Kyoko Si Pemarah

Malam itu pantai ramai sekali. Beberapa tenda biru dipasang sejajar. Mirip tentara baris. Beberapa anak mengitari api unggun sambil menyanyi dan berjoget. Ada juga yang iseng menaruh pasir di kepala temannya, kemudian lari menjauh sambil menggoda.
Di dekat karang besar, agak jauh dari api unggun, beberapa anak asyik mengumpulkan kerang. Meskipun repot membawa senter, ternyata seru juga mencari kerang beramai-ramai. Warna kerang makin berkilauan ditimpa cahaya senter.
“Lihat, Yuko! Mirip kerangku yang rusak dulu,” tunjuk seorang anak berbaju merah.
Yuko ikut mengagumi, “Hmm, kerang begini jarang ada. Beruntung kamu mendapatnya, Sayo.”
Sayo, anak berbaju merah itu mengangkat lebih tinggi kerang kuning gadingnya, “Setahun lebih aku tidak mengumpulkan kerang-kerang indah begini. Tidak ada saingan, kurang seru.”
“Sainganmu dulu kan Kyoko,” kata Yuko. Diliriknya wajah Sayo yang menegang, “Kyoko…si pemarah itu,” desis Yuko lagi.
Sayo melamun, mengingat kembali peristiwa setahun lalu…
Saat itu pamannya baru pulang liburan dari negara tropis. Dia membawa dua bungkusan mungil, oleh-oleh buat Sayo dan sepupunya, Kyoko.
“Dua bungkusan ini berbeda isinya. Tapi paman yakin kalian menyukainya,” katanya sambil menggoyang-goyang dua bungkusan itu.
Sayo dan Kyoko sulit untuk menentukan siapa yang lebih dulu berhak memilih. Kyoko menang. Dia memilih bungkusan berwarna merah. Isinya kalung manik-manik yang indah sekali. Kyoko senang dan lalu memakainya.
“Buka dong oleh-olehmu,” desaknya pada Sayo. Mata Sayo terbelalak saat membuka bungkusan hijau di tangannya. Isinya… puluhan kerang warna-warni yang luar biasa indahnya.
Kyoko iri melihatnya. Sekarang jumlah kerangnya kalah dengan milik Sayo. Mereka berdua memang punya hobi yang sama. Mengoleksi kerang. Keduanya bersaing mengumpulkan kerang yang berbeda warna dan bentuk sebanyak-banyaknya.
Karena gengsi, Kyoko menolak setika Sayo menawarkan sebagian kerang oleh-oleh itu. “Huh! Buat apa. Aku bisa cari sendiri!” katanya ketus. Sayo tak menawarkan lagi. Dia maklum akan sifat pemarah Kyoko.
Keesokan harinya marah-marah Kyoko belum hilang juga. Dia benci pada pamannya yang seolah-olah sengaja mempermainkannya, “Bawa oleh-oleh kok berbeda. Satunya berisi kerang, lagi! Apa Paman tidak tahu kalau aku dan Sayo bersaing mengumpulkan kerang.”
Sayo merasa lebih baik ia pura-pura tak tahu kemarahan sepupunya itu. Dia juga tidak mencari ketika sepanjang siang itu Kyoko menghilang. Paling-paling main sepatu roda di taman, tebaknya. Sayo cuma tersenyum mengingat Kyoko yang pernah marah-marah ketika sepatu rodanya selip dan menabrak tong sampah. Salahnya sendiri tidak melihat jalan.
Malam harinya, Kyoko kembali marah-marah di kamar. Terdengar suara barang dibanting. Sayo segera masuk ke kamar. Berantakan. Tampaknya Kyoko ngamuk.
“Kyoko…” panggil Sayo takut-takut.
Kyoko menatapnya sinis, “Kamu tak usah sok membagi kerang oleh-oleh Paman. Kenapa meletakkannya di kotakku?!”
Sayo jadi serba salah. Memang dia sengaja meletakkan kerang-kerang dari paman mereka di kotak kerang Kyoko. Maksudnya untuk kejutan. Tak tahunya Kyoko malah marah.
Crak! Crak! Begitu marahnya, Kyoko membanting kotak kerangnya dan menghancurkannya dengan tongkat kasti. Tak puas, dia ikut menghancurkan milik Sayo, “Kamu pikir aku tak bisa mendapatkan kerang sebagus milikmu?! Akan kucari sekarang juga.”
Kyoko berlari keluar. Sayo menyusul, “Awas, tangga itu!” Terlambat. Kyoko terguling hingga anak tangga terbawah. Jeritannya berhenti saat kepalanya menghantam keras pot batu di sisi tangga. Kyoko dibawa ke rumah sakit. Kepalanya mengalami luka dalam. Dia tak bertahan lama. Kyoko meninggal setelah koma beberapa saat.
Setelah Kyoko meninggal, Sayo tak lagi mengumpulkan kerang. Hingga setahun kemudian, sekolahnya menyelenggarakan darmawisata di pantai ini.
Sayo mengakhiri lamunannya…
“Kamu tahu Kyoko tak mau menerima kerangmu. Kenapa masih kamu letakkan juga di kotaknya?” tanya Yuko heran.
“Itu bukan milikku. Siang itu, saat Kyoko tak di rumah, pamanku datang lagi. Dia membawa satu kantung kerang, yang mirip oleh-olehnya untukku. Sebenarnya Paman membeli dua kantung kerang. Tapi yang satu nyelip entah di mana, dan baru ketemu siang itu. Katanya itu buat Kyoko.”
“Sekarang, bantu aku cari kerang yang sama dengan yang ini, ya?” pinta Sayo kemudian, “Akan kuletakkan satu di kuburan Kyoko. Mungkin dia tak suka. Tapi…dia tak mungkin menolak dan marah-marah lagi,” kata Sayo sedih.
“Sayang, ya… waktu itu Kyoko terlalu cepat marah. Jadi dia tidak tahu… Sayang sekali,” decak Yuko sambil mengarahkan senter ke air laut. Mencari kerang kuning gading.
Sementara itu, di atas batu karang, seorang anak berwajah pucat menatap sayu. Wajahnya mirip almarhum Kyoko…
“Kini aku telah tahu semuanya. Terima kasih mau membagi kerang kuning gading itu buatku, Sayo,” gumam anak berwajah pucat itu, “Akan kubantu mencarinya.” Pakaian putihnya berkibar saat dia menuruni batu karang. *****

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: