Arsip untuk Penemu – ensiklopedia

Penemu Fondasi Sarang Laba-laba

Nama:
Ir Sutjipto
Lahir:
Trenggalek
Agama:
Islam
Jabatan:
Sekretaris Jenderal PDI-P
Wakil Ketua MPR-RI
Keahlian:
Penemu Teknik Fondasi Sarang Laba-laba

Pendidikan:
S1 Insitut Teknologi Surabaya (ITS)

Alamat Rumah
Jl. Denpasar Raya Blok C-III/12 Jakarta Selatan

Penemu Fondasi Sarang Laba-laba

Insinyur Sutjipto, penemu teknik fondasi sarang laba-laba, ini lebih populer sebagai politisi ketimbang bidang konstruksi keahliannya. Nama pria kelahiran Trenggalek ini mencuat kepermukaan saat terjadinya konflik dalam tubuh PDI Jawa Timur. Sutjipto memilih mendukung DPP PDI pimpinan Megawati Soekarnoputri. Pilihan ini mengantarkannya menjabat Sekjen PDI-P dan Wakil Ketua MPR.

Mantan bendahara DPD PDI Jawa Timur ini menjadi Ketua PDI Jawa Timur menurut SK 043 yang dikeluarkan Megawati Soekarnoputri, menggantikan Latief Pudjosakti. Kubu Latief yang ‘berpihak’ pada pemerintah Orde Baru menolak pengangkatan Sutjipto. Jadilah kepengurusan ganda DPD Jawa Timur. Sutjipto yang berlatar ”pekerja intelektual” ini sesungguhnya orang yang cukup berpengaruh dalam sukses PDI Jawa Timur menambah lima kursi tambahan pada Pemilu 1992 sebelumnya.

Ia pun memimpin kader dan simpatisian PDI di Jawa Timur melawan campur tangan pemerintah dalam tbuh PDI. Dia pun memindahkan markas PDI ke kantor CV Bumi Raya, perusahaan jasa konstruksi miliknya. Sebab kantor lama masih dikuasai kubu Latief Pudjosakti. Sebuah bentuk perlawanan kepada pemerintah yang otoriter sekaligus sebagai wujud dukungan kepada kepemimpinan Megawati yang didukung oleh arus bawah.

Pilihannya membela dan menjunjung demokrasi itu, telah mengantarkan lulusan Insitut Teknologi Surabaya (ITS) yang kemudian menemukan teknik fondasi sarang laba-laba, ini menjadi seorang politisi kaliber nasional. Ahli konstruksi yang temuannya antara lain dipakai di Bandara Hang Nadim, Batam, ini akhir lebih mengalir bicara politik ketimbang bidang konstruksi yang juga digelutinya.

Memang, kehidupan politik (berorganisasi) bukan hal baru baginya. Sejak di SMA tahun 1964, ia sudah aktif di Gerakan Siswa Nasional Indonesia. Kemudian saat kuliah di ITS, ia aktif di Komisariat Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia,hingga menjabat menjabat wakil sekretariat GMNI Jawa Timur (1971). Pada tahun 1986, ia pun mulai aktif di PDI. Lalu, dua tahun kemudian terpilih sebagai bendahara PDI Jawa Timur.

Leave a comment »

Penemu Biochip Kedokteran

Nama:
Joko Sasmito
Lahir:
D
Isteri:
I
Anak:
- Ida Saraswati (23)
- Dika Sistrandari (21)
- Sikla Estiningsih (19)
- Agus Siklawida (16)
- Tifa Siklawati (11)

Pekerjaan:
- Peneliti, penemu biochip
- Mantan Dosen Kimia di Universitas Gadjah Mada

Penemu Biochip Kedokteran

Ilmu pengetahuan mampu menjelaskan hal-hal yang semula dianggap tak mungkin menjadi mungkin. Melalui ilmu pengetahuan pula Joko Sasmito berhasil menciptakan biochip, yang dalam perkembangannya sangat bermanfaat bagi dunia kedokteran. Semua berawal dari Siklus Kaifa.

Sejumlah produk teknologi yang bermanfaat untuk kesehatan telah dibuatnya bersama kelima anaknya. Alat-alat ini antara lain pengetes gelombang otak, pengetes emosi diri, pengetes penyakit kanker getah bening dan kanker hati, magnetic resonance imaging (MRI), alat pemeriksa saraf, otot, dan jantung, serta modem.

Produk yang disebut terakhir ini belakangan direncanakan untuk diproduksi dalam jumlah lebih banyak. Produk ini sendiri merupakan hasil penelitian selama delapan tahun oleh keluarga Joko bersama sejumlah tetangga yang tergabung dalam santri Isiteks (Islam Teknologi dan Seni) di Imogiri, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Penemuan-penemuan teknologi di bidang kedokteran ini sebenarnya bukanlah tujuan awal Joko. Mantan Dosen Kimia di Universitas Gadjah Mada ini bersama sejumlah santri semula bermaksud menciptakan alat-alat elektronik mini yang dapat menghemat ruang.

Dalam perkembangan kegiatan penelitiannya, Joko malah lebih dulu berhasil menciptakan biochip sebagai alat pengetes kesehatan tubuh, yang sangat bermanfaat di bidang kedokteran, serta biochip sebagai alat terapi.

Biochip adalah benda organik sebagai materi inti. Ramuan dari sari hewan dan tumbuhan ini diracik hingga menjadi hanya seberat kurang dari satu gram, lalu dilekatkan pada lempengan kecil kawat, dan disambungkan oleh media penghantar berupa lembaran-lembaran kabel. Alat ini berbeda dengan biochip-biochip lain yang, meski juga dibuat sebagai hasil teknologi, bahan utamanya dari anorganik.

Pada setiap kegiatan pengecekan dan terapi kesehatan terhadap pasien-pasiennya, Joko mentransfer materi inti pengobatan ini lewat gelombang (udara maupun listrik), disalurkan ke tubuh penderita.

Hantaran energi melalui gelombang ini pada tahap berikutnya, memampukan Joko mengobati pasien secara jarak jauh. Dengan menggunakan telepon biasa ataupun seluler, pengobatan yang berpusat dalam sistem komputer di rumahnya akan dihantar masuk ke pasien melalui gelombang.

”Saya berpikir bahwa ilmu dapat dimanfaatkan seluas-luasnya. Dan, bentuk pengobatan ini sangat dapat dijelaskan secara ilmiah,” tuturnya.

Empat dalil
Kita mungkin akan tak percaya bagaimana terapi biochip yang ditransfer lewat gelombang bisa menyembuhkan seseorang. Namun, Joko dapat menjelaskan secara ilmiah atas setiap produk temuannya.

Teori Siklus Kaifa menjadi dasar untuk setiap penemuan ini. Siklus ini mengacu pada salah satu ayat dalam sebuah surat di Al Quran. Ayat ini diterjemahkan menjadi empat dalil, yaitu adaptasi, filter, kecocokan, dan nilai integrasi. Setiap uji coba yang dilakukannya melalui empat dalil tersebut dan akhirnya menghasilkan karya chip non-bio. Namun, dalam perkembangannya, dia mengkreasikan chip dengan racikan bahan-bahan organik.

Tujuan Joko adalah supaya racikan bahan biochip ini tidak dapat ditiru tanpa harus dipatenkan. Kelebihan biochip ini adalah memiliki kepekaan lebih tinggi dalam mendeteksi suatu penyakit.

Joko mendidik lima anaknya untuk menjadi peneliti sekaligus penemu di bidang iptek meski mereka harus keluar dari sekolah formal. Ida Saraswati (23), anak pertama, kini telah membuat banyak perangkat lunak atau software dan Dika Sistrandari (21), Agus Siklawida (16) serta Tifa Siklawati (11) sebagai pembuat komponen data atau hardware. Adapun kemampuan membuat biochip diturunkan kepada anak ketiganya, Sikla Estiningsih (19).

Menurut Joko, merupakan pergumulan besar saat harus memberi pilihan bagi anak-anaknya untuk bersekolah formal atau belajar padanya. Saat anak-anak ini memutuskan untuk belajar pada Joko dan keluar dari sekolah masing-masing, tumbuh kesadaran akan konsekuensi bahwa kelimanya takkan memiliki ijazah pendidikan. ”Memang ada konsekuensi atas setiap pilihan,” tutur Sikla, anak ketiga.

Saat Kompas berkunjung kedua kalinya, sekira pertengahan bulan Januari, Joko tengah sibuk mengurusi salah seorang pasiennya yang sakit kritis. Hasil identifikasi biochip yang terpampang lewat komputer menunjukkan pasien tersebut mengidap penyakit kanker hati.

Komputer lainnya dipakai mendeteksi gerak jantung yang melambat, juga melalui biochip. Lalu, sebuah biochip lagi dipasang untuk menurunkan tingkat entropi (kerentaan fungsi organ). ”Kalau sudah kondisi darurat, kami harus gerak cepat menolong pasien,” tuturnya. (Irma Tambunan, Kompas, 27 Januari 2006)

Leave a comment »

Ahli Radar Dunia, Putera Indonesia

Nama:
Liem Tiang Gwan
Lahir:
Semarang, 20 Juni 1930

Ahli Radar Dunia, Putera Indonesia

Liem Tiang Gwan, putera Indonesia kelahiran Semarang, 20 Juni 1930, ini seorang ahli Radar (radio detection and ranging)yang mendunia. Radar rancangannya banyak digunakan untuk memantau dan memandu naik-turunnya pesawat di berbagai belahan dunia. Bahkan militer di banyak negara Eropa menggunakan jasanya untuk merancang radar pertahanan yang pas bagi negaranya.

Liem Tiang-Gwan, sudah puluhan tahun bergelut dan malang melintang dalam dunia antena, radar, dan kontrol lalu lintas udara. Namanya sudah mendunia dalam bidang radar, antena, dan berbagai seluk-beluk sistem gelombang elektromagnetik yang digunakan untuk mendeteksi, mengukur jarak, dan membuat peta benda-benda, seperti pesawat, kendaraan bermotor, dan informasi cuaca.
”Sekolah saya dulu berpindah-pindah. Saya pernah di Jakarta, lalu di Taman Siswa Yogyakarta, kemudian menyelesaikan HBS (Hoogere Burgerschool) di Semarang tahun 1949. Setelah itu, saya masuk Institut Teknologi Bandung dan meraih sarjana muda tahun 1955. Saya melanjutkan studi di Technische Universiteit (TU) Delft, lulus tahun 1958,” ujar pria yang kini bermukim di kota Ulm, negara bagian Bavaria, Jerman.
”Lalu saya ke Stuttgart dan bekerja sebagai Communication Engineer di Standard Elektrik Lorenz, yang sekarang dikenal dengan nama Alcatel,” kata Liem.
Meskipun sudah bekerja dan mendapatkan posisi yang lumayan, Liem muda masih berkeinginan untuk kembali ke Tanah Air. Ia masih ingin mengabdikan diri di Tanah Air. Maka, tahun 1963 ia memutuskan keluar dari tempatnya bekerja di Stuttgart dan kembali ke Indonesia. ”Apa pun yang terjadi, saya harus pulang,” ujarnya mengenang.
Hidup berubah
Niat untuk kembali ke Tanah Air sudah bulat. Barang-barang pun dikemas. Seluruh dana yang ada juga dia bawa serta. Liem muda menuju pelabuhan laut untuk ”mengejar” kapal yang akan menuju Asia dan mengantarnya kembali ke Tanah Air. Kapal, itulah sarana transportasi yang paling memungkinkan karena pesawat masih amat terbatas dan elitis.
Namun, menjelang keberangkatan, Liem mendapat kabar bahwa Indonesia sedang membuka konfrontasi dengan Malaysia. Karena itu, kapal yang akan ditumpangi tidak berani merapat di Tanjungpriok, Jakarta. Kapal hanya akan berlabuh di Thailand dan Filipina. Maka, bila Liem masih mau kembali ke Indonesia, ia harus turun di salah satu pelabuhan itu.
”Saat itu saya benar-benar bingung. Bagaimana ini? Ingin pulang, tetapi tidak bisa sampai rumah, malah terdampar di negeri orang. Saya memutuskan untuk membatalkan kepulangan. Seluruh koper dan barang bawaan diturunkan lagi, padahal saat itu uang sudah habis. Tetapi dari sinilah, seolah seluruh hidup saya berubah. Saya kembali lagi bekerja di Stuttgart sebagai Radar System Engineer di AEG-Telefunken. Perusahaan ini sekarang menjadi European Aeronautic Defence and Space (EADS),” katanya.
Sejak itu, karier Liem di bidang gelombang elektromagnetik dan dunia radar semakin berkibar. Setelah bekerja di EADS, ia diminta menjadi Kepala Laboratorium Radarsystem-theory tahun 1969-1978, disusul kemudian Kepala Seksi (bagian dari laboratorium), khusus menangani Systemtheory and Design, untuk sistem radar, pertahanan udara, dan Sistem C3 (Command Control Communication). Sebelum pensiun pada tahun 1995, Liem masih menjabat sebagai Kepala Departemen Radar Diversifications and Sensor Concepts.
”Meski sudah pensiun, hingga tahun 2003 saya masih diminta menjadi consulting engineer EADS,” tambahnya.
Paten
Perannya yang amat besar dalam bidang radar, sensor, dan gelombang elektromagnetik membawa Liem untuk mematenkan sejumlah temuannya. Puluhan temuannya diakui berstandar internasional, kini sudah dipatenkan.
”Yang membuat saya tergetar, ketika menyiapkan Fire Control and Battlefield Radars, Naval Fire Control Radar dan sebagainya. Ini kan untuk perang dan perang selalu membawa kematian. Juga saat saya merancang MSAM Systems: Hawk Successor; Airborne High Vision Radar dan sebagainya,” kata Oom Liem.
Dia menambahkan, ”Saya sendiri sudah tidak ingat lagi berapa rancangan radar, antena, dan rancangan sinyal radar yang sudah saya patenkan. Itu bisa dibuka di internet.”
Indonesia
Secara sederhana, ilmu tentang elektro yang pernah ditekuni selama belajar, coba dikembangkan oleh Om Liem. Dalam sistem gelombang radio atau sinyal, misalnya, ketika dipancarkan, ia dapat ditangkap oleh radar, kemudian dianalisis untuk mengetahui lokasi bahkan jenis benda itu. Meski sinyal yang diterima relatif lemah, radar dapat dengan mudah mendeteksi dan memperkuat sinyal itu.
”Itu sebabnya negeri sebesar Indonesia, yang terdiri dari banyak pulau, memerlukan radar yang banyak dan canggih guna mendeteksi apa pun yang berseliweran di udara dan di laut. Mata telanjang mungkin tidak bisa melihat, apalagi dengan teknologi yang semakin canggih, pesawat bisa melintas tanpa meninggalkan suara. Semua itu bisa dideteksi agar Indonesia aman,” tambah Liem.
Akan tetapi, berbicara mengenai Indonesia, Liem lebih banyak diingatkan dengan sejumlah kawan lama yang sudah sekian puluh tahun berpisah. ”Tiba-tiba saja saya teringat teman-teman lama, seperti Soewarso Martosuwignyo, Krisno Sutji, dan lainnya. Saya tidak tahu, mungkinkah saya bertemu mereka lagi?” ujarnya sambil menerawang jauh melalui jendela kaca di perpustakaan pribadinya. (Tonny D Widiastono, Kompas, Selasa, 29 Juli 2008)

Leave a comment »

Penemu Kapal Ikan Bersirip

Nama :
Prof Dr Ir Alex Kawilarang Warouw Masengi MSc Nusantara
Lahir :
Desa Kinilou, Tomohon, Sulut 13 Juni 1958
Agama:
Kristen
Isteri:
Ixchel Peibie Mandagie MSi (Dosen Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Unsrat)
Anak:
Kesihi, Shinji, Etsuko dan Akira.

Pendidikan :
= Sekolah Dasar di Desa Kinilou 1971
= Sekolah Teknik Pertama lulus tahun 1974. = Sekolah Usaha Perikanan Menengah di Manado lulus 1977
= Fakultas Perikanan Unsrat lulus 1984
= Program master di Faculty of Fisheries Nagasaki University pada tahun 1990
= Doktor dari The Graduate School of Marine Science and Engineering Nagasaki University, Jepang, tahun 1993.

Pekerjaan:
= Dekan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Sam Ratulangi (Unsrat), Manado
= Dosen tamu pada berbagai universitas di Jepang dan Perancis
= Anggota konsultan pembuatan kapal Nagasaki Dream, dan konsultan pembuatan kapal layar Michinoku-Indonesia
= Konsultan teknik pada Reedbed Technology, Liverpool, Inggris

Kegiatan Lain:
= Wakil Ketua Komisi Pemuda GMIM (Gereja Masehi Injili di Minahasa)

Alamat Kantor :
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Sam Ratulangi (Unsrat), Manado
Jl. Kampus Unsrat Bahu. Manado 95115.

Sumber:
Kompas Jumat, 07 Januari 2005 (Freddy Roeroe)

Penemu Kapal Ikan Bersirip

Doktor dari The Graduate School of Marine Science and Engineering Nagasaki University, Jepang (1993), ini adalah penemu teknologi kapal ikan bersirip. Temuan pria bernama lengkap Prof Dr Ir Alex Kawilarang Warouw Masengi MSc kelahiran Desa Kinilou, Tomohon, 13 Juni 1958, ini sudah dipatenkan di Jepang.

Suami dari Ixchel Peibie Mandagie MSi (juga dosen Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Unsrat), ini diilhami ikan terbang dalam menemukan teknologi perkapalan tersebut. Ikan itu dapat terbang jauh bagaikan pesawat udara yang melayang rendah di atas permukaan air laut.

Dia tertarik ketika mengamati bentuk tubuh dan sirip ikan terbang antoni (torani). Ikan itu dapat melayang di atas permukaan air laut. Tubuhnya terangkat melalui pergerakan sirip yang relatif panjang dan dorongan pergerakan tubuhnya sendiri.

Pakar teknik perkapalan perikanan, ini mengamati ikan antoni memiliki bentuk tubuh yang relatif unik, mulai dari kepala, badannya yang montok, pergelangan ekornya serta seluruh siripnya.

Bentuk tubuh dan sifat-sifat khas ikan antoni itulah yang ia terapkan ke dalam desain badan kapal ikan, berikut pemasangan sirip pada bagian lambung kapal. Hasilnya, tingkat kestabilan kapal ikan relatif menjadi lebih tinggi apabila dibandingkan dengan jenis kapal ikan lain.

Sejumlah pengkajian dan uji coba stabilitas kapal ikan yang menggunakan sirip ini sudah dilakukannya sejak 16 tahun terakhir.  Pengkajian dan pengujian dilakukan di Laut Cina Timur, Teluk Ohmura Nagasaki, perairan Jepang Timur, Teluk Manado dan perairan di sekitar Kota Bitung. Hasilnya, stabilitas kapal ikan bersirip rata-rata melebihi kapal ikan biasa.

Selain itu, pengujian laboratorium juga dilakukan di beberapa laboratorium ternama, seperti Laboratorium kapal ikan di Fakultas Perikanan Hokkaido University, Japan Fisheries Engineering Laboratory, Faculty of Ship Building Soga University, Nagasaki.

Hasil pengujian stabilitas terhadap kapal ikan tipe sabani dari Okinawa dengan menggunakan sirip dalam kondisi statis meningkat 17 persen. Adapun saat kapal dalam kondisi dinamis atau bergerak, tingkat stabilitasnya naik menjadi 22 persen.

Metode yang sama, diujicobakan pula pada beberapa kapal ikan tipe pamo yang biasa digunakan para nelayan Sulawesi Utara, baik dalam ukuran nyata maupun dalam skala model. Dari hasil pengujian diperoleh hasil stabilitas kapal pamo dalam kondisi statis meningkat 19 persen dan dalam kondisi dinamis meningkat 28 persen.

Berdasarkan semua pembuktian itu, temuan teknologi kapal ikan bersirip yang desainnya didasarkan pada bentuk tubuh ikan antoni itu, Alex  mematenkan atas namanya sendiri di Jepang.

Sebuah perusahaan galangan kapal di Jepang saat ini sedang bersiap memproduksi massal kapal-kapal ikan bersirip yang didasarkan pada model atau teknologi temuan Alex itu. Makanya, di Jepang namanya tercatat sebagai anggota konsultan pembuatan kapal Nagasaki Dream, dan konsultan pembuatan kapal layar Michinoku-Indonesia. Juga menjadi konsultan teknik pada Reedbed Technology, Liverpool, Inggris.

Alex secara rutin juga menjadi pembicara dan dosen tamu pada berbagai universitas di Jepang dan Perancis. Dia juga sering menyampaikan makalah ilmiah di berbagai universitas ternama di Jepang, Belanda, Inggris, dan Amerika Serikat.
Alex tumbuh di dalam keluarga petani. Ia dilahirkan dan dibesarkan dalam lingkungan pertanian di kaki Gunung (api) Lokon, Desa Kinilou, Tomohon, Sulawesi Utara. Ia akrab dengan pertanian palawija, hortikultura,serta budidaya tambak air tawar. Sehingga ahli kelautan ini tetap cinta alam pegunungan.

Rumahnya yang sederhana dikelilingi tambak atau telaga lengkap dengan budidaya ikan mas dan mujair. Di bagian depan rumah tampak beberapa rumpun pohon bambu yang ikut menambah semarak lingkungan rumahnya.

Ayah empat anak, yaitu Kesihi, Shinji, Etsuko dan Akira, ini bahkan memanfaatkan lokasi rumahnya di alam pegunungan yang sejuk sebagai tempat pertemuan para dosen Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Ia sering menerima tamu di rumahnya yang dikelilingi tambak air tawar itu.

Alex menyelesaikan pendidikan sekolah dasar di Desa Kinilou pada tahun 1971, kemudian melanjutkan ke sekolah teknik pertama dan lulus tahun 1974. Selanjutnya ia meneruskan pendidikan di Sekolah Usaha Perikanan Menengah di Manado dan lulus pada 1977.

Setelah sempat bekerja di sebuah perusahaan perikanan, Alex melanjutkan pendidikannya ke Fakultas Perikanan Unsrat dan lulus tahun 1984. Ia mengikuti program master di Faculty of Fisheries Nagasaki University pada tahun 1990 dan meraih gelar doktor di The Graduate School of Marine Science and Engineering Nagasaki University, Jepang, tahun 1993.

Selain aktif dalam dunia pendidikan, Alex juga dikenal luas di Sulawesi Utara karena aktivitasnya di berbagai organisasi pemuda. Antara lain,dia tercatat sebagai Wakil Ketua Komisi Pemuda GMIM (Gereja Masehi Injili di Minahasa), salah satu gereja terbesar di Kawasan Timur Indonesia. Ia juga menjadi anggota tim akademisi muda Unsrat yang aktif menjelaskan posisi, visi, dan misi Unsrat ke depan

Leave a comment »

Penemu Terbesar Dunia

Nama:
Thomas Alva Edison
Lahir:
Milan, Ohio, Amerika Serikat, 11 Februari 1847
Meninggal:
West Orange, New York, pada tanggal 18 Oktober 1931
Penemuan:
3000 penemuan antara lain lampu listrik
Ayah:
Samuel Ogden (keturunan Belanda)
Ibu:
Nancy Elliot

Penemu Terbesar Dunia

Thomas Alva Edison, seorang penemu terbesar di dunia. Bayangkan, ia menemukan 3.000 penemuan, diantara-nya lampu listrik, sistim distribusi listrik, lokomotif listrik, stasiun tenaga listrik, mikrofon, kinetoskop (proyektor film), laboratori-um riset untuk industri, fonograf (berkembang jadi tape-recorder), dan kinetograf (kamera film).

Ia anak bungsu dari tujuh bersaudara, lahir tanggal 11 Februari 1847 di Milan, Ohio, Amerika Serikat. Buah perkawinan Samuel Ogden, keturunan Belanda dengan Nancy Elliot. Sebagaimana umumnya orangtua, Samuel dan Nancy menyambut kelahiran anaknya dengan suka-cita. Tidak ada hal aneh dalam proses kelahiran anak ini. Namun setelah anak ini mulai bertumbuh, terlihat hal-hal ‘aneh’ yang membuatnya lain dari anak yang lain. Bayangkan, pada usia enam tahun ia pernah mengerami telur ayam.

Setelah berumur 7 tahun, ia masuk sekolah. Tapi malang, tiga bulan kemudian ia dikeluarkan dari sekolah. Gurunya menilainya terlalu bodoh, tak mampu menerima pelajaran apa pun. Untunglah ibunya, Nancy, pernah berprofesi guru. Sang ibu mengajarnya membaca, menulis dan berhitung. Ternyata anak ini dengan cepat menyerap apa yang diajarkan ibunya.

Anak ini kemudian sangat gemar membaca. la membaca berbagai jenis buku. Berjilid-jilid ensiklopedi dibacanya tanpa jemu. Ia juga membaca buku sejarah Inggris dan Romawi, Kamus IPA karangan Ure, dan Principia karangan Newton, dan buku Ilmu Kimia karangan Richard G. Parker.

Selain itu, ia juga anak yang sangat memahami kondisi ekonomi orangtuanya. Pada umur 12 tahun ia tak enggan jadi pengasong koran, kacang, permen, dan kue di kereta api. Sebagian keuntungannya diberikan kepada orang tuanya. Hebatnya, saat berjualan di dalam kereta api itu, ia gemar pula melakukan berbagai eksprimen. Bahkan sempat menerbitkan koran Weekly Herald. Suatu ketika, saat bereksprimen, sebuah gerbong hampir terbakar karena cairan kimia tumpah. Kondektur amat marah dan menamparnya hingga pendengarannya rusak.

Kemudian sejarah ilmu pengetahuan mencatat nama orang yang hidup tahun 1847-1931 ini (meninggal di West Orange, New York, pada tanggal 18 Oktober 1931 pada usia 84 tahun), sebagai penemu terbesar di dunia dengan 3000 penemuan. Ia bahkan pernah menemukan 400 macam penemuan dalam masa 13 bulan. *e-ti/tian dari berbagai sumber

*** (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)

Leave a comment »

Bapak Sistem Pabrik

Nama:
Sir Richard Arkwright
Lahir:
Preston, Lancashire, Inggris, 23 Desember 1732
Meninggal:
Cromford, Derbyshire, Inggris, 3 Agustus 1792
Istri:
Patience Holt
Margaret Biggins
Warga Negara:
Inggris
Pendidikan:
Tidak tamat SD
Pekerjaan:
Pengusaha industri tekstil
Perwira tinggi polisi
Julukan:
Bapak sistem pabrik
Penemuan:
Mesin pintal (1769)
Penghargaan:
Gelar bangsawan dari Raja George III tahun 1786

Bapak Sistem Pabrik

Orang yang gigih. Sampai umur 50 tahun, malam hari ia manfaatkan untuk belajar tata bahasa dan pengetahuan lain dalam mengejar ketertinggalannya. Begitu juga dalam bekerja, 16 jam dalam sehari selalu ia pergunakan. Itulah pribadi Sir Richard Arkwright, pengusaha industri tekstil, dan penemu mesin pintal, yang dijuluki ‘Bapak sistem pabrik’ini.

Melihat perjalanan hidup pria kelahiran Preston, Lancashire, Inggris, pada tanggal 23 Desember 1732, ini sebenarnya sungguh tidak disangka akhirnya bisa menempatkannya sejajar dengan ilmuan-ilmuan dunia lainnya sebagai seorang penemu. Dikatakan demikian sebab Arkwright kecil, yang warga negara Inggris ini hanyalah seorang anak biasa dan sangat biasa.

Arkwright yang merupakan anak bungsu dari keluarganya ini sebenarnya tidak tamat SD. Pada umur 10 tahun ia sudah bekerja sambil belajar pada tukang pangkas rambut. Sesudah jadi tukang pangkas rambut beberapa bulan, ia kemudian bekerja sambil belajar pada tukang membuat wig (rambut tiruan). Setelah mahir membuat wig, ia kemudian membuat wig sendiri (tidak lagi bekerja pada orang lain-red), dan dipasarkannya sendiri dengan cara mengembara hampir ke seluruh Inggris. Selanjutnya, ia mendirikan toko wig dengan harta warisan dari ayahnya. Namun usaha wig itu rupanya tidak begitu menguntungkan baginya.

Benda yang mirip rambut yakni benang yang ia lihat selagi mengembara memasarkan wig buatannya ke hampir seluruh Inggris, dimana saat itu ia sering melihat orang memintal benang dan menenun kain, mulai menarik perhatiannya.

Ketika itu harga benang sangat mahal karena di Inggris sendiri belum ada pabrik, belum ada mesin, belum ada listrik, bahkan mesin uap sajapun belum ada. Kain kapas masih diimpor dari India, sehingga harganya sangat mahal. Di Inggris, negerinya sendiri, hanya ada benang wol, linen (rami), dan sutera. Padahal wol dan rami dianggab terlalu kasar, sedangkan sutera dianggap terlalu halus.

Dengan alasan itu, ia yang saat itu masih berusia sekitar 20 tahun, mulai berpikir cara memintal (membuat) benang kapas yang kuat. Ketika itu alat pintal benang memang sudah ada tapi masih sangat sederhana. Sebuah alat pintal hanya menghasilkan seutas benang. Dan pada tahun 1764, Hargreaves juga telah membuat alat pintal yang dapat menghasilkan 30 benang, tapi benang yang dihasilkan Hargreaves kurang kuat. Setelah bekerja keras selama 5 tahun, maka pada tahun 1769 Arkwright berhasil membuat alat pintal yang lebih baik. Benang yang dihasilkan mutunya lebih bagus dibandingkan benang buatan Hargreaves.

Dan dua tahun kemudian, tepatnya pada tahun 1771, Arkwright mendirikan pabrik pintal benang di Cromford. Pabrik pintal bertenaga air pertama di dunia. Pabrik pintal tersebut dapat menghasilkan benang bermutu tinggi dengan cepat sekali.

Namun seiring dengan kesuksesannya, tantangan dan rintangan juga datang bertubi-tubi. Buruh-buruhnya terlampau khawatir, mereka mengira jika produksi benang sudah terlalu banyak maka mereka akan dipecat, karena kekhawatiran itu tadi sehingga mereka berontak dan menghancurkan pabrik tersebut. Kesulitan tidak sampai disitu. Dari pelbagai pihak datang protes dan tuduhan. Ia dituduh mencuri hasil penemuan orang lain sehingga ia dituntut ke pengadilan. Dan ia-pun dinyatakan kalah, sehingga ia harus kehilangan hak patennya.

Tapi karena memang sifatnya yang sabar, gigih, suka humor. Maka dengan bantuan sahabat-sahabatnya, akhirnya ia dapat mendirikan industri pemintalan di beberapa tempat. Pada tahun 1782 ia telah mempunyai 5.000 karyawan dan modal sebesar £ 200.000. Dan sekitar tahun 1789 telah mempunyai 8 pabrik pemintalan, 5 diantaranya terletak di Derbyshire. Disamping itu, sebelas pabrik milik orang lain menggunakan mesin pintal buatannya. Dan yang lebih penting dari semuanya itu adalah pengakuan dunia atas karyanya dimana pada zaman sekarang seluruh dunia telah mengakui bahwa Arkwright-lah yang menemukan mesin pintal bertenaga air.

Dalam kehidupan keluarganya, pria yang juga mantan perwira tinggi polisi termasuk seorang ayah yang bertanggung jawab. Pada usia 20 tahunan ia menikah dengan Patience Holt yang pada tanggal 19 Desember 1755, melahirkan baginya seorang anak laki-laki yang ia beri nama Richard. Namun karena sesuatu hal, setahun berikutnya Patience Holt meninggal. Arkwright dan Richard kecil-pun hidup tanpa seorang ibu rumah tangga. Dan barulah enam tahun kemudian ia menikah lagi dengan Margaret Biggins dan melahirkan seorang anak perempuan.

Tahun 1786, enam tahun sebelum meninggal ia menerima gelar bangsawan dari Raja George III. Dan pada umur 60 tahun, tepatnya tanggal 3 Agustus 1792, Sir Richard Arkwright meninggal di Cromford, Derbyshire, Inggris.

Leave a comment »

Bapak Imunologi Penemu Kemoterapi

Nama:
Paul Ehrlich
Lahir:
Strehlen, Silesia (Strzelin, Polandia), 14 Maret 1854
Meninggal:
Homburg, Prusia, 20 Agustus 1915

Penemuan:
Kemoterapi (ahli bakteriologi, bapak imunologi, hematologi, dan kemoterapi)

Kebangsaan:
Jerman (keturunan Yahudi)

Pendidikan:
Berpindah-pindah di Universitas Breslau, Strasbourg, Freiburg dan Leipzig, meraih doktor pada umur 24 tahun (1878)

Penghargaan:
Hadiah Nobel untuk kedokteran dan fisiologi (1908)

Bapak Imunologi Penemu Kemoterapi

Ia adalah dokter Jerman, ahli bakteriologi, bapak imunologi, hematologi, dan kemoterapi. Dialah penemu cara pengobatan dengan zat kimia yang disebut kemoterapi. Ia penemu merah tripan (zat warna yang dapat membunuh tripanosoma, hewan bersel satu yang menyebabkan penyakit tidur) dan salvarsan (arsfenamina). Salvarsan dan neosalvarsan adalah obat pertama untuk penyakit sifilis.

Dokter Jerman ini lahir di Strehlen, Silesia (Strzelin, Polandia), pada tanggal 14 Maret 1854 dan meninggal pada umur 61 tahun tanggal 20 Agustus 1915 di Homburg, Prusia. Ia berasal dari keluarga kurang mampu. Orang tuanya, keturunan Yahudi, mencari nafkah dengan membuka warung.

Prestasinya di sekolah tidak menonjol bahkan tergolong rendah. Nilai rapornya rendah. Hanya nilai bahasa Latin dan matematika cukup tinggi. Bahkan sebenarnya ia tidak memenuhi syarat untuk melanjut ke perguruan tinggi. Hanya karena belas kasihan gurunya yang terpaksa mengatrol nilainya agar ia dapat diterima di perguruan tinggi. Di universitas pun prestasinya tergolong rendah. Namun ia orang yang gigih. Dengan bersusah-payah dan berpindah-pindah kuliah di Universitas Breslau, Strasbourg, Freiburg dan Leipzig, akhirnya ia berhasil meraih gelar doktor pada umur 24 tahun (1878) dengan tesis bertajuk “Sumbangan untuk Teori dan Praktek Mewarnai Jaringan”.

Namun prestasi kuliahnya yang jelek bukan karena ia bodoh. Tetapi lebih disebabkan kurangnya waktu untuk belajar. Waktunya banyak disita kege-marannya mencoba bermacam-macam zat warna untuk mewarnai jaringan tubuh yang masih hidup. Di benaknya bergelora cita-cita untuk menemukan sesuatu yang dapat membunuh bibit-bibit penyakit di dalam tubuh manusia tanpa merusak jaringan tubuh. Sebab ia berkeyakinan, bibit penyakit tertentu hanya menyerap zat warna (kimia) tertentu yang bila bibit penyakit itu menyerap zat kimia tertentu lain, bibit penyakit itu akan mati. Pengobatan dengan zat kimia yang diebut kemote-rapi inilah salah satu temuannya.

Ia seorang ilmuwan, yang mempersembahkan penemuannya untuk kepentingan umum dan kemanusiaan. Ia tidak mengaitkan penemuannya dengan uang. Maka layaklah ia dianugerahi Hadiah Nobel untuk kedokteran dan fisiologi pada tahun 1908. *e-ti/tian dari berbagai sumber

Leave a comment »

Bapak Industri Plastik

Nama:
Leo Hendrik Baekeland.
Lahir:
Ghent, Belgia, 14 November 1863.
Meninggal:
Beacon, New York, 23 Februari 1944.
Istri:
Anak bekas guru kimianya.
Kebangsaan:
Belgia.
Kewarganegaraan:
Amerika Serikat.
Julukan:
Bapak Industri Plastik.
Penemuan:
- Penemu ‘Bakelit’.
- Penemu ‘kertas foto Velox’.
Pengalaman Pendidikan:
S1 & Doktor dari Universitas Ghent.
Pengalaman Pekerjaan:
- Guru besar.
- Pemimpin pabrik kertas toto, Nepera Chemical Company (Perusahaan Kimia Nepera).
- Memimpin laboratorium di Yonkers, New York.
- Direktur Utama perusahaan plastik.

Bapak Industri Plastik

Plastik sebagai seluloid, pertama kali ditemukan oleh Hyatt pada tahun 1870. Namun plastik yang tak lunak jika dipanaskan atau plastik tahan panas, yang kemudian dinamai ‘bakelit’, ditemukan pertama kali di dunia oleh Leo Hendrik Baekeland, seorang ahli kimia warga negara Amerika berkebangsaan Belgia. Bakelit, yang penamaannya diberi sesuai namanya, ‘Baekeland’, itu sebenarnya bukanlah temuan pertamanya sebab sebelumnya ia juga telah menemukan foto velox.

Ilmuan bergelar doktor dari Universitas Ghent, ini adalah seorang guru besar, pernah medirikan pabrik kertas foto velox, mendirikan laboratorium dan mendirikan perusahaan plastik sekaligus direktur utamanya. Upayanya yang begitu gigih dan panjang meneliti dan menggeluti industri plastik tersebut membuat dirinya akhirnya dijuluki ‘Bapak Industri Plastik’.

Baekeland yang lahir di Ghent, Belgia, pada tanggal 14 November 1863, ini sejak anak-anak adalah seorang pelajar yang sangat cerdas. Di bangku sekolah, ia selalu menjadi juara kelas, sehingga pada umur 16 tahun ia sudah tamat sekolah menengah atas (SLTA). Dan karena kecerdasannya pula, ia mendapat beasiswa untuk melanjutkan kuliah di Universitas Ghent.

Tiga tahun mengikuti perkuliahan atau pada umur 19 tahun ia telah menjadi seorang sarjana. Dan dua tahun kemudian (1884) atau saat usianya baru 21 tahun, ia telah mendapat gelar doktor dengan predikat maxima cum laude. Ia mengajar di universitas tersebut sampai tahun 1889.

Pria yang menikah dengan anak bekas guru kimianya, ini punya hobi bepergian dan memotret. Sehingga ia sering mengadakan perjalanan ke luar negeri seperti ke Prancis dan Inggris. Pada suatu kesempatan di tahun 1889, ia mendapat beasiswa untuk belajar di Amerika Serikat. Beasiswa yang sebenarnya hanya untuk tiga tahun, tapi malah diputuskannya untuk menetap di negara Paman Sam tersebut. Dengan keputusannya itu, ia lalu ganti kewarganegaraan menjadi warga negara Amerika Serikat.

Sehubungan dengan hobinya yang suka memotret, ia kemudian mendapat pekerjaan di perusahaan fotografi. Pada zaman itu, untuk mencetak gambar negatif film pada kertas, harus menggunakan sinar matahari. Hal yang kurang praktis menurut pemikiran Baekland, lebih-lebih pada waktu hujan atau malam. Maka dalam waktu singkat, ia berhasil menciptakan kertas toto yang disebut Velox. Dengan kertas ini, film dapat diproses tanpa sinar matahari melainkan cukup hanya dengan sinar lampu. Untuk mendukung penemuannya itu, maka pada tahun 1893 ia mendirikan pabrik kertas toto yang diberinya nama Nepera Chemical Company (Perusahaan Kimia Nepera).

Tidak begitu lama ia bertahan di perusahaan kertas tersebut. Sebab enam tahun kemudian ia menjual perusahaan tersebut seharga satu juta dolar kepada Eastman, penemu kamera. Hasil penjualan perusahaan tersebut sebagian ia gunakan untuk pergi ke Jerman, sebagian lagi untuk mendirikan laboratorium di Yonkers, New York.

Tahun 1905 ia mulai mengadakan penelitian. Dan tahun 1910 mendirikan pabrik plastik sekaligus menjadi direktur utamanya sampai tahun 1939. Dari hasil penelitiannya, satu yang terpenting adalah temuan plastik tahan panas – bakelit.

Akhirnya pada tanggal 23 Februari 1944, pada usia 81 tahun Baekeland meninggal di Beacon, New York. ► atur lps

*** DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)

Leave a comment »

Penemu FM Radio dan Sirkuit

Nama:
Edwin Howard Armstrong
Lahir:
New York City, 18 Desember 1890
Meninggal:
New York City, 1 Februari 1954
Ayah:
Seorang penerbit buku
Ibu:
Seorang Guru.
Warga Negara:
Amerika Serikat
Pendidikan:
Insinyur listrik dari Universitas Columbia
Pekerjaan:
Guru besar
Julukan:
Bapak sirkuit
Penemuan:
- Penemu FM radio
- Penemu sirkuit regeneratif dan superheterodin

Penemu FM Radio dan Sirkuit

Ia penemu FM radio, sirkuit regeneratif dan superheterodin, sehingga ia dijuluki bapak sirkuit. Memamg sejak kecil, Armstrong si anak pemalu putra dari seorang penerbit buku (ayah) dan guru (ibu), ini sudah tertarik pada mesin, kereta api, dan segala peralatan yang dianggapnya aneh.

Berawal ketika usianya masih 14 tahun, ia membaca tentang telegraf buatan Marconi, dimana saat itu telah berhasil mengirimkan berita tanpa kawat ke seberang Samudra Atlantik, walaupun di tempat tujuan, suara kode Morse hanya terdengar sayup-sayup, tidak jelas. Sejak itulah ia bercita-cita ingin membuat suara radio sejelas mungkin.

Pria kelahiran 18 Desember 1890 di New York City, ini ketika masih berusia 17 tahun saja dan masih duduk di SMA, sudah mampu mewujudkan cita-citanya walaupun belum begitu sempurna. Ia telah berhasil membuat sendiri stasiun radio di rumahnya. Setelah menyelesaikan SMA-nya ia kemudian masuk Fakultas Tekhnik Listrik, Universitas Columbia, universitas yang tidak begitu jauh dari tempat tinggalnya sehingga ia bisa pulang-pergi naik sepeda motor merah, hadiah ulang tahun dari ayahnya.

Pada dekade yang bersamaan yaitu tepatnya pada tahun 1907, De Forest, juga menemukan ‘tabung hampa’ yang bernama trioda atau audion. ‘Tabung hampa’ tersebut dapat memperkuat suara yang lemah pada batas tertentu. Armstrong segera mempelajari tabung hampa buatan De Forest tersebut. Hasilnya, lima tahun kemudian atau pada tahun 1912 ia berhasil membuat sirkuit regeneratif atau sirkuit feedback.

Dengan sirkuit regeneratif atau sirkuit feedback tersebut, Armstrong yang warga negara Amerika Serikat dan seorang insinyur listrik, guru besar, jutawan, ini membuat ‘tabung hampa’-nya De Forest dapat memperkuat suara sampai beribu-ribu kali atau hampir mencapai setengah keras suara radio atau televisi zaman sekarang.

Dengan penemuan memperkeras suara radio tersebut, perdebatan sengit antara dirinya dengan De Forest untuk memperebutkan hak cipta atau paten penemuan tersebutpun terjadi. Pertengkaran di pengadilan sampai memakan waktu sampai 14 tahun dan perdebatan mereka di depan Mahkamah Agung Amerika Serikat terjadi sampai dua kali. Akhirnya, hakim memenangkan De Forest dan menyatakan Armstrong sebagai pihak yang kalah. Keputusan yang mungkin diakibatkan kekurangtahuan para hakim mengenai seluk-beluk listrik

Menyikapi kekalahan Armstrong ini, para ilmuwan menganggap keputusan pengadilan tersebut tidak adil dan tidak benar. Bahkan para ilmuwan memberi hadiah Medali Franklin kepada Armstrong. Medali yang merupakan hadiah tertinggi di Amerika Serikat bagi seorang ilmuwan yang berprestasi.

Pada usia 64 tahun, tepatnya pada tanggal 1 Februari 1954 di New York City, tokoh besar fisika yang bisa disetarafkan dengan Ampere, Bell, Faraday, dan Marconi, ini meninggal dunia. ► atur/mlp-ms

*** (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)

Leave a comment »

Penemu Satelit Titan

Christiaan Huygens

Penemu Satelit Titan

Satelit Titan merupakan satu dari tiga puluh satu satelit yang mengorbit Planet Saturnus. Satelit ini pertama kali ditemukan oleh Christiaan Huygens, seorang astronom Belanda pada tahun 1655. Titan merupakan salah satu satelit favorit untuk diteliti lebih jauh disamping Satelit Europa yang mengorbit Planet Yupiter dimana satelit itu diketahui memiliki lautan air di bawah lapisan permukaan esnya.

Menjadi tambah menarik minat para ilmuan atau astronom untuk menelitinya karena layaknya planet Bumi, Titan ini juga mempunyai atmosfer. Dan merupakan satu-satunya satelit alam (bukan satelit buatan manusia) di Tata Surya yang memiliki awan setebal 300 km.

Titan yang merupakan satelit terbesar diantara 31 satelit dari Saturnus, ini setengahnya tersusun dari es dan setengah lagi dari material bebatuan. Tekanan atmosfernya 1,6 kali tekanan atmosfir Bumi, sehingga kalau diperbandingkan, tekanannya sama seperti tekanan di lantai dasar kolam renang. Komposisi atmosfernya sendiri sama seperti Bumi, yakni didominasi oleh nitrogen, namun sebagian besar tersusun dari etana dan metana seperti senyawa kimia yang terdapat dalam kabut asap.

Lapisan atmosfer tersebut sangat tebal sehingga hujannya sampai-sampai berupa cairan mirip gasolin. Oksigennya sendiri membeku dalam wujud es air (water ice) di permukaannya. Komposisi kimia tersebutlah yang sangat menarik perhatian peneliti sebab ada kemungkinan komposisi kimia tersebut tersusun dari beberapa senyawa seperti yang berada di atmosfer Bumi primordial. Dan bahkan kandungan organik pada senyawa kimia yang ditemukan mengindikasikan, bahwa tidak tertutup kemungkinan di satelit Titan ini akan muncul bentuk kehidupan seperti di Bumi.

Memang, suhu permukaan satelit ini (saat ini) sangat rendah yakni minus 178 derajat Celsius, berarti hanya 4 derajat di atas titik jenuh metana. Hal tersebut disebabkan jaraknya yang begitu jauh dari Matahari. Dengan suhu serendah itu, memang sangat tidak mendukung adanya kehidupan. Namun pandangan lain mengatakan, bahwa meskipun dengan suhu serendah itu, bentuk kehidupan tetap saja berpeluang muncul di dalam danau hidrokarbon yang hangat akibat pemanasan internal yakni pemanasan yang di karenakan tekanan gravitasinya yang sangat besar sehingga pusat satelit ini masih panas. Seperti Bumi dengan inti planetnya yang sangat panas, satelit Titan ini juga memiliki pemanasan yang sama.

Satelit yang berukuran satu setengah kali ukuran Bulan, ini membutuhkan waktu untuk mengorbit Saturnus selama 16 hari. Dan kecepatan rotasinya (mengitari porosnya) membutuhkan waktu 16 hari juga. Dengan begitu sehingga apabila kita melihat Titan dari Planet Saturnus maka yang terlihat hanya setengah bagian saja, sama seperti melihat Bulan dari Bumi. Namun kecepatan gerak Titan enam kali lebih cepat dibanding gerak Bulan.

Titan yang bermassa seperseratus ribu massa Bumi dan berjarak 1,2 juta km dari Planet Saturnus, atau tiga kali jarak Bulan ke Bumi, ini setengahnya tersusun dari es dan setengahnya lagi dari material bebatuan. Lapisan bebatuan berada di pusat satelit hingga radius 1.700 km. Di atas bebatuan terdapat lapisan kristal es hingga permukaan satelit yang beradius 2.575 km.

Satelit Titan lebih besar dari Planet Merkurius dan merupakan satelit kedua terbesar dari seluruh satelit yang ada di Tata Surya, setelah Ganymede- satelit dari Yupiter. Diameter Titan lebih kecil 112 km dibanding diameter Ganymede.

Menarik untuk mengetahui bagaimanakah wajah Bumi di awal kelahirannya, serta mengetahui jawaban atas pertanyaan tentang asal mula munculnya kehidupan di planet biru ini. Maka penemuan dan penelitian satelit ini cukup membantunya. Walaupun nantinya diketahui bahwa satelit Titan terbukti tidak memiliki bentuk kehidupan sebagaimana yang diperkirakan, namun pemahaman mengenai interaksi kimia di sana diharapkan akan sangat membantu manusia memahami awal adanya kehidupan manusia sendiri.

Berbagai penelitian telah dilakukan untuk engungkap rahasia dibalik Titan ini. Wahana antariksa Voyager 1, pada tahun 1980 telah menginformasikan kondisi atmosfer satelit Titan yang diduga mirip dengan keadaan Bumi dulu sewaktu muda, dimana ketika mengorbit di ketinggian 4.000 km di atas Titan, diketahui betapa aktifnya atmosfer satelit tersebut. Teleskop Ruang Angkasa Rubble pada tahun 1994 juga telah merekam gambar Titan, yang memperlihatkan “benua”, hal mana disimpulkan dari penampakannya yang terang. Walaupun Rubble masih belum bisa membuktikan adanya “lautan” air di sana.

Demikian juga misi Cassini-Ruygens yang akan berkunjung ke sana diharapkan memberikan pandangan baru atas satelit tersebut. Selama belasan kali mengorbit Titan, Cassini akan memetakan Titan dan mengumpulkan data atmosfernya, dan di saat yang sama, Ruygens akan diterjunkan menembus atmosfer dan menganalisa unsur-unsurnya.

Wahana antariksa yang diperkirakan awal Juli 2004 berada diorbit Saturnus, ini membawa instrumen untuk menginformasikan karakteristik Titan. Diharapkan, informasi yang dikumpulkan kedua wahana itu dapat memberi pemahaman penting mengenai Bumi. Dengan penemuan dan hasil penelitian satelit ini nantinya, maka mengadakan eksperimen rumit di laboratorium untuk mengetahui kondisi Bumi pada usia dininya tidak diperlukan lagi. Dan pertanyaan ‘Bagaimana planet terbentuk’ dan ‘Dari mana manusia berasal’ bisa terjawab.

Percobaan di observatorium.
Penelitian terhadap permukaan satelit Titan ini sudah diakukan lebih dari dua dasawarsa, namun informasi yang diperoleh belum seberapa. Hal tersebut disebabkan lapisan atmosfernya yang tebal. Sejauh ini kedalaman atmosfer saja hanya bisa diamati pada rentang gelombang radio, sedangkan pada rentang gelombang inframerah hanya sebagian yang bisa, bahkan pada rentang gelombang visual belum bisa sama sekali.

Belakangan, muncul spekulasi adanya interaksi radiasi ultraviolet Matahari dengan metana yang berada di lapisan teratas atmosfer Titan. Reaksi fotokimia tersebut mengakibatkan terbentuknya smog dan akhirnya mengakibatkan hujan hidrokarbon dalam wujud padat dan cair dalam jumlah besar.

Menurut publikasi jurnal Science edisi 2 Oktober 2003 lalu, di Observatorium Arecibo Brasil, dilakukan penelitian melalui teleskop radio raksasa berdiamater 305 m. Penelitian tersebut menemukan kondisi Titan terbaru yakni diduga adanya ‘danau hidrokarbon’ dalam bentuk cair. Dugaan tersebut didasarkan pada pantulan yang dihasilkannya. Dimana pantulan tersebut hanya bisa dilakukan oleh permukaan datar.

Dijelaskan, bahwa percobaan tersebut dilakukan pada November dan Desember 2001 dan 2002 dimana disebutkan bahwa Observatorium Arecibo dioperasikan pada panjang gelombang 13 cm (2,380 Mhz) dengan daya mendekati 1 megawatt (setara 1.000 pemanas listrik). Dan khusus untuk menerima pantulan, secara bersamaan digunakan teleskop Robert C Byrd Green Bank 100 m.

Percobaan yang dilakukan dengan memancarkan Sinyal radar ke Titan itu hasilnya kemudian kembali ke Bumi selama 2,25 jam. Dan ternyata, sinyal radar yang dipantulkan oleh permukaan Titan berwujud cair (seperti cahaya Matahari yang jatuh pada lautan). Namun meskipun lapisan bawah permukaan Titan berwujud es air, reaksi senyawa kimia, kompleks di atmosfernya menghasilkan etana, metana cair, dan hidrokarbon padat, yang menutupi sebagian permukaan es Titan.

Penelitian yang berhubungan dengan satelit Titan ini dilakukan tidak hanya berdasarkan penelitian objek langsung tetapi simulasi-simulasi juga dibuat untuk mendukung penelitian objek langsung tersebut. Salah satu cntohnya adalah dimana beberapa tahun lalu di laboratorium yang dipimpin Carl Sagan, astronom karismatis dari Cornell University, telah dibuat hidrokarbon buatan yang mirip hidrokarbon padat Titan, yaitu Titan tholin.

Semua usaha ini kita harapkan berhasil dengan baik, sehingga apapun rahasia di dalam penciptaan alam semesta ini tersibak satu persatu sekaligus menambah Kemuliaan NamaNya, Sang Khalik Langit dan Bumi.

Leave a comment »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.