Tiga Mantra, Satu Tenaga


Sekarang Anabela sudah berusia enam tahun. Di Negeri Peri Jelita, peri yang sudah berumur enam tahun dan tidak nakal, akan mendapat tiga mantra percobaan dari Peri Mulia, ratu para peri. Tiga mantra percobaan itu harus digunakan untuk kebaikan. Bila berhasil, akan diberikan mantra tambahan. Sebaliknya, bila salah mempergunakan mantra, si peri akan mendapatkan hukuman. Misalnya membersihkan kebun, membantu Peri Petani di ladang, menambal pakaian rusak pada Peri Penjahit, dan masih banyak lagi.
Hari itu Anabela sedang berjalan dengan riangnya. Mulutnya komat-kamit menghapalkan mantra yang baru diberikan Peri Mulia. Di tengah jalan, ia bertemu Sintabela yang membawa sekeranjang rumput. Sintabela baru mendapat hukuman, membantu Peri Penggembala. Sekeranjang rumput itu untuk makanan sapi-sapi di kandang.
“Wah, kamu kelihatan bahagia sekali, Anabela!” sapa Sintabela ramah.
“Ya, aku baru saja mendapatkan tiga mantra percobaan dari Peri Mulia,” balas Anabela riang.
“Selamat, ya. Kuharap kau bisa memakainya dengan baik. Tidak seperti aku yang membuat satu kesalahan,” ucap Sintabela tulus, “Waktu itu aku sebenarnya ingin melidungi sarang burung dari gangguan anak nakal. Eh, tapi ternyata aku malah membuat marah sekawan lebah karena sarangnya aku ganggu dengan mantraku. Lebah itu menyerang anak-anak nakal itu hingga mereka terpontang-panting,” cerita Sintabela sedih.
“Lain kali kau pasti bisa menggunakannya dengan baik. Terima kasih atas nasehatmu, Sintabela,” ujar Anabela lantas melanjutkan perjalanan. Ia sudah tak sabar ingin menggunakan mantranya!
Pada sebuah tikungan, Anabela melihat pedati yang penuh gandum. Pedati itu tidak bisa berjalan karena sapi penariknya kelelahan. Pak Pedati pun tampak putus asa. Sapinya tidak mau bergerak. Apalagi jalan agak mendaki.
Anabela memperhatikan Pak Pedati dari tempat persembunyiannya. Dia ingin menolong Pak Pedati dengan mantra pertamanya. Tapi dia tidak boleh ketahuan manusia.
“Kulama… kulama…” Anabela mengucapkan mantra pertama sambil mengerahkan tangannya ke pedati. Tiba-tiba pedati itu bergerak karena sapinya mulai mau berjalan. Ya, Anabela membuat beban pedati menjadi ringan. Pak Pedati pun melanjutkan perjalanannya dengan gembira.
Ketika berjalan di pinggir sungai, Anabela melihat Pak Pengail yang sedang bersedih. Ia belum mendapatkan ikan sejak pagi.
“Padahal keluargaku perlu lauk untuk makan siang nanti. Dan sisanya akan kujual di pasar. Tentu anak-anakku akan kecewa,” gumam Pak Pengail murung. Anabela sedih mendengarnya.
“Birdapa… birdapa…!” Anabela mengucapkan mantra kedua. Tangannya diarahkan ke kail. Tak lama kemudian terdengar seruan Pak Pengail.
“Oh, aku dapat ikan!” seru Pak Pengail riang. Anabela berlalu sambil tersenyum. Hari itu Pak Pengail pasti akan dapat banyak ikan.
Anabela melewati sebuah hutan kecil. Ia melihat seorang nenek pencari kayu bakar. Jalannya tertatih-tatih. Agaknya kayu bakar yang dibawanya berat sekali. Anabela tidak tega melihatnya.
“Uramba… uramba…!” Anabela mengucapkan mantra ketiga. Tangannya diarahkan ke tumpukan kayu bakar yang dibawa si nenek. Nenek itu agak heran karena beban yangdibawanya terasa ringan. Ia tahu ada yang menolongnya. Tapi entah siapa. Si nenek melanjutkan langkahnya dengan ringan dan gembira.
Di tempat persembunyiannya, Anabela tersenyum puas. Hari itu dia telah berhasil mempergunakan mantranya dengan baik. Berarti nanti dia akan mendapatkan tiga buah mantra lagi. Oh, betapa senang hati Anabela.
Setiba di perkampungan penduduk, tiba-tiba Anabela mendengar tangis seorang anak kecil. Anabela mendatangi rumah asal suara itu. Tangis anak itu tidak juga berhenti. Anabela mengintip lewat jendela. Tidak ada orang lain selain anak itu. Mungkin dia baru bangun.
Anabela mendekati anak kecil itu. Umurnya kira-kira satu tahun. Anabela membujuknya agar berhenti menangis. Tapi tidak berhasil. Anabela mulai kesal. Coba kalau mantranya belum habis, tentu dia akan menyihir agar mainan anak itu menjadi hidup. Dan mainan-mainan itu yang akan menghibur anak kecil itu.
Tapi Anabela tidak putus asa. Ia mulai bernyanyi sambil menari-narikan boneka badut dengan tangannya. Anak kecil itu mulai diam. Anabela lalu menunggang boneka kedelai kian kemari dan menari-nari jenaka. Anak kecil itu mulai tertawa. Anabela senang melihatnya. Ia lalu menerbangkan sebuah boneka burung dengan tangannya. Suaranya mendengung-dengung seperti lebah. Anak kecil itu bertepuk-tepuk tangan dengan riang.
Akhirnya anak kecil itu mau bermain sendiri. Tapi Anabela malah terbaring kelelahan. Keringatnya bercucuran. Napasnya memburu. Tiba-tiba terdengar suara pintu dibuka. Anabela buru-buru menyelinap pergi.
“Oh, Si Kecil sudah bangun. Ibu ke pasar membeli susumu,” ujar wanita itu. Anak kecil itu tertawa senang. Diam-diam Anabela meninggalkan rumah itu. Tugasnya hari itu telah selesai dengan baik.
Tapi ada kejutan untuk Anabela begitu ia tiba di Negeri Peri Jelita.
“Bagus Anabela. Kamu berhasil mempergunakan mantramu dengan baik. Aku akan memberikan tiga mantra lagi untukmu,” ujar Peri Mulia,” Ditambah tiga mantra lagi sebagai hadiah,” lanjut Peri Mulia. Anabela ternganga tidak mengerti. Tiga mantra hadiah?
“Kamu mempergunakan tenaga sendiri ketika mengasuh anak kecil itu, Anabela. Itu juga sebuah kebaikan,” kata Peri Mulia.
“Ya, ya, terima kasih, Peri Mulia,” ucap Anabela senang. Dia mendapat enam mantra hari itu! Tapi… hari itu Anabela lebih memilih beristirahat. Sebab dia lelah sekali.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: