Hutan Mimpi

Piet dan Tim tinggal di sebuah desa. Nenek mereka pernah bercerita. Konon, jika salju turun dengan lebat, maka para peri akan mengadakan pesta di hutan pada malam harinya. Konon pula, orang-orang yang pernah melihat pesta itu, tidak ada yang bisa kembali.
Sudah beberapa tahun belakangan ini, salju tidak turun lebat di desa Piet dan Tim. Namun, suatu hari, salju turun dengan sangat lebat.
“Tim, saljunya lebat sekali! Jika nanti malam hujan salju berhenti, berarti ada pesta peri di hutan. Aku ingin sekali melihatnya. Nanti malam, kita pergi diam-diam ke hutan, ya?!” usul Piet kepada Tim.
“Terlalu berbahaya! Hutan itu luas sekali. Kita bisa tersesat,” jawab Tim.
“Dasar penakut! Ya, sudah, aku akan pergi sendiri,” sahut Piet kesal.
“Jangan, terlalu berbahaya! Baiklah, aku ikut bersamamu,” jawab Tim.
Malamnya mereka mengenakan pakaian hangat dan membawa senter. Diam-diam mereka pergi ke hutan. Salju sangat tebal. Tiba-tiba saja Piet terantuk batu. Kakinya terkilir. Namun ia tetap berniat melanjutkan perjalanan. Saat itulah Piet melihat sinar kecil keemasan di balik punggung Tim. “Lihat, di belakangmu!” teriak Piet. Tim membalikkan badan. Seketika mereka berdua terpana. Sinar itu berasal dari tubuh peri kecil yang melayang memasuki hutan lebih dalam.
Segera mereka mengejar peri kecil itu. Piet seolah lupa pada rasa sakit di kakinya. Mereka terus berlari dan tiba di padang rumput luas di dalam hutan.
Di padang itu satu persatu peri mulai menampakkan diri. Sinar dari tubuh mereka bermacam-macam. Ada yang berwarna biru, merah dadu, emas, hijau… Mereka adalah peri angin. Kemudian muncul pula peri bunga dengan gaun indahnya yang terbuat dari kelopak bunga. Ada peri api yang datang dengan bunga api yang membara. Peri hutan, peri air, dan peri tanah pun tak ketinggalan. Semua berkumpul dan menari di padang rumput tersebut. Indah sekali. Piet dan Tim terkagum-kagum melihatnya.
Namun tiba-tiba salah seorang peri melihat mereka. “Ada manusia!” pekiknya. Seluruh peri memandang ke arah Piet dan Tim.
“Akan kumusnahkan mereka,” kata peri api. Tim dan Piet bergegas lari. Rombongan peri mengejar mereka dari belakang.
Piet dan Tim terus berlari namun tiba-tiba saja Piet terjatuh. Tim segera berdiri menghadang rombongan peri. “Jangan ganggu Piet! Kakinya sedang sakit! Jika berani, hadapi aku saja!” teriak Tim lantang. Piet yang kesakitan bersusah payah berdiri dan maju perlahan.
“Tidak! Jangan ganggu Tim! Ia tidak bersalah. Akulah yang nakal. Aku yang memaksanya untuk ikut denganku. Hukum aku saja! lepaskan dia!” teriak Piet tidak kalah lantangnya. Melihat itu rombongan peri menjadi terpana. Tak lama kemudian para peri itu tertawa terbahak-bahak.
“Apanya yang lucu?” teriak Piet kesal.
“Kalian berdua sungguh lucu. Yang satu berkata ingin melindungi yang lain sambil meringis kesakitan. Yang satunya lagi mengatakan hal yang sama dengan kaki gemetar. Lucu sekali!” jawab peri api sambil tertawa.
“Dengarlah anak kecil! Kami hanya menguji keberanian kalian. Tampaknya kalian dapat dipercaya. Kalau kalian bisa merahasiakan pertemuan ini, kami akan mengajak kalian ikut dalam pesta kami,” sahut Peri hutan.
“Tentu saja. Kami akan merahasiakannya baik-baik,” jawab Tim dan Piet bersamaan. Malam itu mereka bernyanyi dan menari bersama para peri. Mereka menikmati buah-buahan dan sari madu yang lezat.
Tak terasa fajar hampir menyingsing. “Kami harus segera pergi. Karena kalian anak baik, kami menghadiahkan kalian satu permintaan. Pikirkanlah baik-baik. Datanglah kapan saja ke hutan sesudah salju turun dengan lebat. Untunglah kalian anak baik. Sebab jika orang berhati jahat yang menemui kami, maka orang tersebut tidak akan pernah menemukan jalan keluar dari hutan ini. Sekarang pulanglah. Sampai berjumpa kembali,” ujar peri bunga diikuti peri yang lain. Kemudian satu persatu mereka menghilang. Tim dan Piet pulang ke rumah mereka masing-masing.
Sejak saat itu mereka tidak pernah melihat salju turun dengan lebat selama beberapa tahun. Mereka tetap menjaga rahasia tersebut. Berkali-kali mereka memikirkan tentang permintaan apa yang sebaiknya mereka minta. Namun tidak ada yang benar-benar sesuai. Sampai suatu hari Tim sakit keras. Umurnya diperkirakan tinggal dua bulan lagi. Mendengar hal itu hati Piet amat sedih. Tak disangka tahun itu salju turun bagitu lebat.
Dengan penuh harapan Piet berjalan ke dalam hutan. Ia menginginkan Tim sembuh kembali. Karena tergesa-gesa kakinya tergelincir. Piet jatuh terguling-guling dan terperosok ke dalam lubang yang cukup dalam. Kepalanya terbentur batu. Piet jatuh tak sadarkan diri. Orang tua Piet amatlah cemas. Mereka sudah mencarinya ke mana-mana namun Piet tidak juga ditemukan.
Secara tidak sengaja Tim mendengar berita hilangnya Piet. Tim menduga, Piet tentu pergi ke hutan menemui para peri. Dengan mengenakan pakaian tebal, Tim pergi ke hutan mencari Piet. Udara dingin dapat memperburuk kesehatannya namun ia tidak peduli. Tak lama kemudian ia menemukan lubang tempat Piet terjatuh. Tubuh Piet sudah tertimbun salju dan kepalanya mengeluarkan darah. Tim tidak dapat menolong Piet sebab lubang itu terlalu dalam. Akhirnya Tim melanjutkan perjalanannya ke dalam hutan. Ia ingin memohon kepada para peri untuk menyelamatkan Piet. Namun kondisinya semakin memburuk dan sebelum sampai ke tujuan ia pingsan.
Tim dan Piet bermimpi. Dalam mimpinya para peri berkata, “Kalian adalah anak yang baik. Persahabatan kalian sangat indah. Demi menyelamatkan sahabat kalian rela mengorbankan diri sendiri. Sesuai permohon kalian, kalian berdua akan selamat. Tidak ada yang akan meninggal.” Sesudah berkata demikian para peri mengangkat tubuh mereka dan mengantarkannya ke desa. Keajaiban itu disaksikan oleh seluruh warga desa. Ajaib, Tim dan Piet sembuh.
Sambil tersenyum Tim dan Piet melambai kepada para peri. Ketulusan mereka telah membuat para peri sangat terharu. Persahabatan mereka yang tulus terus berlanjut sampai tua.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: