MAAFKAN DIRIMU, SISI

Sisi punya kenalan baru. Anak perempuan sebayanya bernama Lani. Mereka berkenalan di taman di dekat rumah mereka. Suatu kali, dompet Lani terjatuh di rumput dalam keadaan terbuka. Sisi melihat sebuah foto di dalamnya. Wah, ternyata Lani punya saudara kembar. Kenapa dia tak pernah cerita? Sambil mengamati foto itu, Sisi mulai berpikir tentang Lani. Mereka berkenalan seminggu lalu. Dalam waktu singkat, Lani berhasil mengubah sikap Sisi yang lama. Dingin dan kaku. Lani sangat ramah dan… agak cerewet. Awalnya Sisi sebal juga padanya. Lani datang tiap hari dan main berjam-jam di rumahnya. Alasannya, “Mumpung liburan.” Pada akhirnya, hati Sisi melunak dan mulai ikut banyak bercerita tentang dirinya.”Aku tahu kenapa waktu pertama kenal, sikapmu kaku dan murung,” ujar Lani membuat Sisi terperanjat. “Sampai kapan kamu menyalahkan diri sendiri? Boleh saja kamu sedih karena kematian Mbak Elsa. Tapi tidak selamanya kan? Mata Sisi membesar. “Kamu tak tahu rasanya…””Tahu!” potong Lani cepat. “Aku tahu rasanya kehilangan orang yang kita sayangi. Apalagi jika kita merasa bertanggung jawab atas kematiannya.”Sisi terdiam. Tak disangkanya Lani akan berkata seperti itu. Lani mengambil foto di dompetnya. “Ini foto terakhirku dengan Lina, saudara kembarku. Lina meninggal setahun lalu.” “Apa yang terjadi?” Sisi nyaris berbisik. “Hari itu kami akan bermain ke rumah teman. Kami harus melewati sungai. Aku ingin lewat jembatan gantung yang sudah agak lapuk. Lina ingin lewat jembatan beru. Aku ngotot ingin lewat jembatan gantung yang sudah lapuk, sebab jembatan baru itu jauh. Akhirnya Lina mengalah, kami lewat jembatan gantung itu. Ternyata bagian tengahnya sudah rusak parah. Tapi terlambat untuk kembali. Tiba-tiba Lina terperosok karena bambu yang diinjaknya terlalu lapuk. Dia jatuh, tapi aku berhasil memegang tangannya. Kami berteriak-teriak minta tolong. Tapi tak ada orang di sekitar sana…” Lani berhenti. Matanya berkaca-kaca. Dia berusaha melanjutkan ceritanya.”Aku berusaha keras menariknya. Tapi bambu yang kujadikan pegangan hampir patah. Lina tahu jika aku terus memegang tangannya, kami akan jatuh. Tanpa diduga, dia mencubit tanganku. Tanpa sadar aku melepaskan peganganku pada Lina. Lina … jatuh. Tubuhnya tertelan arus sungai yang deras. Aku segera mencari pertolongan. Tapi meski banyak orang yang ikut mencari, Lina tidak segera ditemukan. Ketika ditemukan dia…”Lani terisak pelan. Sisi ingin menghibur, tapi lidahnya kelu. “Aku sangat menyesal dan merasa bersalah. Sejak itu aku berubah. Aku jadi suka menyendiri dan tak mau bergaul. Tapi lama-lama aku sadar. Aku akan membuat Lina kecewa jika terus seperti itu…”Mereka berdua lama terdiam. Setelah Lani pamit pulang, Sisi menghempaskan dirinya ke tempat tidur. Air matanya mengalir deras. Kejadian setahun lalu berputar kembali dalam ingatannya. Dia dan Elsa, kakaknya, jalan-jalan di pusat pertokoan. Lalu lintas cukup ramai. Entah kenapa mereka terpisah waktu menyeberang. Ketika sadar Elsa tak bersamanya, Sisi mencari-cari. Dia tak tahu ada mobil ngebut yang datang ke arahnya. Sisi merasa tubuhnya didorong seseorang. Dia baru sadar apa yang terjadi ketika melihat Elsa terkapar di jalan. Ya, Elsa telah menyelamatkannya, tapi dia sendiri meninggal.”Itu kecelakaan. Jangan menyalahkan diri sendiri,” semua orang berkata begitu padanya. Tapi Sisi tak peduli nasihat mereka.

***

Liburan sekolah akhirnya usai. Di hari pertama masuk sekolah, Sisi sangat bersemangat. Ia akan memberi kejutan pada semua orang. Dia akan tampil sebagai Sisi yang ramah dan ceria, seperti dulu, sebelum kehilangan kakaknya. Sisi tertegun di pintu kelas. Ia melihat seseorang yang sangat dikenalnya duduk sendirian. “Lani!” Sisi nyaris terpekik. “Rupanya kita sekelas. Pantas kamu selalu merahasiakan sekolahmu. Mau bikin kejutan untukku?” Lani memandangnya linglung. “Oh, eh… kita pernah bertemu?” “Aduuh, jangan main-main lagi dong,” Sisi pura-pura kesal. “Aku tidak main-main. Namaku memang Lani. Tapi aku belum pernah ketemu kamu. Aku baru pindah ke sini dua hari lalu.” Sisi kesal. Tapi melihat Lani bersungguh-sungguh, dia menahan diri. Sisi menceritakan perkenalan mereka. Juga semua hal yang ia tahu tentang Lani.Wajah Lani memucat. “Kamu tahu semua tentang aku…” “Tentu saja. Kan kamu yang cerita.””Bukan. Sudah kukatakan, aku belum kenal kamu. Jangan-jangan…” Lani melanjutkan, “Semua ceritamu tentangku benar. Tapi ada satu hal yang salah. Aku berhenti menyalahkan diriku sejak aku mimpi bertemu Lina. Dia bilang, dia akan sedih jika aku tidak berubah.” Sisi mulai mengerti. “Jadi… yang bermain denganku seminggu ini…” Sisi terdiam, “Lina,” sambungnya dalam hati. Keduanya diam. Akhirnya Sisi tersenyum. Diraihnya tangan Lani. “Kedatangan Lina adalah anugrah buatku. Dimanapun dia sekarang, dia pasti sedang tersenyum melihat kita.” “Ya.” Lani tersenyum dengan mata berkaca-kaca. Tiba-tiba mereka merasa akan segera akrab. Seperti Sisi dan Lina sebelumnya.

2 Tanggapan so far »

  1. 1

    wahyu am said,

    nice😀


Comment RSS · TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: