Arsip untuk CERITA PENDEK dan DONGENG_(majalah BOBO)

Rara Jonggrang

Rara Jonggrang adalah putri dari Prabu Baka dari Kerajaan Prambanan, Daerah Istimewa Yogyakarta, Indonesia. Rara Jonggrang memiliki paras yang cantik jelita. Suatu ketika, ia dilamar oleh seorang kesatria yang bernama Bondowoso dari Kerajaan Pengging. Rara Jonggrang bersedia menerima lamaran itu, asalkan Bondowoso mampu membuatkan seribu candi dan dua buah sumur dalam waktu semalam. Mampukah Bondowoso memenuhi syarat yang diajukan oleh Rara Jonggrang tersebut? Ikuti kisahnya dalam cerita Rara Jonggrang berikut ini!

* * *

Alkisah, pada zaman dahulu kala, ada seorang raja yang bernama Prabu Baka yang bertahta di Prambanan. Ia seorang raksasa yang menakutkan dan memiliki kesaktian yang tinggi. Wilayah kekuasaannya sangat luas. Kerajaan-kerajaan kecil di sekitar wilayahnya semua takluk di bawah kekuasaannya. Meskipun seorang raksasa, Prabu Baka mempunyai seorang putri cantik yang berwujud manusia bernama Rara Jonggrang. Prabu Baka sangat menyayangi putri tunggalnya itu. Sebagai wujud kasih sayangnya kepada putrinya, ia mewariskan seluruh kesaktian dan kepandaian yang dimilikinya. Maka jadilah Rara Jonggrang seorang putri yang cantik jelita dan sakti mandraguna.

Sementara itu di tempat lain, tersebutlah sebuah kerajaan yang tak kalah besarnya dengan Prambanan, yakni Kerajaan Pengging. Kerajaan itu memiliki seorang kesatria yang sakti bernama Bondowoso. Kesaktian Bondowoso terletak pada senjatanya yang bernama Bandung. Selain itu, Bondowoso juga mempunyai balatentara berupa makhluk-makhluk halus. Jika membutuhkan bantuan, Bondowoso mampu mendatangkan makhluk-makhluk halus tersebut dalam waktu sekejap.

Suatu ketika, Raja Pengging bermaksud memperluas wilayah kekuasaannya. Ia pun memerintahkan Bondowoso dan pasukannya untuk menyerang Prambanan.

“Hai, Bondowoso! Siapkan pasukanmu untuk pergi menyerang Prambanan!” perintah Raja Pengging.

“Baik, Gusti! Perintah segera hamba laksanakan!” jawab Bondowoso sambil memberi hormat.

Keesokan harinya, berangkatlah Bondowoso bersama pasukannya ke Prambanan. Setibanya di Prambanan, mereka langsung menyerbu masuk ke dalam istana. Prabu Baka pun tidak tinggal diam. Ia segera memerintahkan pasukannya untuk menahan serangan pasukan Bondowoso yang datang secara tiba-tiba. Pertempuran sengit pun tak terelakkan lagi. Namun karena pasukan Prabu Baka kurang persiapan dalam pertempuran itu, akhirnya pasukan Bondowoso berhasil menaklukkan mereka. Prabu Baka sendiri tewas terkena senjata sakti Bandowoso yang bernama Bandung. Sejak itu, Bondowoso pun dikenal dengan nama Bandung Bondowoso.

Setelah Bandung Bondowoso dan pasukannya memenangkan pertempuran itu, Raja Pengging pun mengamanatkan Bandung Bondowoso untuk menempati istana Prambanan.

“Wahai, Bandung Bondowoso! Sebagai ucapan terima kasihku atas keberhasilanmu mengalahkan Prabu Baka, aku memberimu amanat untuk mengurus Kerajaan Prambanan dan segala isinya, termasuk keluarga Prabu Baka,” kata Raja Pengging.

“Terima kasih, Gusti! Hamba berjanji untuk menjaga amanat Gusti,” jawab Bandung Bondowoso.

Setelah itu, Bandung Bondowoso pun segera menempati istana Prambanan. Pada saat hari pertama menempati istana Pramabanan, ia langsung terpesona melihat kecantikan Rara Jonggrang dan berniat untuk menjadikannya sebagai permaisuri.

Pada suatu hari, Bandung Bondowoso menyatakan maksud hatinya kepada Raja Jonggrang.

“Wahai, putri Rara Jonggrang! Bersediakah engkau menjadi permaisuriku?” tanya Bandung Bondowoso.

Rara Jonggrang tidak langsung menjawab pertanyaan itu. Ia hanya terdiam dan kebingungan. Sebenarnya, ia amat membenci Bandung Bondowoso karena telah membunuh ayahnya. Namun, ia takut menolak lamarannya karena bagaimana pun juga ia tidak akan sanggup mengalahkan kesaktian Bondowoso. Setelah berpikir sejenak, Rara Jonggrang pun menemukan satu cara untuk menolak lamaran itu dengan cara yang halus.

“Baiklah, Bandung Bondowoso! Aku bersedia menerima lamaranmu, tapi kamu harus memenuhi satu syaratku,” jawab Rara Jonggrang.

“Apakah syaratmu itu, Rara Jonggrang?” tanya Bandung Bondowoso.

“Buatkan aku seribu candi dan dua buah sumur dalam waktu semalam,” jawab Rara Jonggrang.

Tanpa berpikir panjang, Bandung Bondowoso pun menyanggupinya, karena ia yakin mampu memenuhi syarat itu dengan bantuan balantentaranya. Pada malam harinya, Bandung Bondowoso mengundang balatentaranya yang berupa makhluk halus tersebut. Dalam waktu sekejap, balatentaranya pun datang dan segera membangun candi dan sumur sebagaimana permintaan Rara Jonggrang. Mereka bekerja dengan sangat cepat. Pada dua pertiga malam, mereka hampir menyelesaikan seribu candi. Hanya tinggal tiga buah candi dan sebuah sumur yang belum mereka selesaikan.

Rara Jonggrang yang ikut menyaksikan pembuatan candi itu mulai khawatir. Ia pun segera memberitahukan hal itu kepada salah seorang dayang kepercayaannya.

“Dayang! Pembangunan seribu candi dan penggalian dua buah sumur tersebut hampir selesai. Apa yang harus kita lakukan?” tanya Rara Jonggrang kepada dayang itu.

“Tenanglah, Gusti! Pasti ada jalan keluarnya,” hibur dayang itu.

Rara Jonggrang kembali berpikir keras dan ia pun menemukan jalan keluarnya. Ia akan membuat suasana menjadi seperti pagi, sehingga para makhluk halus tersebut menghentikan pekerjaannya sebelum menyelesaikan seribu candi.

“Dayang! Segera bangunkan teman-temanmu! Suruh mereka membakar jerami dan menumbuk padi di lesung, serta menaburkan bunga-bunga yang harum baunya!” perintah Rara Jonggrang.

“Baik, Gusti!” jawab dayang itu seraya bergegas masuk ke dalam istana membangunkan dayang-dayang lainnya.

Dayang-dayang pun bangun dan segera melaksanakan perintah Rara Jonggrang. Tak berapa lama, tampaklah cahaya kemerah-merahan dari arah timur akibat dari pemakaran jeramih. Suara lesung pun terdengar bertalu-talu. Bau harum bunga-bungaan mulai tercium. Beberapa saat kemudian, suara ayam jantan berkokok mulai terdengar. Para balatentara Bandung Bondowoso pun segera menghentikan pekerjaannya, karena mengira hari sudah pagi. Mereka pergi meninggalkan tempat pembuatan candi tersebut, padahal kurang sebuah candi lagi yang belum mereka selesaikan. Batu-batu berukuran besar masih berserakan di tempat itu.

Melihat balatentaranya akan kembali ke alamnya, Bandung Bondowoso berteriak dengan suara keras.

“Teman-teman, kembalilah! Hari belum pagi. Genapkan seribu candi. Tinggal sebuah candi lagi!” teriak Bandung Bondowoso.

Para makhluk halus tersebut tidak menghiraukan teriakannya. Akhirnya, Bandung Bondowoso berniat meneruskan pembangunan candi itu untuk menggenapi seribu candi. Namun belum selesai candi itu ia buat, pagi sudah menjelang. Ia pun gagal memenuhi permintaan Rara Jonggrang. Mengetahui kegagalan Bondowoso tersebut, Rara Jonggrang segera menemuinya di tempat pembuatan candi itu.

“Bagaimana Bandung Bondowoso? Apakah candiku sudah selesai?” tanya Rara Jonggrang sambil tersenyum.

Betapa marahnya Bandung Bondowoso melihat sikap Rara Jonggrang itu. Apalagi setelah ia mengetahui bahwa Rara Jonggranglah yang telah menggagalkan usahanya. Ia pun melampiaskan kemarahannya dengan mengutuk Rara Jonggrang menjadi arca.

“Hai, Rara Jonggrang! Kamu telah menggagalkan usahaku untuk mewujudkan seribu candi yang kurang satu lagi. Jadilah kau arca dalam candi yang keseribu!” teriak Bandung Bondowoso.

Berkat kesaktian Bandung Bondowoso, seketika itu pula Rara Jonggrang berubah menjadi arca batu. Wujud arca itu sangat cantik, secantik Rara Jonggrang. Hingga kini, arca itu dapat disaksikan di dalam ruang candi besar yang bernama Candi Rara Jonggrang yang berada dalam kompleks Candi Prambanan. Sementara candi-candi yang ada di sekitarnya disebut dengan Candi Sewu. Sewu dalam bahasa Jawa berarti seribu.

* * *

Demikian cerita Rara Jonggrang dari Prambanan, Daerah Istimewa Yogyakarta. Cerita di atas termasuk kategori legenda yang mengandung pesan-pesan moral yang dapat dijadikan pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Pesan moral yang dapat dipetik dari cerita atas adalah akibat yang ditimbulkan dari sifat curang dan licik. Sifat ini tampak pada kelicikan Rara Jonggrang dalam menggagalkan usaha Bandung Bondowoso membangun seribu candi agar tidak menikahinya. Akibatnya, ia pun dikutuk menjadi arca oleh Bandung Bondowoso. Dalam tunjuk ajar Melayu dikatakan:

apa tanda orang yang licik,
janji mungkir cakap berbalik

kalu suka bersifat curang,
alamat kepala dimakan parang

Leave a comment »

Kali Gajah Wong

Dalam kisah disebutkan, Kerajaan Mataram pernah berpusat di Kotagede, kurang lebih 7 kilo­me­ter arah tenggara kota Yogyakarta. Pada waktu itu Kerajaan Mataram dipimpin oleh Sultan Agung yang mempunyai beribu-ribu prajurit, termasuk pasukan berkuda dan pasukan gajah. Kanjeng sultan juga mempunyai abdi dalem-abdi dalem yang setia. Di antara abdi dalem itu terdapat seorang srati, bernama Ki Sapa Wira.

Setiap pagi, gajah Sultan yang ber­­­­nama Kyai Dwipangga itu selalu di­mandi­kan oleh Ki Sapa Wira di sungai di dekat Kraton Mataram. Oleh karena itu, gajah dari Negeri Siam itu selalu menurut dan ter­biasa dengan perlakuan lembut Ki Sa­pa Wira. Pada suatu hari, Ki Sapa Wira sakit bisul di ketiaknya sehingga ia tidak bisa bergerak bebas, apalagi harus beker­ja memandikan gajah. Oleh karena itu, Ki Sapa Wira menyuruh adik iparnya yang bernama Ki Kerti Pejok untuk menggantikan pekerjaannya. Sebenarnya, nama asli Ki Kerti Pejok adalah Kertiyuda. Namun ka­re­na terkena penyakit polio sejak lahir sehingga kalau berjalan meliuk-liuk pin­cang atau pejok menurut istilah Jawa, maka ia pun dipanggil Kerti Pejok.

“Tolong gantikan aku memandikan Kyai Dwipangga, Kerti,” kata Ki Sapa Wira.

“Baik, Kang,” jawab Ki Kerti. “Tapi ba­gai­mana jika nanti Kyai Dwipangga tidak mau berendam, Kang?” sambungnya.

“Biasanya aku tepuk kaki belakangnya, lalu aku tarik buntutnya,” jawab Ki Sapa Wira.

Pagi itu Ki Kerti sudah berangkat me­­nuju sungai bersama Ki Dwipangga. Ba­dan gajah itu dua kali lipat badan ker­bau, belalainya panjang, dan gadingnya ber­warna putih mengkilat. Ki Kerti Pejok mem­bawakan dua buah kelapa muda un­tuk makanan Ki Dwipangga agar gajah itu patuh kepadanya.

“Nih, ambillah untuk sarapan …,” cele­tuk Ki Kerti sambil melemparkan sebuah kelapa muda ke arah Ki Dwipangga.

“Prak ….” kelapa itu ditangkap  oleh Ki Dwi­­pang­ga dengan belalainya lalu di­banting pada batu besar di pinggir jalan. Dua buah kelapa sudah terbelah, dan Ki Dwipangga memakannya dengan lahap. Belum habis kelapa yang kedua, Ki Kerti sudah menyuruh Ki Dwipangga untuk berdiri dan berjalan lagi. Dipukulnya pantat gajah itu dengan cemeti yang dibawanya.

Setibanya di sungai, Ki Kerti menyu­ruh Ki Dwipangga untuk berendam. Sesaat kemudian, Ki Kerti segera memandikan ga­jah itu. Ia menggosok-gosok tubuh ga­jah tersebut dengan daun kelapa supaya lumpur-lumpur yang melekat cepat hilang. Setelah bersih, gajah itu segera dibawa pulang oleh Ki Kerti menuju kandangnya.

“Kang, gajahnya sudah saya mandi­kan sampai bersih,” lapor Ki Kerti kepada Ki Sapa Wira.

“Ya, terima kasih. Aku harap besok pa­gi kamu pergi memandikan Ki Dwi­pang­ga lagi. Setiap hari gajah itu harus dimandikan, apalagi pada saat musim kawin begini,” jawab Ki Sapa Wira sambil menghisap ce­rutunya.

Keesokan harinya, pagi-pagi Ki Kerti mendatangi rumah Ki Sapa Wira un­­tuk men­­jemput Ki Dwipangga. Pagi itu langit kelihatan mendung, namun tidak ada tanda-tanda hujan akan turun. Segera Ki Kerti Pe­jok membawa Ki Dwipangga menuju su­ngai. Kali ini Ki Kerti Pejok agak kecewa ka­re­na sungai tempat memandikan gajah tersebut ke­li­hat­an dangkal. ‘Mana mungkin dapat memandi­kan gajah jika untuk berendam pun tidak bisa,’ pikir Ki Kerti Pejok. Kemudian ia mem­bawa Ki Dwipangga ke arah hilir untuk mencari genangan sungai yang dalam.

“Ah, di sini kelihatannya lebih dalam. Aku akan memandikan Ki Dwipangga di sini saja. Dasar, Kanjeng Sultan orang yang aneh. Sungai sekecil ini kok digunakan un­tuk memandikan gajah,” gerutu Ki Kerti Pe­jok sambil terus menggosok punggung Ki Dwipangga. Belum habis Ki Kerti Pejok meng­­gerutu, tiba-tiba banjir bandang da­tang dari arah hulu.

“Hap … Hap … Tulung … Tuluuung …,” teriak Ki Kerti Pejok sambil melambai-lambaikan tangannya. Ia hanyut dan teng­gelam bersama Ki Dwipangga hingga ke Laut Selatan. Keduanya pun mati kare­na tidak ada seorang pun yang dapat me­nolongnya.

Untuk mengingat peristiwa tersebut, Sultan Agung menamakan sungai itu Kali Gajah Wong, karena kali itu telah meng­hanyutkan gajah dan wong. Sungai itu terletak di sebelah timur kota Yogyakarta. Konon, tempat Ki Kerti memandikan gajah itu saat ini bersebelahan dengan kebun binatang Gembiraloka.

Kanjeng      :  tuan.

Abdi dalem :  pegawai istana, pembantu raja.

Srati           :  orang yang pekerjaannya mengurusi gajah.

Kang           :  kak, kakak, panggilan untuk kakak laki-laki.

Buntut        :  ekor.

Tulung        :  tolong.

Kali             :  sungai.

Wong          :  orang.

Leave a comment »

Calon Arang

Calon Arang adalah seorang perempuan penyihir yang sangat jahat. Suatu ketika, ia menyebarkan penyakit aneh kepada rakyat Kahuripan di daerah Jawa Timur, Indonesia. Raja Kahuripan Sri Baginda Erlangga sudah mengerahkan seluruh patih dan prajurit pilihannya untuk menangkapnya, namun mereka gagal. Apa yang akan dilakukan Sri Baginda Erlangga menghentikan keganasan ilmu sihir Calong Arang? Ingin tahu jawabannya? Ikuti kisahnya dalam cerita Calon Arang Berikut ini!

* * *

Alkisah, pada zaman dahulu kala, di daerah Jawa Timur terdapat sebuah kerajaan bernama Kahuripan. Kerajaan tersebut dipimpin oleh Sri Baginda Erlangga. Suatu ketika, ia mendapat laporan dari patihnya yang bernama Narottama bahwa sebagian besar rakyatnya terserang penyakit aneh. Mendengar laporan itu, Sri Baginda Erlangga segera memerintahkan Patih Narottama untuk menyelidiki penyebab penyakit aneh tersebut. Alhasil, setelah diselidiki, ternyata penyakit aneh tersebut disebarkan oleh seorang perempuan penyihir yang bernama Serat Asih atau lebih dikenal dengan nama Calon Arang yang tinggal di Desa Girah. Setiap malam, Calon Arang menyebarkan penyakit aneh tersebut kepada rakyat Kahuripan dengan ilmu sihirnya. Mengetahui hal itu, Sri Baginda Erlangga memerintahkan Patih Narottama agar segera menangkap perempuan penyihir itu.

“Wahai, Patih Narottama! Segera siapkan para prajurit pilihan untuk menangkap Calon Arang!” perintah Sri Baginda Erlangga.

Mendengar perintah itu, Patih Narottama pun segera menabuh bende atau canang (gong kecil) untuk mengundang para prajurit pilihan. Tak berapa lama kemudian, sekitar dua puluh prajurit pilihan telah berkumpul di alun-alun kerajaan. Pasukan tersebut dipimpin oleh tiga orang komandan, yaitu Wangsa Jaya, Pungga Mukti, dan Pungga Sasra.

“Ampun, Patih! Kami sudah siap menunggu perintah selanjutnya,” lapor komandan Wangsa Jaya usai memeriksa anak buahnya.

“Baiklah! Jika kalian sudah siap, ayo kita berangkat ke Desa Girah untuk menangkap Calong Arang!” seru Patih Narottama.

Setelah itu, Patih Narottama memimpin pasukan tersebut menuju Desa Girah. Sesampainya di desa itu, mereka pun segera merusak sebuah rumah tua yang diduga sebagai tempat tinggal Calon Arang. Calon Arang yang berada di dalam rumah itu segera keluar dengan sangat marah. Ia tidak terima dengan perlakuan pasukan kerajaan itu. Ia pun memerintahkan keempat orang muridnya, yaitu Supala, Guritna, Datyeng, dan Pitrah untuk mengusir mereka dari desa itu.

“Hai, murid-muridku! Usir mereka dari sini!” perintah Calong Arang.

Mendengar perintah itu, keempat murid Calong Arang tersebut segera menyerang pasukan kerajaan. Pertarungan sengit pun tak terelakkan lagi. Setelah beberapa saat pertarungan itu berlangsung, pasukan kerajaan pun terdesak. Melihat anak buahnya terdesak, Patih Narottama segera membantu. Namun, langkahnya dihadang oleh Calon Arang.

“Hai, Pak Tua! Hadapi aku kalau kamu berani!” tantang Calong Arang.

Tanpa berpikir panjang, Patih Narottama segera mencabut pedangnya lalu menebas leher Calon Arang hingga terputus. Anehnya, setiap kali ia menebas lehar Calon Arang, sesaat kemudian kepala Calon Arang yang jatuh ke tanah menyatu kembali dengan tubuhnya. Begitu tubuhnya kembali utuh, Calon Arang tertawa terbahak-bahak.

“Hi… hi… hi… hi… ! Kamu tidak akan sanggup membunuhku Pak Tua!” seru Calon Arang.

Patih Narottama tidak putus asa. Ia terus menebaskan pedangnya pada leher Calong Arang. Namun, Calon Arang tetap tidak bisa mati. Akhirnya, Pati Narottama memerintahkan pasukannya untuk mundur dan kembali ke istana Kahuripan.

Mengetahui kegagalan Patih Narottama dan pasukannya tersebut, Sri Baginda Erlangga segera memanggil Empu Bharada yang merupakan adik sepupu Calon Arang. Tak berapa lama kemudian, Empu Bharada pun datang menghadap ke istana.

“Ampun, Baginda! Ada apa gerangan Baginda memanggil hamba?” tanya Empu Bharada.

“Begini, Empu! Calon Arang telah membuat resah seluruh rakyat di negeri ini. Aku sudah memerintahkan patih dan para pasukan pilihan kerajaan untuk menangkapnya, namun mereka tidak sanggup menghadapi kesaktian Calon Arang. Hanya Empulah satu-satunya harapanku. Aku yakin, Empu akan mampu menangkapnya,” jawab Sri Baginda Erlangga.

“Baiklah, Baginda! Hamba bersedia memenuhi permintaan Baginda,” kata Empu Bharada seraya berpamitan sambil memberi hormat.

Setibanya di rumah, Empu Bharada memanggil muridnya yang bernama Bahula untuk mengatur siasat.

“Apa yang harus kita lakukan, Empu? Bukankah Calon Arang memiliki kesaktian yang tinggi?” tanya Bahula.

“Benar katamu, Bahula! Tapi, aku tahu kelemahannya. Rahasia kesaktian Calon Arang terdapat di dalam sebuah kitab pusaka. Aku yakin, kitab itu pasti disembunyikan di dalam rumahnya. Untuk itu, aku tugaskan kamu untuk mengambil kitab itu,” jawab Empu Bharada.

“Bagaimana caranya, Empu?” Bahula kembali bertanya.

“Begini, Bahula! Bukankah Calon Arang mempunyai seorang anak gadis yang bernama Ratna Manggali? Nah, untuk mengambil kitab itu, kamu harus menikah dengannya. Setelah menjadi suaminya, tentu kamu akan tinggal di rumah Calon Arang. Dengan demikian, kamu bisa menyelidiki di mana kitab pusaka itu disembunyikan,” jawab Empu Bharada.

Mendengar penjelasan gurunya, Bahula terdiam sejenak. Ia memikirkan kekasihnya, Wedawati, yang tak lain adalah putri Empu Bharada.

“Bagaimana dengan Wedawati, Empu?” tanya Bahula.

“Demi ketenteraman negeri ini, aku merestuimu menikah dengan Ratna Manggali! Tapi, ingat! Jangan sampai hal ini diketahui oleh Wedawati!” ujar Empu Bharada.

Bahula pun bersedia menikahi anak gadis Calon Arang. Keesokan harinya, Bahula berpamitan kepada gurunya. Sebelum ia berangkat, Empu Bharada berpesan kepadanya agar segera kembali setelah berhasil mengambil kitab pusaka itu.

Setelah itu, berangkatlah Bahula ke Desa Girah untuk melamar Ratna Manggali. Sesampainya di desa itu, ia pun menyampaikan maksudnya kepada Calon Arang. Tanpa curiga sedikit pun, Calon Arang menerima lamarannya. Sehari kemudian, pesta pernikahan Bahula dan Ratna Manggali dilangsungkan secara sederhana. Setelah menjadi suami Ratna Manggali, Bahula tinggal di rumah Calon Arang. Ia pun tidak menyia-nyiakan kesempatan itu untuk menyelidiki tempat kitab pusaka itu disimpan.

Pada suatu malam, ketika seluruh isi rumah sedang tertidur pulas, Bahula masuk ke kamar Calon Arang dengan langkah sangat hati-hati. Di dalam kamar itu, ia melihat sebuah peti berwarna coklat yang disimpan di dalam lemari.

“Hmmm… aku yakin kitab pusaka Calon Arang pasti disimpan di dalam peti itu,” kata Bahula dalam hati.

Dengan langkah perlahan-lahan, Bahula mengambil peti itu dan segera membawanya keluar dari kamar Calon Arang. Sebelum kembali tidur, ia memeriksa isi peti itu untuk memastikan apakah di dalamnya berisi kitab pusaka. Ternyata benar, peti itu berisi sebuah kitab yang sudah mulai usang.

Keesokan harinya, pagi-pagi sekali, Bahula meminta izin kepada istri dan Calon Arang untuk menjenguk keluarganya di kampung. Calon Arang pun mengizinkannya tanpa curiga sedikit pun. Bahkan saat Bahula akan berangkat, ia mengantarnya sampai ke depan rumah.

Setelah Bahula pergi, Calon Arang kembali masuk ke kamarnya. Betapa terkejutnya ia ketika melihat kitab pusakanya sudah tidak ada lagi di dalam lemari. Ia pun sadar bahwa Bahula telah mengambil kitab itu. Dengan marah, ia segera keluar dari rumahnya hendak mengejar Bahula. Namun, Bahula telah pergi meninggalkan desa itu.

Sementara itu, Bahula yang telah sampai di padepokannya segera menyerahkan kitab pusaka itu kepada Empu Bharada.

“Apakah kitab pusaka ini yang Empu maksud?” tanya Bahula seraya meletakkan peti itu di depan gurunya.

“Ya, Benar! Kekuatan sihir Calon Arang ada pada kitab ini,” jawab Empu Bharada setelah memeriksa isi peti itu.

“Baiklah, Bahula! Aku harus segera mempelajari isi kitab ini sebelum Calon Arang menyusul kemari,” kata Empu Bharada.

Usai mempelajari isi kitab pusaka tersebut, Empu Bharada memberitahukan kepada Bahula mengenai kelemahan Calon Arang.

“Menurut kitab ini, satu-satunya senjata yang bisa membunuh Calon Arang adalah keris Weling Putih,” ungkap Empu Bharada.

“Bukankah keris Weling Putih itu ada pada Empu?” tanya Bahula.

“Ya, kebetulan sekali, Bahula! Jadi, dengan keris itu kita dapat menghabisi nyawa Calon Arang dengan mudah,” jawab Empu Bharada sambil tersenyum.

Setelah mempersiapkan keris Weling Putihnya, Empu Bharada bersama Bahula datang menemui Calon Arang di Desa Girah. Setibanya mereka di sana, alangkah terkejutnya Calon Arang ketika melihat Bahula datang bersama Empu Bharada. Ia baru sadar, ternyata menantunya adalah murid Empu Bharada, adik sepupunya.

“Hai, Bahula! Rupanya kau telah memperdayaiku. Kamu menikah dengan anak gadisku karena hanya ingin mencuri kitab pusakaku. Ayo kembalikan kitab pusaka itu kepadaku!” seru Calong Arang dengan kesal.

“Maaf, Kang Ayu! Kami melakukan semua ini atas perintah Gusti Raja. Beliau tidak tahan lagi melihat penderitaan rakyat negeri ini karena penyakit aneh yang kamu sebarkan itu,” sahut Empu Bharada.

“Persetan dengan Gusti Raja! Kembalikan kitab pusaka itu!” seru Calon Arang.

Berkali-kali Calon Arang meminta agar kitab pusakanya dikembalikan kepadanya, namun Empu Bharada tetap menolak untuk memberikannya. Kemarahan Calon Arang pun semakin memuncak. Tiba-tiba ia menyerang Empu Bharada dengan ilmu sihirnya. Dengan cepat, Empu Bharada mencabut keris Weling Putih yang terselip di pinggangnya untuk menangkis sihir itu. Setelah berhasil menangkis sihir itu, Empu Bharada hendak berbalik menyerang. Namun baru saja ia mengacung-acungkan kerisnya, tiba-tiba Calon Arang berteriak meminta ampun karena takut pada keris itu.

“Ampun, Dimas! Ampunilah aku!” pinta Calon Arang menghiba.

“Hai, Calon Arang! Walaupun kau adalah kakak sepupuku, kau tetap musuhku. Kau telah membuat rakyat di negeri ini menderita. Lebih baik kamu mati saja!” seru Empu Bharada seraya menghujamkan keris Weling Putihnya ke tubuh Calon Arang.

Akhirnya, Calon Arang pun tewas. Sepeninggal Calon Arang, Bahula tetap menjadi suami Ratna Manggali. Konon, Bahula juga menikah dengan kekasihnya, Wedawati. Sejak kematian Calon Arang, penyakit aneh yang menimpa rakyat Kahuripan serta merta hilang. Mereka pun kembali hidup damai dan sejahtera.

* * *

Demikian cerita Calon Arang daerah Jawa Timur, Indonesia. Cerita di atas termasuk kategori dongeng yang mengandung pesan-pesan moral yang dapat dijadikan pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Pesan moral yang dapat dipetik dari cerita di atas adalah akibat yang ditimbulkan dari sifat sombong dan angkuh, dan suka bertindak semena-mena terhadap orang lain. Hal ini tampak pada perilaku Calon Arang yang merasa bahwa tak seorang pun yang mampu mengalahkan kesaktiannya. Menurut orang tua-tua Melayu, sifat sombong dan angkuh merupakan sifat tercela yang dapat mendatangkan bencana bagi diri sendiri. Dikatakan dalam tunjuk ajar Melayu:

kalau suka membesarkan diri,
saudara menjauh, sahabat pun lari

kalau dipakai sifat sombong,
alamat perut akan mengembung

Pelajaran lain yang dapat dipetik dari cerita di atas adalah bahwa barangsiapa menabur angin, maka ia akan menuai badai. Hal ini ditunjukkan oleh perilaku Calon Arang yang telah menyebarkan penyakit kepada rakyat Negeri Kahuripan. Akibatnya, ia pun tewas. Dikatakan dalam tunjuk ajar Melayu:

kalau suka berbuat jahat,
lambat laun ditimpa mudarat

Leave a comment »

Timun Mas

Timun Mas adalah seorang gadis cantik yang baik hati, cerdas, dan pemberani. Itulah sebabnya, ia sangat disayangi oleh ibunya yang bernama Mbok Srini. Suatu ketika, sesosok raksasa jahat ingin menyantap Timun Mas. Berkat keberaniannya, ia bersama ibunya berhasil melumpuhkan raksasa jahat itu. Kenapa raksasa itu hendak memangsa Timun Mas? Lalu, bagaimana Timun Mas dan ibunya mengalahkan raksasa itu? Kisah menarik ini dapat Anda ikuti dalam cerita Timun Mas berikut ini.

* * *

Alkisah, di sebuah kampung di daerah Jawa Tengah, hiduplah seorang janda paruh baya yang bernama Mbok Srini. Sejak ditinggal mati oleh suaminya beberapa tahun silam, ia hidup sebatang kara, karena tidak mempunyai anak. Ia sangat mengharapkan kehadiran seorang anak untuk mengisi kesepiannya. Namun, harapan itu telah pupus, karena suaminya telah meninggal dunia. Ia hanya menunggu keajaiban untuk bisa mendapatkan seorang anak. Ia sangat berharap keajaiban itu akan terjadi padanya. Untuk meraih harapan itu, siang malam ia selalu berdoa kepada Tuhan Yang Mahakuasa agar diberi anak.

Pada suatu malam, harapan itu datang melalui mimpinya. Dalam mimpinya, ia didatangi oleh sesosok makhluk raksasa yang menyuruhnya pergi ke hutan tempat biasanya ia mencari kayu bakar untuk mengambil sebuah bungkusan di bawah sebuah pohon besar. Saat terbangun di pagi hari, Mbok Srini hampir tidak percaya dengan mimpinya semalam.

“Mungkinkah keajaiban itu benar-benar akan terjadi padaku?” tanyanya dalam hati dengan ragu.

Namun, perempuan paruh baya itu berusaha menepis keraguan hatinya. Dengan penuh harapan, ia bergegas menuju ke tempat yang ditunjuk oleh raksasa itu. Setibanya di hutan, ia segera mencari bungkusan itu di bawah pohon besar. Betapa terkejutnya ia ketika menemukan bungkusan yang dikiranya berisi seorang bayi, tapi ternyata hanyalah sebutir biji timun. Hatinya pun kembali bertanya-tanya.

“Apa maksud raksasa itu memberiku sebutir biji timun?” gumam janda itu dengan bingung.

Di tengah kebingungannya, tanpa ia sadari tiba-tiba sesosok makhluk raksasa berdiri di belakangnya sambil tertawa terbahak-bahak.

“Ha… ha… ha…!” demikian suara tawa raksasa itu.

Mbok Srini pun tersentak kaget seraya membalikkan badannya. Betapa terkejutnya ia karena raksasa itulah yang hadir dalam mimpinya. Ia pun menjadi ketakutan.

“Ampun, Tuan Raksasa! Jangan memakanku! Aku masih ingin hidup,” pinta Mbok Srini dengan muka pucat.

“Jangan takut, hai perempuan tua! Aku tidak akan memakanmu. Bukankah kamu menginginkan seorang anak?” tanya raksasa itu.

“Be… benar, Tuan Raksasa!” jawab Mbok Srini dengan gugup.

“Kalau begitu, segera tanam biji timun itu! Kelak kamu akan mendapatkan seorang anak perempuan. Tapi, ingat! Kamu harus menyerahkan anak itu kepadaku saat ia sudah dewasa. Anak itu akan kujadikan santapanku,” ujar raksasa itu.

Karena begitu besar keinginannya untuk memiliki anak, tanpa sadar Mbok Srini menjawab, “Baiklah, Raksasa! Aku bersedia menyerahkan anak itu kepadamu.”

Begitu Mbok Srini selesai menyatakan kesediaannya, raksasa itu pun menghilang. Perempuan itu segera menanam biji timun itu di ladangnya. Dengan penuh harapan, setiap hari ia merawat tanaman itu dengan baik. Dua bulan kemudian, tanaman itu pun mulai berbuah. Namun anehnya, tanaman timun itu hanya berbuah satu. Semakin hari buah timun semakin besar melebihi buah timun pada umumnya. Warnanya pun sangat berbeda, yaitu berwarna kuning keemasan. Ketika buah timun masak, Mbok Srini memetiknya, lalu membawanya pulang ke gubuknya dengan susah payah, karena berat. Betapa terkejutnya ia setelah membelah buah timun itu. Ia mendapati seorang bayi perempuan yang sangat cantik. Saat akan menggendongnya, bayi itu tiba-tiba menangis.

“Ngoa… ngoa… ngoa… !!!” demikian suara bayi itu.

Alangkah bahagianya hati Mbok Srini mendengar suara tangisan bayi yang sudah lama dirindukannya itu. Ia pun memberi nama bayi itu Timun Mas.

“Cup… cup… cup..!!! Jangan menangis anakku sayang… Timun Mas!” hibur Mbok Srini.

Perempuan paruh baya itu tak mampu lagi menyembuyikan kebahagiaannya. Tak terasa, air matanya menetes membasahi kedua pipinya yang sudah mulai keriput. Perasaan bahagia itu membuatnya lupa kepada janjinya bahwa dia akan menyerahkan bayi itu kepada raksasa itu suatu saat kelak. Ia merawat dan mendidik Timun Mas dengan penuh kasih sayang hingga tumbuh menjadi gadis yang cantik jelita. Janda tua itu sangat bangga, karena selaing cantik, putrinya juga memiliki kecerdasan yang luar biasa dan perangai yang baik. Oleh karena itu, ia sangat sayang kepadanya.

Suatu malam, Mbok Srini kembali bermimpi didatangi oleh raksasa itu dan berpesan kepadanya bahwa seminggu lagi ia akan datang menjemput Timun Mas. Sejak itu, ia selalu duduk termenung seorang diri. Hatinya sedih, karena ia akan berpisah dengan anak yang sangat disayanginya itu. Ia baru menyadari bahwa raksasa itu ternyata jahat, karena Timun Mas akan dijadikan santapannya.

Melihat ibunya sering duduk termenung, Timun Mas pun bertanya-tanya dalam hati. Suatu sore, Timun Emas memberanikan diri untuk menanyakan kegundahan hati ibunya.

“Bu, mengapa akhir-akhir ini Ibu selalu tampak sedih?” tanya Timun Mas.

Sebenarnya Mbok Srini tidak ingin menceritakan penyebab kegundahan hatinya, karena dia tidak ingin anak semata wayangnya itu ikut bersedih. Namun, karena terus didesak, akhirnya ia pun menceritakan perihal asal-usul Timun Mas yang selama ini ia rahasiakan.

“Maafkan Ibu, Anakku! Selama ini Ibu merahasiakan sesuatu kepadamu,” kata Mbok Srini dengan wajah sedih.

“Rahasia apa, Bu?” tanya Timun Mas penasaran.

“Ketahuilah, Timun Mas! Sebenarnya, kamu bukanlah anak kandung Ibu yang lahir dari rahim Ibu.”

Belum selesai ibunya bicara, Timun Mas tiba-tiba menyela.

“Apa maksud, Ibu?” tanya Timun Mas.

Mbok Srini pun menceritakan semua rahasia tersebut hingga mimpinya semalam bahwa sesosok raksasa akan datang menjemput anaknya itu untuk dijadikan santapan. Mendengar cerita itu, Timun Mas tersentak kaget seolah-olah tidak percaya.

“Timun tidak mau ikut bersama raksasa itu. Timun sangat sayang kepada Ibu yang telah mendidik dan membesarkan Timun,” kata Timun Mas.

Mendengar perkataan Timun Mas, Mbok Srini kembali termenung. Ia bingung mencari cara agar anaknya selamat dari santapan raksasa itu. Sampai pada hari yang telah dijanjikan oleh raksasa itu, Mbok Srini belum juga menemukan jalan keluar. Hatinya pun mulai cemas. Dalam kecemasannya, tiba-tiba ia menemukan sebuah akal. Ia menyuruh Timun Mas berpura-pura sakit. Dengan begitu, tentu raksasa itu tidak akan mau menyantapnya. Saat matahari mulai senja, raksasa itu pun mendatangi gubuk Mbok Srini.

“Hai, Perempuan Tua! Mana anak itu? Aku akan membawanya sekarang,” pinta raksasa itu.

“Maaf, Tuan Raksasa! Anak itu sedang sakit keras. Jika kamu menyantapnya sekarang, tentu dagingnya tidak enak. Bagaimana kalau tiga hari lagi kamu datang kemari? Saya akan menyembuhkan penyakitnya terlebih dahulu,” bujuk Mbok Srini mengulur-ulur waktu hingga ia menemukan cara agar Timur Mas bisa selamat.

“Baiklah, kalau begitu! Tapi, kamu harus berjanji akan menyerahkan anak itu kepadaku,” kata raksasa itu.

Setelah Mbok Srini menyatakan berjanji, raksasa itu pun menghilang. Mbok Srini kembali bingung mencari cara lain. Setelah berpikir keras, akhirnya ia menemukan cara yang menurutnya dapat menyelamatkan anaknya dari santapan raksasa itu. Ia akan meminta bantuan kepada seorang pertapa yang tinggal di sebuah gunung.

“Anakku! Besok pagi-pagi sekali Ibu akan pergi ke gunung untuk menemui seorang pertapa. Dia adalah teman almarhum suami Ibu. Barangkali dia bisa membantu kita untuk menghentikan niat jahat raksasa itu,” ungkap Mbok Srini.

“Benar, Bu! Kita harus membinasakan raksasa itu. Timun tidak mau menjadi santapannya,” imbuh Timun Mas.

Keesokan harinya, pagi-pagi sekali, berangkatlah Mbok Srini ke gunung itu. Sesampainya di sana, ia langsung menemui pertapa itu dan menyampaikan maksud kedatangannya.

“Maaf, Tuan Pertapa! Maksud kedatangan saya kemari ingin meminta bantuan kepada Tuan,” kata Mbok Srini.

“Apa yang bisa kubantu, Mbok Srini?” tanya pertapa itu.

Mbok Srini pun menceritakan masalah yang sedang dihadapi anaknya. Mendengar cerita Mbok Srini, pertapa itu pun bersedia membantu.

“Baiklah, kamu tunggu di sini sebentar!” seru pertapa itu seraya berjalan masuk ke dalam ruang rahasianya.

Tak berapa lama, pertapa itu kembali sambil membawa empat buah bungkusan kecil, lalu menyerahkannya kepada Mbok Srini.

“Berikanlah bungkusan ini kepada anakmu. Keempat bungkusan ini masing-masing berisi biji timun, jarum, garam dan terasi. Jika raksasa itu mengejarnya, suruh sebarkan isi bungkusan ini!” jelas pertapa itu.

Setelah mendapat penjelasan itu, Mbok Srini pulang membawa keempat bungkusan tersebut. Setiba di gubuknya, Mbok Srini menyerahkan keempat bungkusan itu dan menjelaskan tujuannya kepada Timun Mas. Kini, hati Mbok Srini mulai agak tenang, karena anaknya sudah mempunyai senjata untuk melawan raksasa itu.

Dua hari kemudian, Raksasa itu pun datang untuk menagih janjinya kepada Mbok Srini. Ia sudah tidak sabar lagi ingin membawa dan menyantap daging Timun Mas.

“Hai, perempuan tua! Kali ini kamu harus menepati janjimu. Jika tidak, kamu juga akan kujadikan santapanku!” ancam raksasa itu.

Mbok Srini tidak gentar lagi menghadapi ancaman itu. Dengan tenang, ia memanggil Timun Mas agar keluar dari dalam gubuk. Tak berapa lama, Timun Emas pun keluar lalu berdiri di samping ibunya.

“Jangan takut, Anakku! Jika raksasa itu akan menangkapmu, segera lari dan ikuti petunjuk yang telah kusamapaikan kepadamu,” Mbok Srini membisik Timun Mas.

“Baik, Bu!” jawab Timun Mas.

Melihat Timun Mas yang benar-benar sudah dewasa, rakasasa itu semakin tidak sabar ingin segera menyantapnya. Ketika ia hendak menangkapnya, Timun Mas segera berlari sekencang-kencangnya. Raksasa itu pun mengejarnya. Tak ayal lagi, terjadilah kejar-kerajaan antara makhluk raksasa itu dengan Timun Mas. Setelah berlari jauh, Timun Mas mulai kecapaian, sementara raksasa itu semakin mendekat. Akhirnya, ia pun mengeluarkan bungkusan pemberian pertapa itu.

Pertama-tama Timun Mas menebar biji timun yang diberikan oleh ibunya. Sungguh ajaib, hutan di sekelilingnya tiba-tiba berubah menjadi ladang timun. Dalam sekejap, batang timun tersebut menjalar dan melilit seluruh tubuh raksasa itu. Namun, raksasa itu mampu melepaskan diri dan kembali mengejar Timun Mas.

Timun Emas pun segera melemparkan bungkusan yang berisi jarum. Dalam sekejap, jarum-jarum tersebut berubah menjadi rerumbunan pohon bambu yang tinggi dan runcing. Namun, raksasa itu mampu melewatinya dan terus mengejar Timun Mas, walaupun kakinya berdarah-darah karena tertusuk bambu tersebut.

Melihat usahanya belum berhasil, Timun Mas membuka bungkusan ketiga yang berisi garam lalu menebarkannya. Seketika itu pula, hutan yang telah dilewatinya tiba-tiba berubah menjadi lautan luas dan dalam, namun raksasa itu tetap berhasil melaluinya dengan mudah. Timun Emas pun mulai cemas, karena senjatanya hanya tersisa satu. Jika senjata tersebut tidak berhasil melumpuhkan raksasa itu, maka tamatlah riwayatnya. Dengan penuh keyakinan, ia pun melemparkan bungkusan terakhir yang berisi terasi. Seketika itu pula, tempat jatuhnya terasi itu tiba-tiba menjelma menjadi lautan lumpur yang mendidih. Alhasil, raksasa itu pun tercebur ke dalamnya dan tewas seketika. Maka selamatlah Timun Emas dari kejaran dan santapan raksasa itu.

Dengan sekuat tenaga, Timun Emas berjalan menuju ke gubuknya untuk menemui ibunya. Melihat anaknya selamat, Mbok Srini pun langsung berucap syukur kepada Tuhan Yang Mahakuasa. Sejak itu, Mbok Srini dan Timun Mas hidup berbahagia.

* * *

Demikian dongeng Timun Mas dari daerah Jawa Tengah, Indonesia. Cerita di atas memberikan pelajaran bahwa orang yang selalu berniat jahat terhadap orang lain seperti raksasa itu, pada akhirnya akan celaka. Selain itu, cerita di atas juga mengandung pelajaran bahwa dengan usaha dan kerja keras segala rintangan dan cobaan dalam hidup ini dapat diselesaikan dengan baik. Hal ini ditunjukkan oleh Mbok Srini dan Timun Mas. Berkat usaha dan kerja kerasnya, mereka dapat membinasakan raksasa jahat yang hendak memangsa Timun Mas

Leave a comment »

Jaka Tarub

Dahulu kala, di Desa Tarub, tinggal­lah seorang janda bernama Mbok Randa Tarub. Sejak suaminya me­­ninggal dunia, ia mengangkat seorang bo­­­cah laki-laki sebagai anaknya. Setelah dewa­sa, anak itu dipanggilnya Jaka Tarub.

Jaka Tarub anak yang baik. Tangannya ringan melakukan pekerjaan. Setiap hari, ia membantu Mbok Randha mengerjakan sawah ladangnya. Dari hasil sawah ladang itulah mereka hidup. Mbok Randha amat mengasihi Jaka Tarub seperti anaknya sendiri.

Waktu terus berlalu. Jaka Tarub ber­anjak dewasa. Wajahnya tampan, tingkah lakunya pun sopan. Banyak gadis yang men­dambakan untuk menjadi istrinya. Na­mun Jaka Tarub belum ingin beristri. Ia ingin berbakti kepada Mbok Randha yang di­anggap­nya sebagai ibunya sendiri. Ia be­ker­ja se­makin tekun, sehingga hasil sawah ladang­nya melimpah. Mbok Randha yang pe­­murah akan membaginya dengan te­tang­ga­nya yang kekurangan. “Jaka Tarub, Anakku. Mbok lihat kamu sudah de­wasa. Sudah pantas meminang gadis. Lekaslah me­nikah, Simbok ingin menimang cucu,” kata Mbok Randha suatu hari.

“Tarub belum ingin, Mbok,” jawab Jaka Tarub.

“Tapi jika Simbok tiada kelak, siapa yang akan mengurusmu?” tanya Mbok Randha lagi.

“Sudahlah, Mbok. Semoga saja Sim­bok berumur panjang,” jawab Jaka Tarub singkat.

“Hari sudah siang, tetapi Simbok be­lum bangun. Kadingaren …,” gumam Jaka Tarub suatu pagi. “Simbok sakit ya?” tanya Jaka Tarub meraba kening simboknya.

“Iya, Le,” jawab Mbok Randha lemah.

“Badan Simbok panas sekali,” kata Jaka Tarub cemas. Ia segera mencari daun dhadhap serep untuk mengompres simbok­nya. Namun rupanya umur Mbok Randha ha­nya sampai hari itu. Menjelang siang, Mbok Randha menghembuskan napas ter­akhirnya.

Sejak kematian Mbok Randha, Jaka Tarub sering melamun. Kini sawah ladang­nya terbengkalai. “Sia-sia aku bekerja. Un­­tuk siapa hasilnya?” demikian gumam Jaka Tarub.

Suatu malam, Jaka Tarub bermimpi me­makan daging rusa. Saat terbangun dari mimpinya, Jaka Tarub menjadi ber­se­­lera ingin makan daging rusa. Maka pagi itu, Jaka Tarub pergi ke hutan sambil mem­bawa sumpitnya. Ia ingin menyumpit rusa. Hingga siang ia berjalan, namun tak seekor rusa pun dijumpainya. Jangankan rusa, kancil pun tak ada. Padahal Jaka Tarub sudah masuk ke hutan yang jarang diambah manusia. Ia kemudian duduk di bawah pohon dekat telaga melepas lelah. Angin sepoi-sepoi membuatnya tertidur.

Tiba-tiba, sayup-sayup terdengar de­rai tawa perempuan yang bersuka ria. Jaka Tarub tergagap. “Suara orangkah itu?” gu­mamnya. Pandangannya ditujukan ke te­la­­­ga. Di telaga tampak tujuh perempuan can­­tik tengah bermain-main air, bercanda, ber­­suka ria. Jaka Tarub menganga melihat ke­­cantikan mereka. Tak jauh dari telaga, ter­geletak selendang mereka. Tanpa pikir panjang, diambilnya satu selendang, ke­mu­di­­an disembunyikannya.

Nimas, ayo cepat naik ke darat. Hari su­dah sore. Kita harus segera kembali ke kah­yangan,” kata Bidadari tertua. Bidadari yang lain pun naik ke darat. Mereka kem­bali mengenakan selendang masing-masing. Na­­­mun salah satu bidadari itu tak mene­­mu­kan selendangnya.

Kakangmbok, selendangku tidak ada,” katanya.

Keenam kakaknya turut membantu men­­cari, namun hingga senja tak ditemu­kan juga. “Nimas Nawang Wulan, kami tak bi­sa menunggumu lama-lama. Mungkin su­­dah nasibmu tinggal di mayapada,” kata Bidadari tertua. “Kami kembali ke kah­ya­ngan,” tambahnya.

Nawang Wulan menangis sendirian meratapi nasibnya. Saat itulah Jaka Tarub menolongnya. Diajaknya Nawang Wulan pulang ke rumah. Kini hidup Jaka Tarub kembali cerah. Beberapa bulan kemudian, Jaka Tarub menikahi Nawang Wulan. Keduanya hidup berbahagia. Tak lama kemudian Nawang Wulan melahirkan Nawangsih, anak mereka.

Pada suatu hari, Nawang wulan ber­pesan kepada Jaka Tarub, “Kakang, aku sedang memasak nasi. Tolong jagakan apinya, aku hendak ke kali. Tapi jangan dibuka tutup kukusan itu,” pinta Nawang Wu­lan. Sepeninggal istrinya, Jaka Tarub pe­­na­saran dengan larangan istrinya. Ma­ka dibukanya kukusan itu. Setangkai padi tampak berada di dalam kukusan. “Pan­tas padi di lumbung tak pernah habis. Rupa­nya istriku dapat memasak setangkai padi menjadi nasi satu kukusan penuh,” gumam­nya. Saat Nawang Wulan pulang, ia mem­buka tutup kukusan. Setangkai padi ma­sih tergolek di dalamnya. Tahulah ia bahwa suaminya telah membuka kukusan hingga hilanglah kesaktiannya. Sejak saat itu, Na­wang Wulan harus menumbuk dan me­nam­pi beras untuk dimasak, seperti wa­ni­ta umumnya. Karena tumpukan pa­di­­nya terus berkurang, suatu waktu, Na­­wang Wulan menemukan selendang bi­da­­­da­ri­nya terselip di antara tumpukan pa­di. Tahulah ia bahwa suaminyalah yang me­­nyem­bu­nyi­kan selendang itu. Dengan se­ge­ra dipakainya selendang itu dan pergi menemui suaminya.

“Kakang, aku harus kembali ke kah­yangan. Jagalah Nawangsih. Buatkan da­ngau di sekitar rumah. Setiap malam letak­­kan Nawangsih di sana. Aku akan datang me­nyusuinya. Namun Kakang ja­nganlah mendekat,” kata Nawang Wulan, kemu­di­an terbang ke menuju kahyangan.

Jaka Tarub menuruti pesan istrinya. Ia buat dangau di dekat rumahnya. Setiap malam ia memandangi anaknya ber­­­­main-main dengan ibunya. Setelah Na­wang­sih tertidur, Nawang Wulan kem­bali ke kah­ya­ngan. Demikian hal itu ter­jadi berulang-ulang hingga Nawangsih besar. Walaupun de­mikian, Jaka Tarub dan Nawangsih me­­­­­­rasa Na­wang Wulan selalu menjaga me­reka. Di saat ke­duanya mengalami ke­sulit­­an, ban­­tu­­an akan datang tiba-tiba. Ko­non itu ada­lah bantuan dari Nawang Wulan.

Mbok, simbok   :           Bu, ibu.

Kadingaren    :  tumben.

Le, thole        :  panggilan untuk anak lelaki di Jawa.

Diambah        :  dijamah, diinjak.

Nimas            :  adik; panggilan untuk adik perempuan.

Kakangmbok  :  kakak; panggilan untuk kakak perem­puan.

Mayapada      :  bumi.

Kakang          :  kakak; panggilan untuk kakak laki-laki/ untuk suami.

Kali                :  sungai.

Kukusan        :  alat pengukus berbentuk kerucut, ter­­buat dari bambu yang dianyam.

Comments (4) »

Si Pitung

Si Pitung adalah tokoh legendaris dan pahlawan dalam masyarakat Betawi di Jakarta. Ia dipercaya sebagai pesilat unggul yang saleh dan rendah hati. Dengan keahliannya itu, ia membela rakyat kecil di daerah Jakarta yang tertindas oleh penjajahan Belanda. Ia merampok orang-orang yang menjadi kaya karena menjadi kaki tangan Belanda, lalu membagi-bagikan hasil rampasannya kepada rakyat jelata. Sehingga, ia dikenal juga sebagai “Robin Hood dari Betawi”.

Hingga kini, orang Betawi percaya bahwa si Pitung memang pernah ada, berjuang, dan setelah gugur dimakamkan di Marunda, Jakarta Utara. Berikut ini kisah pesilat legendaris tersebut.

***

Pada suatu sore, Pak Piun duduk-duduk di depan rumahnya. Seharian ia bekerja di sawah, dan sore itu ia ingin melepas lelah bersama keluarganya. Bu Pinah, istrinya, duduk di balai-balai bambu sambil memegangi perutnya yang membuncit. Beberapa hari lagi Bu Pinah akan melahirkan. Pak Piun tersenyum bahagia, sembari menggumamkan doa, semoga anak yang lahir kelak akan menjadi anak yang berguna.

Tiba-tiba salah satu dari ketiga anaknya yang duduk di dekat Bu Pinah bertanya kepada Pak Piun.

“Pak, kenapa padi yang baru saja dipanen dirampas oleh centeng-centeng Babah Liem?”

Pak Piun terdiam sejenak, lalu menjawab dengan pelan.

“Biarlah, Nak. Lagipula kita masih punya padi.”

Sebenarnya, hati Pak Piun sedih bukan kepalang. Ia pun risau karena padi yang baru saja dipanen tiba-tiba saja dirampas oleh centeng-centeng Babah. Namun, di daerah itu, rakyat jelata seperti dia tidak bisa melawan perampasan itu.

Kampung Rawabelong, kampungnya, adalah bagian dari partikelir Kebayoran. Tuan Tanah yang berkuasa di sana adalah Liem Tjeng Soen. Tanah partikelir itu diperoleh dari pemerintahan Belanda melalui pembelian dokumen tanah, serta kesediaan untuk membayar pajak kepada Belanda.

Untuk menjaga tanah itu, Babah Liem mengangkat centeng-centeng dari kalangan pribumi. Mereka bertugas menagih pajak kepada penduduk. Para penduduk tidak berani melawan centeng-centeng yang pandai bersilat dan mahir memainkan senjata itu. Maka, mereka hanya terdiam ketika centeng-centeng mengambili ayam, kambing, padi, dan apa saja yang bisa dibawa.

Beberapa hari kemudian, Bu Pinah melahirkan. Pak Piun menamai anak yang baru lahir itu Pitung, dan memanggilnya dengan nama si Pitung. Sebagaimana anak-anak Betawi umumnya, Pitung dibesarkan dalam keluarganya sendiri. Ia diajari tata krama, belajar mengaji, membantu ayahnya menanam padi, memetik kelapa, dan mencari rumput untuk pakan kambing. Adakalanya Pitung membantu tetangga-tetangganya tanpa diminta.

Pitung pun rajin menunaikan perintah Allah, sholat dan puasa, serta selalu bertutur kata dengan santun dan patuh kepada kedua orangtuanya.

Pitung belajar pengetahuan agama dan silat serta ilmu bela diri lainnya dari Haji Naipin, seorang ulama yang dihormati di kampung Rawabelong. Karena Pitung patuh dan rajin berlatih, ia menjadi murid kesayangan Haji Naipin. Kepadanya seluruh ilmu Haji Naipin dicurahkan, dengan harapan kelak ia menjadi murid yang berguna bagi masyarakat. Haji Naipin bahkan memberikan ilmu Pancasona, sebuah ilmu kebal senjata, kepada Pitung. Kata Haji Naipin, “Ilmu ini buat membela yang lemah dari kezaliman, bukan untuk menzalimi orang.”

Meski menjadi murid kesayangan Haji Naipin, tetapi Pitung selalu rendah hati. Kepada orang lain ia selalu bersikap santun dan terpuji. Ia pun tak luput dari gejolak masa muda. Ia menjalin hubungan dengan Aisyah, dan berjanji akan menikah bila kelak usia mereka sudah pantas untuk menikah.

Pada suatu hari, Pitung menyaksikan sendiri kesewenang-wenangan centeng-centeng Babah Liem. Centeng-centeng itu mendatangi rumah tetangganya dan merampas ayam, kambing, kelapa, dan simpanan padi di lumbung. Sebagai pemuda, darahnya mendidih. Ia ingin menghajar mereka.

Namun, ibunya mencegah Pitung.

“Jangan, Tung. Mereka punya kuasa. Nanti juga mereka mendapatkan hukuman sendiri.”

Karena ingin mematuhi nasehat ibunya, Pitung mengurungkan niatnya untuk menghajar centeng-centeng itu. Namun, di hari lain, ketika ia sedang berkunjung di kampung tetangga, ia melihat lagi centeng-centeng itu bertindak sewenang-wenang.

Pitung tak dapat menahan diri lagi. Dihampirinya centeng-centeng yang sedang sibuk merampasi barang keluarga yang malang itu.

“Hei, para pengecut!” seru Pitung. “Kenapa kalian merampas harta orang lain? Pakai keroyokan lagi. Sendiri-sendiri kalau berani!”

Pemimpin centeng menoleh kepada Pitung dan tersenyum merendahkan.

“Hai, kamu tidak tahu siapa kami ini ya? Pantas saja kamu berani membentak-bentak seperti itu.”

“Cuih!” Pitung meludah dengan marah. “Kalian hanya berani mengeroyok orang yang lemah. Sini, kalau berani bertarung melawanku.”

Pemimpin centeng itu menjadi geram. Ia menyerang Pitung sekenanya saja, mengira bahwa Pitung akan mudah dirobohkan. Namun, di luar dugaannya, Pitung malah mencekal lengannya dan membantingnya ke tanah hingga pingsan. Centeng-centeng yang lain menghentikan kesibukan mereka dan mengepung Pitung. Dengan sigap Pitung menyerang lebih dulu. Ada lima centeng yang mengeroyoknya. Satu demi satu ia hajar pelipis atau tulang kering mereka hingga mereka mengaduh kesakitan. Lalu mereka menggotong pimpinan centeng yang masih pingsan dan melarikan diri.

Sebelum pergi, mereka mengancam: “Awas, nanti kami laporkan Demang.”

Beberapa hari setelah peristiwa itu, nama Pitung menjadi buah bibir di seluruh Kebayoran. Namun, Pitung tak mau congkak. Ia bahkan menghindar kalau ada orang yang bertanya kepadanya tentang kejadian itu.

Suatu hari, Pak Piun menyuruh Pitung menjual kambing ke Pasar Tanah Abang. Pak Piun sedang membutuhkan uang untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Pitung pun mengeluarkan dua ekor kambing dari kandang dan menuju ke Pasar Tanah Abang. Tanpa sepengetahuannya, ada seorang centeng yang membuntutinya. Centeng itu terus mengawasi Pitung ketika Pitung mengantongi uang hasil penjualan kambing. Bahkan ketika Pitung berjalan pulang dan singgah di sebuah mushola, orang itu tetap membuntutinya. Ketika Pitung melepas bajunya untuk mandi di sungai dan berwudhu, orang itu mencuri uang di saku baju Pitung.

Pitung sampai di rumah dan dimarahi ayahnya karena uang itu hilang. Dengan geram ia kembali ke Pasar Tanah Abang dan mencari orang yang telah mencuri uangnya. Setelah melakukan penyelidikan, ia menemukan orang itu. Orang itu sedang berkumpul dengan centeng-centeng lainnya di sebuah kedai kopi.

Pitung mendatanginya dan menghardik, “Kembalikan uangku!”

Para centeng itu tertawa.

Salah seorang berkata, “Kamu boleh ambil uang ini, tapi kamu harus menjadi anggota kami.”

“Cuh! Tak sudi aku jadi maling,” jawab Pitung dengan kasar.

Para centeng itu marah mendengar jawaban Pitung. Serentak mereka menyerbu Pitung. Namun, yang mereka hadapi adalah Si Pitung dari Kampung Rawabelong yang pernah menghajar enam orang centeng Babah Liem sendirian. Akibatnya, satu demi satu mereka kena tinju Si Pitung. Yang berani menggunakan senjata malah dimakan sendiri oleh senjata mereka.

Sejak hari itu, Si Pitung memutuskan untuk membela orang-orang yang lemah. Ia tak tahan lagi melihat penderitaan rakyat jelata, yang ditindas centeng-centeng tuan tanah dan dihisap oleh penjajah Belanda. Beberapa centeng yang pernah dihajarnya ada yang insyaf dan ia mengajak mereka untuk membentuk suatu kelompok. Bersama kelompoknya, ia merampoki rumah-rumah orang kaya dan membagi-bagikan harta rampasannya kepada orang-orang miskin dan lemah.

Nama Pitung menjadi harum di kalangan rakyat jelata. Namun, pada saat yang bersamaan, muncul juga kelompok-kelompok lain yang ikut-ikutan merampok atas nama Si Pitung. Para tuan tanah dan orang-orang yang mengambil keuntungan dengan cara memihak Belanda menjadi tidak tenteram. Mereka mengadukan persoalan itu kepada pemerintah Belanda.

Penguasa penjajah di Batavia pun memerintahkan aparat-aparatnya untuk menangkap Si Pitung. Schout Heyne, kontrolir Kebayoran, memerintahkan mantri polisi dan bek untuk mencari tahu di mana Pitung berada. Schout Heyne menjanjikan uang banyak kepada siapa saja yang mau memberi tahu keberadaan si Pitung

Mengetahui dirinya menjadi buron, Pitung berpindah-pindah tempat, bahkan pernah sampai ke Marunda. Selama itu, ia tetap melaksanakan perampasan harta orang-orang kaya, para demang dan tuan tanah. Harta rampasan selalu ia berikan kepada rakyat yang lemah dan tertindas oleh penjajahan.

Namun, pada suatu hari, Pitung dan kelompoknya terjebak oleh siasat polisi. Waktu itu mereka akan merampok rumah seorang demang. Polisi sudah lebih dulu bersembunyi di sekitar rumah demang itu. Ketika kelompok Pitung tiba, polisi segera mengepung rumah itu. Pitung membiarkan dirinya tertangkap, sementara teman-temannya berhasil meloloskan diri. Ia dibawa ke penjara Grogol dan disekap di sana.

Namun, karena selalu memikirkan nasib rakyat, ia meloloskan diri lewat genteng pada suatu malam. Para penjaga menjadi panik karenanya.

“Wah, bagaimana ini? Ke mana si Pitung” tanya mereka kepada teman satu sel Pitung.

“Saya tak tahu. Pitung kan sakti. Dia bisa menghilang,” jawab teman satu sel Pitung.

Kabar bahwa Pitung lolos membuat kontrolir dan orang-orang kaya menjadi tidak tenteram lagi. Schout Heyne memerintahkan orang untuk menangkap Pak Piun dan Haji Naipin. Kedua orang itu disiksa agar memberitahukan di mana Si Pitung berada. Namun, keduanya bungkam. Akibatnya, mereka berdua pun dibui di Grogol.

Sementara itu, Pitung terus menjalankan kegiatannya. Namun, ia menjadi berpikir panjang ketika mendengar kabar bahwa ayah dan gurunya dibui polisi. Ia mengirim pesan bahwa ia bersedia menyerahkan diri bila kedua orang itu dibebaskan. Schout Heyne setuju.

Pada hari yang ditentukan, mereka membawa Haji Naipin ke tanah lapang. Pak Piun sudah lebih dulu dibebaskan. Di tanah lapang itu, sepasukan polisi menodongkan senjata kepada Haji Naipin. Pitung muncul sendirian. Schout Heyne menyuruh Pitung menyerah. Pitung meminta agar Haji Naipin dilepaskan dulu.

Setelah Haji Naipin dilepaskan, Pitung maju menghadapi Schout Heyne. Pasukan polisi kini membidikkan senjata mereka kepada Pitung.

“Huh, tertangkap juga kamu, Pitung!” dengus Schout Heyne dengan nada sombong.

“Iya, tapi nanti aku pasti akan lolos lagi. Dengan orang pengecut seperti kalian, yang beraninya hanya mengandalkan anak buah, aku tidak takut,” jawab Pitung.

Schout Heyne menjadi marah. Ia mundur beberapa langkah dan memberi aba-aba agar pasukannya bersiap menembak. Haji Naipin yang masih ada di situ memprotes tindakan yang pengecut itu. Namun, sudah terlanjur, perintah menembak sudah diberikan, dan Pitung pun roboh bersimbah darah.

Pitung dimakamkan beberapa hari kemudian. Banyak rakyat yang turut mengiringi pemakamannya dan mendoakannya. Mereka akan selalu mengingat jasa Si Pitung, pembela dan pelindung mereka.

Beberapa bulan kemudian Schout Heyne dipecat dari jabatannya karena ia telah menembak orang yang tidak melawan ketika ditangkap.

***

Walaupun pada akhirnya si Pitung gugur oleh peluru pasukan Belanda, tetapi ia gugur sebagai pahlawan dan selalu dikenang oleh generasi selanjutnya. Kisah ini mengajarkan bahwa orang yang berani menegakkan kebenaran dan keadilan akan selalu berguna bagi dirinya sendiri maupun bagi orang lain. Sedangkan orang pengecut seperti Scout Heyne, yang menggunakan akal licik untuk menghadapi lawan, pada akhirnya akan memperoleh balasan dari kelicikannya.

Kisah tentang si Pitung berkembang menjadi cerita rakyat (folklore) dengan berbagai versi. Kemudian, selain dikisahkan ulang secara tercetak melalui buku dan majalah, kisah si Pitung juga diproduksi menjadi film yang selalu laris, seperti Titisan Si Pitung (1989-sutradara Tommy Burnama) dan Pitung 3: Pembalasan Si Pitung Ji’ih (1977-sutradara Nawi Ismail).

Pada tahun 1982, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta membeli sebuah rumah di Teluk Jakarta, Marunda, yang dipercaya sebagai rumah si Pitung. Namun, menurut Jakarta Post (23/10/1999), rumah itu sebenarnya milik Syafiudin, yang merupakan salah satu korban Si Pitung. Walaupun demikian, hal ini tetap membuktikan bahwa Si Pitung telah dianggap sebagai tauladan yang penting bagi masyarakat

Leave a comment »

Murtado Macan Kemayoran

Pada zaman penjajahan Belanda, di daerah Kemayoran tinggal se­orang pemuda bernama Murtado. Ayah­nya adalah anak mantan lurah di dae­rah tersebut. Murtado adalah anak yang baik. Ia suka menolong orang yang mem­bu­tuh­­kannya. Maka Murtado disenangi oleh pen­­­du­duk di kampung tersebut. Selain itu, ia te­kun menuntut ilmu, baik ilmu agama mau­­pun ilmu pengetahuan lainnya. Tak ke­tinggal­an, ilmu bela diri juga dipelajarinya hing­ga ia menjadi seorang jagoan yang rendah hati.

Pada waktu itu, keadaan masyarakat di daerah Kemayoran tidak tenteram. Pen­duduk selalu diliputi rasa ketakutan akibat gang­guan dari jagoan-jagoan Kemayoran yang ber­watak jahat. Belum lagi pajak yang di­tarik oleh Belanda dan Cina sangat mem­­berat­kan. Padahal, sebagian besar pen­duduk adalah petani miskin dan pe­da­gang kecil-kecilan.

Sebenarnya daerah itu dipimpin oleh orang pribumi yang bernama Bek Lihun dan Mandor Bacan. Namun keduanya te­lah menjadi kaki tangan Belanda se­hingga mereka sangat kejam dan hanya me­mikir­kan keuntungan pribadinya saja.

Pada suatu hari, di kampung Kema­yoran diadakan derapan padi. Acara itu boleh dilaksanakan dengan syarat se­tiap lima ikat padi yang dipotong, satu ikat adalah untuk yang memotong, sedangkan yang empat ikat untuk kompeni. Mandor Bacan ditunjuk mengawasi jalannya upacara itu.

Dalam upacara itu, ada seorang ga­dis cantik ikut memotong padi. Murtado pun tak ketinggalan ikut di samping gadis ter­sebut. Mereka rupanya sudah lama men­jalin kasih. Tiba-tiba Mandor Bacan me­lihat ke arah gadis itu dan berniat kurang ajar. Niat itu berhasil digagalkan Murtado. Ru­pa­nya Mandor Bacan tidak terima. Lalu terjadi­lah perkelahian. Dalam perkelahian itu Mur­tado memperlihatkan ketinggian ilmu beladirinya, sehingga Mandor Bacan da­pat dikalahkan dan lari terbirit-birit me­ninggalkan tempat itu kemudian melapor kepada Bek Lihun.

Mendengar laporan mandornya, Bek Lihun menjadi marah. Berbagai upaya di­lakukan untuk membunuh Murtado. Na­mun semua upaya itu dapat digagalkan Murtado. Sampai suatu hari, Bek Lihun mencoba mencelakai kekasih Murtado. Maka hilang­lah kesabaran Murtado. Di­ten­dang dan di­ha­jar­nya Bek Lihun hingga babak belur. Akhir­nya Bek Lihun minta ampun dan berjanji tidak akan melakukannya lagi. Se­telah kejadian-kejadian itu, maka mulai insyaflah Bek Lihun. Dia mulai menghargai Murtado.

Ketika itu beberapa gerombolan pe­rampok di bawah pimpinan Warsa mulai mengganas di Kemayoran. Setiap malam me­reka merampas harta benda penduduk. Kadang-kadang juga melakukan pem­bu­nuh­an. Menghadapi hal ini Bek Lihun me­rasa kewalahan. Bahkan ia berkali-kali men­­­­­­­­da­pat teguran dari kompeni karena tidak dapat me­njaga keamanan di kam­pung­­nya se­hingga pajak-pajak untuk kom­pe­ni tidak berjalan lancar.

Bek Lihun akhirnya meminta bantuan kepada Murtado. Murtado yang menyadari bah­­wa ia juga bertanggung jawab atas ke­­a­man­an kampung tersebut menyetujui per­­mohonan Bek Lihun. Bersama dua orang teman­nya yang bernama Saomin dan Sar­pin, Murtado mencari markas perampok itu di daerah Tambun dan Bekasi, tetapi tidak ditemu­kan. Kemudian mereka pergi ke dae­rah Kerawang. Di sana ge­rombol­an Warsa dapat dikalahkan. Warsa sen­diri mati da­lam perkelahian itu. Oleh Murtado dan teman-temannya semua ha­sil rampok­an gerombol­an itu diambil dan di­bawa kem­bali ke Ke­­ma­yoran. Kemudian di­kembali­kan lagi ke­pa­da pemiliknya masing-masing. Semua rakyat di daerah Ke­ma­yo­ran berterima kasih dan merasa ber­­hutang budi kepada Murtado.

Penguasa Belanda pun sangat meng­­­har­gai jasa-jasa Murtado. Mereka ingin men­g­­­ang­katnya menjadi bek di dae­­rah Ke­­­­­­ma­­­yo­r­an menggantikan Bek Lihun. Tetapi ta­­war­an Belanda ini ditolak Mur­tado, kare­na dia tidak ingin menjadi alat peme­rin­tah jajahan. “Lebih baik hidup sebagai rakyat biasa tetapi ikut menjaga keamanan rak­yat,” gumamnya. Murtado pun aktif ber­­­juang untuk membebaskan rakyat dari ceng­­­­­­­keraman penjajahan, penindasan, dan pemerasan.

Leave a comment »

Sangkuriang

Sangkuriang merupakan sebuah legenda yang sangat terkenal di kalangan masyarakat Sunda di Jawa Barat, Indonesia. Legenda ini mengisahkan perjuangan seorang pemuda bernama Sangkuriang untuk mendapatkan cinta dari seorang wanita cantik, yang tak lain adalah ibu kandungnya sendiri yang bernama Dayang Sumbi. Alhasil, keduanya pun bersepakat untuk menikah. Namun, setelah mengetahui bahwa Sangkuriang adalah putranya sendiri, Dayang Sumbi berusaha untuk menggagalkan pernikahan mereka dengan berbagai upaya. Upaya apa saja yang dilakukan Dayang Sumbi untuk menggagalkan pernikahannya dengan Sangkuriang? Lalu, mengapa Dayang Sumbi bersikeras untuk menggagalkan pernikahan tersebut? Ikuti kisahnya dalam cerita Sangkuriang berikut ini!

* * *

Alkisah, di daerah Jawa Barat, ada sebuah kerajaan yang dipimpin oleh Prabu Sungging Perbangkara. Ia sangat gemar berburu binatang di hutan. Suatu hari, seusai berburu, Prabu Sungging membuang air kecil (pipis) pada daun caring (keladi hutan). Saat ia meninggalkan tempatnya buang air kecil, tiba-tiba seekor babi yang bernama Wayungyang datang meminum air seninya yang tergenang di daun keladi itu. Rupanya air seni Prabu Sungging mengandung sperma sehingga menyebabkan Wayungyang hamil. Beberapa bulan kemudian, Wayungyang pun melahirkan seorang bayi perempuan yang cantik jelita. Setelah membersihkan tubuh bayi itu dengan menjilatnya, Wayungyang meletakkannya di atas batu besar di balik semak-semak, dengan harapan ayahnya (Prabu Sungging) akan menemukannya.

Ternyata harapan Wayungyang tercapai. Tak berapa lama setelah ia meninggalkan bayi itu, Prabu Sungging lewat di tempat itu dan mendengar ada suara tangisan bayi dari arah semak-semak. Dengan hati-hati, Prabu Sungging berjalan perlahan-lahan mendekati sumber suara itu dan mendapati seorang bayi perempuan mungil dan berparas cantik tergeletak di atas sebuah batu besar. Tanpa berpikir panjang, ia pun membawa pulang bayi itu ke istana. Sang Prabu memberinya nama Dayang Sumbi. Ia merawat dan membesarkan Dayang Sumbi dengan penuh kasih sayang.

Waktu terus berjalan. Dayang Sumbi tumbuh menjadi gadis yang cantik jelita. Selain cantik, ia juga sangat mahir menenun dan pandai memasak. Tak heran jika para raja dan pangeran silih berganti datang melamarnya. Namun, tak satu pun lamaran yang diterimanya. Ia tidak ingin terjadi pertumpahan darah di antara para raja dan pangeran tersebut dengan hanya menerima salah satu pinangan dari mereka. Akhirnya, dengan restu sang Prabu, Dayang Sumbi mengasingkan diri ke sebuah hutan lebat yang terletak jauh dari istana. Sang Prabu membuatkannya sebuah pondok di pinggir hutan dan menyiapkan alat-alat tenun kesukaannnya. Di pondok itulah, Dayang Sumbi menghabiskan waktunya sambil menenun kain.

Pada suatu malam, ketika Dayang Sumbi sedang menenun kain, tiba-tiba segulungan benangnya terjatuh dan berguling ke luar pondoknya. Karena malam sudah larut, ia merasa takut untuk mengambil gulungan kain itu. Tanpa disadarinya tiba-tiba terlontar ucapan dari mulutnya.

“Siapapun yang mau mengambilkan benang itu untukku, jika dia perempuan akan kujadikan saudara, dan jika dia laki-laki akan kujadikan suamiku,” ucapnya.

Tanpa diduga sebelumnya, tiba-tiba seekor anjing jantan berwarna hitam datang menghampirinya sambil membawa gulungan benang miliknya. Namun, apa hendak dikata, ia sudah terlanjur berucap. Ia harus menepati janjinya.

“Baiklah, Anjing. Aku akan mempertanggung jawabkan ucapanku. Meskipun kamu seekor anjing, aku tetap bersedia menjadi istrimu,” kata Dayang Sumbi.

Mendengar perkataan Dayang Sumbi, anjing hitam itu tiba-tiba menjelma menjadi seorang pemuda yang sangat tampan. Dayang Sumbi sangat terkejut dan heran menyaksikan kejadian itu.

“Hei, kamu siapa dan dari mana asal-asulmu?” tanya Dayang Sumbi penasaran.

“Maaf, Tuan Putri! Saya adalah titisan Dewa,” jawab pemuda itu.

Akhirnya, Dayang Sumbi dan pemuda tampan itu saling jatuh dan menikah. Keduanya bersepakat untuk merahasiakan hubungan mereka kepada siapa pun, termasuk kepada Prabu Sungging Perbangkara. Sejak saat itu, ke mana pun Dayang Sumbi pergi, ia selalu ditemani oleh suaminya. Dayang Sumbi memanggilnya dengan si Tumang.

Setelah setahun menikah, mereka pun dikaruniai seorang anak laki-laki yang tampan. Mereka memberinya nama Sangkuriang. Beberapa tahun kemudian, Sangkuriang tumbuh menjadi anak yang rajin dan pandai. Setiap hari, ia ditemani si Tumang pergi ke hutan untuk berburu rusa dan mencari ikan di sungai. Namun, ia tidak menyadari bahwa anjing yang selalu menenaminya itu adalah ayah kandungnya sendiri.

Pada suatu hari, Sangkuriang pergi berburu rusa ke tengah hutan. Hari itu, ia sangat berharap bisa mendapatkan hati seekor rusa untuk dipersembahkan kepada ibunya. Sudah hampir seharian ia berburu, namun tak seekor binatang buruan pun yang menampakkan diri. Sangkuriang pun mulai kesal dan memutuskan untuk berhenti berburu. Ketika akan pulang ke pondoknya, tiba-tiba seekor rusa berlari melintas di depannya. Ia pun segera memerintahkan si Tumang untuk mengejarnya.

“Tumang! Ayo kejar rusa itu!” seru Sangkuriang.

Beberapa kali Sangkuriang berteriak menyuruhnya, namun si Tumang tetap tidak beranjak dari tempatnya. Ia pun semakin kesal melihat kelakuan si Tumang.

“Hei, Tumang! Apa yang terjadi denganmu? Kenapa kamu tidak mau menuruti perintahku?” bentak Sangkuriang sambil mengancam si Tumang dengan panahnya.

Tanpa disadarinya, tiba-tiba anak panahnya terlepas dari busurnya dan tepat mengenai kepala si Tumang. Anjing itu pun tewas seketika. Sangkuriang kemudian mengambil hati si Tumang untuk dipersembahkan kepada ibunya. Sesampainya di pondok, ia menyerahkan hati itu kepada ibunya untuk dimasak. Setelah menyantap hati itu, tiba-tiba Dayang Sumbi teringat pada si Tumang. Ia pun menanyakan keberadaan si Tumang.

“Mana si Tumang? Bukankah tadi dia pergi bersamamu?” tanya Dayang Sumbi dengan cemas.

“Maaf, Bu! Saya telah membunuhnya. Hati yang ibu makan itu adalah hati si Tumang,” jawab Sangkuriang dengan tenang, tanpa merasa bersalah sedikit pun.

Seketika itu pula Dayang Sumbi menjadi murka. Ia sangat marah karena Sangkuriang telah membunuh ayah kandungnya sendiri.

“Apa katamu? Kamu telah membunuhnya? Dasar anak tidak tahu diri!” seru Dayang Sumbi seraya memukul kepala Sangkuriang dengan sendok nasi hingga berdarah dan meninggalkan bekas.

Sambil menangis tersedu-sedu, Sangkuriang berusaha untuk membela diri. Ia merasa bahwa dirinya tidak bersalah. Ia melakukan semua itu tidak lain hanya untuk menyenangkan hati ibunya. Akan tetapi, Dayang Sumbi menganggap dia telah melakukan kesalahan besar, karena membunuh ayah kandungnya sendiri. Namun, Dayang Sumbi tidak mau menceritakan hal itu kepada Sangkuriang, karena takut rahasianya terbongkar. Merasa ibunya tidak lagi sayang kepadanya, Sangkuriang pun pergi mengembara dengan menyusuri hutan belantara.

Sejak itu, Dayang Sumbi selalu duduk termenung. Ia merasa sangat menyesal telah memukul dan membiarkan putranya pergi meninggalkannya. Setiap malam ia berdoa kepada Tuhan Yang Mahakuasa agar ia dapat bertemu kembali dengan putranya. Berkat ketekunannya, Tuhan pun mengambulkan doanya. Tuhan memberinya kecantikan yang abadi agar wajahnya tidak berubah termakan oleh usia, sehingga putranya masih dapat mengenalinya.

Sementara itu di di tengah hutan belantara, Sangkuriang berjalan sempoyongan sambil memegang kepalanya yang terluka. Karena tidak kuat lagi menahan rasa sakit, akhirnya ia jatuh pingsan. Cukup lama ia tidak sadarkan diri. Betapa terkejutnya ketika ia tersadar. Ia melihat seorang tua laki-laki yang tidak pernah ia lihat sebelumnya sedang duduk di sampingnya.

“Kakek siapa? Aku ada di mana?” tanya Sangkuriang heran.

“Tenanglah, Anak Muda! Kakek adalah seorang pertapa. Nama Kakek Ki Ageng. Kakek menemukanmu sedang pingsan dan terluka parah di tengah hutan. Kamu sekarang berada di dalam gua tempat Kakek bertapa,” jawab orang tua itu.

Kemudian Ki Ageng menanyakan tentang asal-usul Sangkuriang. Namun, Sangkuriang tidak bisa lagi mengingat masa lalunya. Bahkan namanya sendiri pun ia lupa. Akhirnya, Ki Ageng memanggilnya Jaka. Ki Ageng merawat Jaka sampai lukanya sembuh dan mengajarinya ilmu bela diri dan kesaktian. Setelah beberapa tahun berguru kepada Ki Ageng, Sangkuriang pun tumbuh menjadi pemuda yang tampan dan sakti mandraguna. Dengan kesaktiannya, ia dapat memanggil serta memerintahkan makhluk-makhluk halus.

Pada suatu hari, Jaka meminta izin kepada gurunya untuk pergi mencari tahu masa lalunya. Setelah mendapat restu dari Ki Ageng, berangkatlah ia menyurusi hutan. Ia berjalan mengikuti ke mana pun kakinya melangkah hingga akhirnya menemukan sebuah gubuk di tepi hutan. Karena merasa sangat haus, ia pun mampir di pondok itu untuk meminta air minum. Rupanya, penghuni pondok itu adalah seorang wanita cantik jelita yang tidak lain adalah Dayang Sumbi. Saat pertama kali melihat wajah wanita itu, Jaka tiba-tiba teringat kepada ibunya. Namun, ia tidak yakin kalau wanita itu adalah ibunya, karena sudah sekian lama mereka berpisah dan tentu wajahnya tidak akan secantik itu. Begitupula Dayang Sumbi, ia tidak pernah mengira kalau Jaka itu adalah putranya. Akhirnya, keduanya pun saling jatuh cinta dan bersepakat untuk menikah.

Keesokan harinya, saat akan berangkat berburu ke hutan, Jaka meminta calon istrinya untuk mengencangkan dan merapikan ikat kepalanya. Betapa terkejutnya Dayang Sumbi ketika sedang merapikan ikat kepala Jaka. Ia melihat ada bekas luka di kepala Jaka. Bekas luka itu mirip dengan bekas luka yang ada di kepala putranya yang terkena pukulannya dua puluh tahun yang lalu. Dayang Sumbi pun menanyakan tentang penyebab bekas luka itu kepada Jaka.

“Kenapa ada bekas luka di kepalamu, Jaka?” tanya Dayang Sumbi.

Jaka tidak bisa mengingat penyebab bekas luka yang ada di kepalanya. Ia hanya menceritakan kepada Dayang Sumbi bahwa ada seorang pertapa menemukan dirinya sedang pingsan dan terluka parah di tengah hutan. Mendengar cerita itu, maka yakinlah Dayang Sumbi bahwa calon suaminya itu adalah putranya sendiri, Sangkuriang.

Dayang Sumbi pun bingung. Ia tidak mungkin menikah dengan putranya sendiri. Ia berusaha untuk meyakinkan Sangkuriang bahwa dia adalah putranya. Untuk itu, ia meminta kepada putranya agar membatalkan pernikahan mereka. Namun, Sangkuriang tidak percaya pada kata-kata ibunya. Hatinya sudah terbelenggu oleh rasa cinta dan bersikeras ingin menikahi Dayang Sumbi.

Melihat sikap putranya itu, Dayang Sumbi semakin bingung dan ketakutan. Setiap hari ia berpikir untuk mencari cara agar pernikahan mereka dibatalkan. Setelah berpikir keras, akhirnya ia pun menemukan sebuah cara. Ia akan mengajukan dua syarat kepada Sangkuriang. Jika kedua syarat tersebut dapat dipenuhi oleh Sangkuriang, maka ia akan menikah dengannya. Sebaliknya, jika Sangkuriang gagal, maka pernikahan mereka pun dibatalkan. Suatu malam, Dayang Sumbi menyampaikan kedua syarat itu kepada Sangkuriang.

“Jika kamu bersikeras ingin menikahiku, kamu harus memenuhi dua syarat,” kata Dayang Sumbi.

“Apakah syaratmu itu, Dayang Sumbi? Katakanlah!” desak Sangkuriang.

“Kamu harus membuatkan aku sebuah danau dan sebuah perahu. Tapi, danau dan perahu itu harus selesai sebelum fajar menyingsing di ufuk timur,” jawab Dayang Sumbi.

“Baiklah, Dayang Sumbi! Saya menyanggupi semua syaratmu,” jawab Sangkuriang dengan penuh keyakinan.

Dengan kekuatan cinta dan kesaktiannya, Sangkuriang pun segera memanggil dan mengerahkan seluruh pasukannya yang berupa makhluk-makhluk halus untuk membantu menyelesaikan tugasnya. Setelah pasukannya siap, mereka pun menggali tanah dan menyusun batu-batu besar untuk membendung aliran air Sungai Citarum sehingga membentuk sebuah danau. Kemudian mereka menebang kayu-kayu besar untuk dibuat perahu. Saat tengah malam, Dayang Sumbi secara diam-diam mengintai pekerjaan Sangkuriang dan pasukannya. Betapa terkejutnya ia ketika melihat mereka hampir menyelesaikan semua permintaannya.

Dayang Sumbi pun gusar. Ia segera berlari ke desa terdekat untuk meminta bantuan kepada masyarakat agar menggelar kain sutra berwarna merah di arah sebelah timur tempat Sangkuriang dan pasukannya bekerja. Tak berapa lama setelah kain sutra hasil tenunan Dayang Sumbi digelar, tampaklah cahaya berwarna kemerahan di arah timur sehingga seolah-olah hari sudah pagi. Ayam jantan pun mulai berkokok saling bersahut-sahutan. Para makhlus halus yang melihat cahaya merah dan mendengar suara ayam berkokok mengira hari sudah pagi. Mereka pun segera melarikan diri dan meninggalkan perahu yang hampir selesai.

Saat mengetahui dirinya diperdaya oleh Dayang Sumbi, Sangkuriang menjadi murka. Dengan kesaktiannya, ia menjembol bendungan yang sudah dibuat bersama pasukannya, sehingga terjadilah banjir besar. Kemudian ia menendang perahu yang hampir selesai hingga terbang melayang dan jatuh menelungkup. Konon, perahu itu kemudian menjelma menjadi sebuah gunung yang kini dikenal dengan nama Gunung Tangkuban Perahu. Tangkuban perahu dalam bahasa Sunda berarti perahu yang terbalik.

Setelah peristiwa itu, Dayang Sumbi melarikan diri ke arah Gunung Putri. Setibanya di Gunung Putri, ia tiba-tiba menghilang dan berubah menjadi setangkai bunga jaksi. Sementara Sangkuriang yang mengejarnya kehilangan jejak dan akhirnya sampai di sebuah tempat yang disebut dengan Ujung Berung dan menghilang ke alam gaib.

* * *

Demikian legenda Sangkuriang dari daerah Jawa Barat, Indonesia. Secara garis besar, ada dua nilai-nilai yang terkandung dalam cerita di atas, yaitu nilai moral dan nilai sosial. Nilai moral tersebut terlihat pada sikap Dayang Sumbi yang teguh (konsisten) dalam menepati janji yang telah diucapkannya, yaitu bersedia menikah dengan siapa pun yang mengambilkan gulungan benangnya, yang ternyata adalah seekor anjing. Dari sini dapat dipetik sebuah pelajaran bahwa betapa pun pahit akibat yang akan ditanggungnya, seseorang harus teguh menepati janjinya.

Nilai sosial yang terkandung dalam cerita di atas adalah bahwa di kalangan masyarakat Sunda (Jawa Barat), percintaan atau pernikahan antara ibu dengan anak (incest) merupakan perbuatan yang dilarang (haram). Sebab, jika hal tersebut terjadi, maka nilai-nilai sosial yang ada dalam masyarakat akan hancur. Hal ini dapat dilihat pada usaha yang telah dilakukan Dayang Sumbi dalam menggagalkan pernikahannya dengan putranya sendiri, Sangkuriang. Ia mengajukan dua syarat yang diyakini mustahil dapat dipenuhi oleh Sangkuriang. Namun, ketika Sangkuriang hampir berhasil memenuhi persyaratannya, Dayang Sumbi tetap berusaha untuk menggagalkan pernikahan mereka dengan membuat suasana seolah-olah hari sudah pagi, sehingga Sangkuriang dan para pasukannya menghentikan pekerjaannya, dan usahanya berhasil.

Leave a comment »

Ki Rangga Gading

Dahulu kala, ketika Tasik masih merupakan “dayeuh” (kota) Su­ka­pura, ada seorang bernama Ki Rangga Gading. Ia sangat sakti. Tapi ke­saktia­nnya disalahgunakan untuk me­ram­pok dan mencuri. Ki Rangga Gading tidak pernah tertangkap, karena ia bisa meng­ubah badannya menjadi binatang, pohon, batu, atau air.

Suatu ketika, Ki Rangga Gading men­curi kerbau lima ekor. Pencurian itu senga­­­ja di­la­­kukan di siang hari untuk pamer ke­­­saktian. Warga sekampung pun beramai-ramai memburunya. Karena ketinggian ilmu Ki Rangga Gading, ia mengubah kaki-kaki kerbau menjadi terbalik, sehing­ga je­­jak telapak kaki kerbau berlawanan a­rah. War­ga yang mengikuti jejak itu tertipu. Me­re­ka semakin menjauh dari kerbau-kerbau itu.

Warga memutuskan mengejar ke pa­sar. Sebab Ki Rangga Gading pasti akan menjual kerbau itu ke pasar. Tetapi dasar Ki Rangga Gading, ia mengubah tanduk ker­­­bau yang tadinya melengkung ke atas menjadi ke bawah. Kulit kerbaunya yang tadi­nya hitam diubah menjadi putih. Maka, se­lamat­lah ia dari kejaran massa dan polisi negara yang akan menangkapnya.

Tersiar kabar, di Karangmunggal ter­­dapat tanah keramat. Tanah itu me­ngan­­dung emas. Lahan itu dijaga oleh polisi ne­gara dan para tua-tua kampung agar tidak diganggu. Mendengar kabar itu, Ki Rangga Gading jadi tergiur ingin memilikinya. Ia segera naik ke atas pohon kelapa. Setelah sampai di atas, dibacoknya pelepah kela­pa yang diinjaknya. Dengan ilmunya, pe­le­pah itu terbang melayang menuju Ka­rangmunggal.

Sampai di Karangmunggal, Ki Rangga Gading mengubah dirinya menjadi seekor kucing agar tidak diketahui oleh polisi ne­gara dan tua-tua kampung. Tentu saja para penjaga tertipu. Kucing jelmaan Ki Rangga Gading itu tenang-tenang saja me­ngeruki tanah yang mengandung emas itu. Kemudian dimasukkan ke dalam karung yang dibawanya. Setelah karungnya ter­isi penuh, Ki Rangga Gading segera ter­bang menggunakan pelepah yang tadi ditungganginya menuju ke kampung tem­pat persembunyiannya.

Sebelum tiba di kampungnya, ia tu­run ingin berjalan kaki. Di tempat yang sepi, ia istirahat sambil membuka hasil curi­an­nya. Lalu ia mengambil segenggam dan ditaburkan supaya tempat itu menjadi keramat. Sampai saat ini tempat itu dikenal dengan nama Salawu, berasal dari kata sarawu (segenggam).

Kemudian Ki Rangga Gading melanjut­kan perjalanan. Saat merasa lelah, ia ber­istirahat. Karung yang berisi tanah emas digantungkan pada dahan pohon. Sampai sekarang tempat itu terkenal dengan nama Kampung Karanggantungan terletak di Kecamatan Salawu. Nama itu berasal dari kata tanah Karangmunggal digantungkan.

Ki Rangga Gading melanjutkan per­jalanan lagi. Setelah lama berjalan, ia mu­lai banyak berkeringat. Ia berhenti untuk mandi dulu di suatu mata air. Karung yang dibawa­nya digantungkan lagi. Tapi karung itu berayun-ayun terus (guntal-gantel) tak mau diam. Sampai sekarang kampung itu dikenal dengan nama Kampung Guntal Gantel.

Ketika Ki Rangga Gading sedang asyik mandi, tiba-tiba di hadapannya telah ber­diri seorang tua. Wajahnya bercahaya dan menggunakan sorban serta jubah pu­tih, ia seorang ulama yang tinggi ilmunya. Sambil tersenyum orang tua itu berkata, “Sedang apa Rangga Gading, tiduran di atas tanah sambil telanjang, seperti anak ke­cil saja?” Ki Rangga Gading terkejut, Ia sa­ngat malu dan mendadak badannya merasa lemas tak berdaya. Ia memelas, “Duh Eyang ampun, tolonglah saya Eyang, saya lemas, tidak tahan Eyang, saya tobat, saya ingin jadi murid Eyang.” Sejak saat itu Ki Rangga Gading menjadi santri di Pesantren Guntal Gantel.

Pada suatu ketika, Pesantren Guntal-Gantel tertimbun tanah longsor akibat gempa bumi. Waktu itu, ulama dan santri-san­trinya sedang tilem (tidur). Konon, me­­­re­ka men­jadi kodok. Sebab itu tempat ter­­se­­but sa­ngat angker, dan dinamakan “Bang­­kong­rarang” berasal dari kata ta­nah yang di­­bawa dari karang dan loba bangkong (banyak katak).

Sampai saat ini “Bangkongrarang” dan “Guntal Gantel” masih ada, tetapi hanya berupa tumpukan pasir di tengah sawah yang luas. Barang siapa berani masuk dan menginjak lahan itu akan merasakan akibatnya. Bila ada burung terbang melin­tasi lahan itu, ia akan jatuh dan mati se­ke­tika. Bila bulan puasa tiba, di tengah mal­am saatnya sahur, sering terdengar sayup-sayup dari tempat itu bunyi beduk. Jangan heran sebab itu adalah suara beduk santri-santri dari Pesantren Guntal-Gantel yang tilem dan dipimpin oleh Ki Rangga Gading.

Leave a comment »

B A R T E R

Selesai sudah Emi menyapu lantai rumah. Di luar, Dian telah menunggu untuk jajan miso di tempat Pak Saerah.
“Yo’ik… yo ‘ik…” seru Emi riang sembari berlari menuruni anak tangga teras.
“Lari-lari, nanti jatuh lo,” Dian tersenyum dari atas kursi rodanya.
Ya, ia murid SLB bagian D. Rumah Pak Saerah berada di depan kompleks SLB. Gerobak miso sudah siap di serambi. Mie dan bulatan-bulatan bakso nampak menggunung di dalamnya. Ini sudah jam 4 sore. Pak Saerah tentu akan segera membawanya ke terminal dan pulang malam-malam. Makanya harus buru-buru bila ingin membeli.
Siti, anak Pak Saerah, tengah mengupas bawang merah di balai-balai. Melihat Emi dan Dian datang ia menyapa ramah, “Emi, Dian… Mau beli miso, ya? Belum matang nih.”
“Lo, tumben?” ujar Emi dan Dian berbarengan.
“Ibu lagi sakit. Sekarang Bapak mau mengantarnya ke dokter Isnan. “ Selesai Emi bicara Pak Saerah nampak keluar menuntun sepeda.
“Mau beli miso, ya?” Pak Saerah memandang Emi dan Dian. “Tunggu sebentar ya! Siti akan segera membumbui kuahnya dan menggoreng bawang merah,” lanjutnya ramah.
Siti bangkit berdiri sembari mengibaskan roknya. Bawang merah yang selesai dikupas berada dalam panci yang dipenuhi air. Siti pernah bilang bila direndam demikian, tak akan pedih di mata ketika diiris nanti.
Emi memapah Dian turun dan duduk di balai-balai. Sementara Siti dan Pak Saerah masuk ke dalam rumah. Ada dua pisau di situ, Emi dan Dian meraihnya satu-satu. Siti nampaknya juga sudah siap dengan talenan dan baki. Emi dan Dian mengiris bawang merah di hadapannya tanpa diminta.
Tak berapa lama kemudian, Pak Saerah dan Siti nampak ke luar memapah Bu Saerah. Menuju ke sepeda di depan serambi. Tapi begitu Bu Saerah duduk di boncengan, tubuhnya terkulai. Ia kelihatan lemah sekali.
“Aku tak kuat kalau harus bonceng sepeda, Pak,” desis Bu Saerah lirih.
“Baiklah aku akan memanggil becak. Ayo masuk lagi,” kata Pak Saerah.
“Mengapa mesti memanggil becak, Pak? Antarlah Bu Saerah ke dokter dengan kursi rodaku,” cetus Dian tiba-tiba.
Gerakan Pak Saerah dan Siti terhenti. Ditolehnya Dian. Dian mengangguk meyakinkan. Emi bergegas mendorong kursi roda ke dekat mereka.
“Aaah… kalau begitu… terima kasih banyak,” kata Pak Saerah setelah sesaat terpana. Rasa gembira dan haru berbaur menjadi satu.
Nah, Bu Saerah telah duduk manis di atas kursi roda. Pak Saerah mendorongnya ke luar halaman, menyusur sepanjang tepi jalan, menuju tempat praktek dokter Isnan. Siti berdiri mengawasi dari tepi serambi, hingga Bapak-ibunya menikung jalan dan hilang dari pandangan.
“Kalian jadi ikut repot,” Siti menoleh pada Dian dan Emi yang tengah sibuk mengiris bawang merah.
“Ah, tidak,” sergah Emi dan Dian tulus. “Bawang merahnya tidak pedih di mata, lo,” sambung Emi.
“He-eh,” Dian mengiyakan.
Siti tersenyum sembari melangkah ke dalam rumah. Ketika ke luar lagi, ia nampak membawa sebuah piring kecil berisi ulekan bumbu miso. Bumbu itu dimasukkannya ke dalam panci kuah yang berada di bagian belakang gerobak. Begitu tutup panci dibuka, wusss… kepul-kepul asap panas mengudara dari dalamnya. Sesudah itu, Siti masuk ke dalam rumah lagi, dan beberapa saat kemudian ke luar lagi. Begitu berulang-ulang. Ia sungguh sibuk. Membuat sambal, membuat acar mentimun, mengiris daun seledri, mencuci daun selada, dan entah apa lagi. Yang pasti ia terampil sekali.
“Nah, bawang merah sudah selesai diiris nih, Ti,” kata Emi saat Siti memasukkan setumpukkan mangkuk ke dalam laci gerobak.
“Terima kasih.” Siti bergegas melangkah ke dalam rumah, membawa irisan bawang merah yang menggunung dalam baki itu untuk di goreng. Sementara Emi dan Dian tiduran di balai-balai sambil bercakap.
Beberapa menit berlalu. Beres sudah semua. Siti berseri-seri, ia siap melayani Dian dan Emi. Dalam meracik miso mangkuk pun Siti sudah ahi.
“Wah, rasanya tidak beda dengan buatan Bu Saerah atau Pak Saerah.” Emi berkomentar lalu mulutnya berdecap-decap tiada henti.
“Iya ya, Siti pasti jadi juragan nanti,” gurau Dian. Emi dan Siti tertawa mendengarnya.
Emi dan Dian baru selesai makan miso, ketika Pak Saerah dan Bu Saerah datang. Di dalam hati mereka berdoa agar Bu Saerah cepat sembuh. Siti dan Pak Saerah memapah Bu Saerah masuk ke dalam rumah. Emi mendorong kursi roda tadi ke dekat balai-balai. Dibantunya Dian duduk ke atasnya. Tak lama kemudian Pak Saerah keluar. Di lehernya terkalung handuk putih berukuran kecil. Artinya ia sudah siap untuk pergi ke terminal. Emi segera menyodorkan tiga lembar uang lima ratusan padanya. Itu uang miso Dian dan dirinya. Tapi Pak Saerah malah tertawa.
“Wah, jadi berapa rupiah aku harus membayar sewa kursi roda dan rasa capek kalian mengiris bawang merah?” ujar Pak Saerah jenaka sembari menolak uang yang Emi sodorkan.
Emi dan Dian terkesiap. Mereka berpandangan.
“Kali ini kalian tak usah bayar. Kita barter saja, ya?” nada suara Pak Saerah masih saja jenaka. Lalu mendorong gerobak misonya turun ke halaman.
“Terima kasih, Pak,” seru Emi setelah sesaat terpana.
“Aku juga terima kasih Pak,” Dian menirukan.
Pak Saerah yang telah sampai di tengah halaman menoleh sekilas sambil tersenyum manis. “Sama-sama!” katanya.
“Terima kasih untuk semuanya Emi, Dian…,” gantian Siti kini yang bicara. Tiba-tiba ia sudah berada di mulut pintu.
“Sama-sama,” Emi dan Dian menjawab berbarengan. Lantas keduanya berpamitan pulang. Pulang dengan perasaan lapang.***

Leave a comment »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.