Kebanggaan Anggit


Didi berlari cepat menyusul Anggit.
“Jalanmu cepat sekali, Anggit!” komentar Didi sambil terengah-engah. “Ini pasti karena sarapanmu banyak. Jadi jalannya cepat!”
Anggit tertawa mendengarnya. “Makan banyak? Aku bisa tertidur di kelas!” sahut Anggit. Matanya tertumbu pada tas ransel di punggung Didi. “Ransel baru, ya?”
“Iya, Mama yang belikan kemarin,” jawab Didi. “Bagus tidak, Nggit?”
Anggi mengangguk. “Bagus. Harganya pasti mahal!”
Didi mengangkat bahu. “Mungkin. Soalnya aku tidak tanya, sih!”
Anggit tidak berkomentar lagi. Tapi hatinya berkata, betapa beruntungnya Didi. Ia bisa mendapatkan apa saja yang ia inginkan. Minggu lalu sepatu sekolahnya baru. Hari ini tas sekolah. Besok apalagi? Sedangkan aku, batin Anggit sambil menarik nafas. Jangankan tas baru. Sepatu sekolah butut ini saja belum diganti. Tuh lihat, ujungnya sedikit sobek dan warna hitamnya sudah memudar. Andai saja aku seperti Didi …
“Nggit,” tegur Didi kemudian. “Nanti sore aku ke rumah kamu , ya? Aku ingin belajar matematika lagi. Boleh, kan?”
“Silakan. Aku senang kok kamu mau belajar dengan aku.”
Didi tersenyum.
Malamnya Anggit melamun. Bahkan makan malamnya tidak dihabiskan.
“Kenapa, Nggit?” tanya Bapak heran. “Kamu sakit?’
Anggit menggeleng.
Ibu yang menjawab. “Anggit ingin sepatu dan tas baru.”
Bapak menghentikan makannya. “Kok tiba-tiba, Nggit?” tanyanya. “Anggit lagi butuh buku-buku pelajaran, kan?”
“Anggit memang butuh buku pelajaran,” jawab Anggit. “Tapi Anggit juga butuh sepatu dan tas baru, Pak.”
Bapak menggeleng. “Tidak bisa dua-duanya Anggit,” ujar Bapak. “Uang Bapak terbatas. Jadi kamu harus memilih, tidak bisa semuanya. Begitu kan, Bu?”
“Iya,” jawab Ibu. “Dan Ibu pikir, buku-buku pelajaran lebih penting dibanding tas dan sepatu baru.”
Anggit menatap Bapak dan Ibu bergantian. “Kenapa sih Anggit tidak bisa seperti Didi?” keluhnya. “Didi bisa mendapat apa yang dia mau kapan saja.”
Barulah Bapak dan Ibu mengerti penyebabnya.
“Didi itu kan anak orang berada, Nggit. Bapaknya kan pengusaha?” kata Ibu. “Sedangkan kita? Hidup kita sederhana, Anggit. Kamu harus belajar menerima keadaan.”
Anggit tampak belum puas.
“Satu hal yang mungkin terlupa oleh kamu, Nggit,” kali ini Bapak mencoba mengingatkan. “Didi memang lengkap secara materi. Tapi soal ilmu, kamu tidak kalah, kan. Kamu selalu rangking satu di kelas dan sekolah. Apa itu tidak lebih membanggakan?”
Anggit tak menyahut.
Keesokan harinya, Anggit melangkah malas-malasan. Di depan kelas langkahnya terhenti ketika mendengar namanya disebut-sebut dari dalam kelas.
“Kalian tahu tidak, berapa nilai matematika Anggit kemaren?” tanya Didi terdengar.
“Sepuluh!” jawab teman-teman yang lain serempak.
“Hah, sepuluh?” Dewa melongo. “Aduh, kapan ya aku bisa seperti dia?”
“Iya, ingin rasanya seperti Anggit. Tapi tidak bisa-bisa!” terdengar suara Astrid.
Di luar Anggit tercenung. Selama ini, bagi Anggit, nilai sepuluh itu sudah biasa. Sangat biasa, karena ia selalu mendapatkannya dengan mudah. Tapi ternyata tidak demikian bagi teman-temannya.
“Nah, kalian pasti juga ingin tahu nilaiku berapa?” tanya Didi terdengar menyombongkan diri.
Terdengar suara tawa teman-teman, “Yang jelas bukan sepuluh!” seru mereka.
Didi tersenyum. “Memang tidak! Tapi tidak sejelek dulu lagi,” sahutnya riang. “Nilaiku delapan!”
Teman-temannya kembali melongo. “Lo, kok bisa?”
“Ya bisa dong,” seru Didi. “Aku kan belajar sama Anggit!” sambungnya terdengar bangga.
Anggit jadi tercekat. Ia sama sekali tak menduka Didi sebangga itu padanya.
“Orangtua Anggit pasti bangga punya anak seperti dia,” kali ini suara Lastri.
“Bukan hanya orangtuanya. Anggit sendiri tentu juga bangga pada dirinya!” sambung Didi.
Bapak dan Ibu memang sangat bangga pada diriku, batin Anggit mengiyakan. Tapi kalau aku sendiri? Anggit menggeleng. Aku memandang diriku selalu kurang. Terutama dari segi materi.
“Mudah-mudahan saja Anggit juga bangga pada dirinya sendiri. Soalnya, selama ini kulihat Anggit selalu rendah diri. Padahal ….,” celetuk Dewa kembali terdengar.
Anggit kembali mengiyakan di dalam hati. Ia memang sering rendah diri. Karena tidak seperti teman-temannya yang punya seragam, tas dan sepatu bagus. Padahal kenapa harus rendah diri, sih? Ia kan memiliki apa yang tidak dimiliki teman-temannya itu. Yaitu … kecerdasan!
Bukankah kata Bapak dan teman-temannya itu lebih membanggakan?
Barulah Anggit menyadari kekeliruannya selama ini. Hatinya kini menjadi lega.
Belum pernah Anggit merasa sebahagia ini. Dengan langkah ringan ia kemudian masuk ke kelas.
“Selamat pagi teman-teman,” sapanya riang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: