. Membuat malu bangsa penyihir saja,” kata Martina tegas.
“Hahaha, kamu pandai Martina,” puji para penyihir.
“Ya, sekaligus usil,” sambung penyihir yang lain sambil tertawa keras.
Para penyihir sebenarnya kasihan melihat Pilopo. Tetapi mereka tetap tak bisa menahan tawa ketika melihat pengaruh sihir terhadap Pilopo hilang. Tak henti-hentinya mereka tertawa melihat Pilopo tergesa-gesa menaiki sapu terbangnya.
“Hahaha, hihihi dia memakai baju boneka? Hahaha, hihihi,” tawa para penyihir.
Teringat hal yang memalukan itu, Pilopo makin tak konsentrasi mengucapkan mantranya. Gawat! Kalau Bu Ziwina kembali ke kelas, bisa-bisa ia yang dimarahi duluan.
“Mau kubantu?”
Pilopo terkejut ketika Martina tiba-tiba duduk di sebelahnya.
“Membantu? Mengusili, maksudmu?” tanya Pilopo sengit.
Tak peduli bentakan Pilopo, Martina menunjuk catatan mantra Pilopo, “Coba baca catatanmu dan ucapkan mantra ini sekali lagi.”
“Sekarang di dalam kelas. Tak mungkin Martina berani mengusiliku,” pikir Pilopo dalam hati. Ia pun membaca kembali catatannya seperti yang disuruh Martina, “Bil-bol-bi-bol…zupa!!!”
Tali rafia tetap tak mau berubah jadi karet gelang.
“Sekali lagi,” perintah Martina.
“Bi-bol-bi-bol…zupa!!!” ucap Pilopo nyaring. Tampaknya ia sudah putus asa. Apakah ia tak berbakat jadi penyihir? Wah, bisa-bisa ia dibuang dari negeri penyihir. Sereeem!!!
“Dengar mantraku baik-baik,” kata Martina akhirnya, “Bil-bol-bil-bol…zuppa!!!”
Tali rafia berubah jadi karet gelang.
Pilopo melongo. Kok bisa begitu?
Martina jadi gemas, “Pilopo! Masa belum mengerti, sih?”
Pilopo tambah bingung. Apa yang harus dimengerti? Yang ia tahu, Martina pintar, sedangkan ia bodoh. Martina bisa menyihir apa saja, ia tak punya bakat menyihir.
Cyut! Martina menjewer kuping Pilopo, “Kuberi tahu, ya. Kamu tidak bodoh! Tapi ceroboh!”
“Ceroboh?”
“Mungkin kamu menganggap mantra-mnatra pendek tak penting sehingga kamu ceroboh mencatatnya. Mantra bil-bol-bil-bol…zuppa, kamu catat bi-bol-bi-bol…zupa. Berapa huruf yang kamu hilangkan, tuh?!” omel Martina persis nenek sihir. “Pengucapan mantramu juga tak benar. Minggu lalu kamu mengucapkan pio-mo-pio-to…humpa. Padahal aku menyuruhmu mengucapkan pio-no-pio-lo…humpa. Hitung berapa huruf yang kamu ubah?!” sambung Martina.
Pilopo menepuk jidatnya sendiri, “Jadi, salahku sendiri ya hingga menjadi kelinci?”
Martina menarik napas dalam, “Aku juga salah, sih, karena mengusilimu. Aku minta maaf.”
Bu Ziwina sudah kembali ke kelas. Martina kembali ke bangkunya. Ia melirik Pilopo yang sedang memperbaiki mantra di buku catatannya.
“Ternyata Pilopo sudah sadar. Tapi aku masih bisa mengusilinya, kok,” pikir Martina, si penyihir, sambil tersenyum jenaka.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: