Archive for CERITA PENDEK dan DONGENG_(majalah BOBO)

Dua Arti


“Wulan, ini kamarmu, ya?” tanyaku pada Wulan. Wulan mengangguk.
Tak kusangka, Wulan yang terlihat sederhana di sekolah, ternyata tinggal di rumah besar. Rumah peninggalan neneknya ini kuno, namun indah dan megah. Sudah lima tahun rumah ini tak berpenghuni. Dua tahun lalu ayah Wulan memutuskan untuk pindah dari Semarang dan tinggal di Bogor.
Sudah dua tahun aku mengenal Wulan, namun baru kali ini aku berkunjung ke rumahnya dan masuk ke kamarnya.
Kamarnya nyaman sekali, juga indah. Di dekat jendela tergantung lukisan seorang wanita sederhana. Ada gambar uang logam emas kuno dan perhiasan-perhiasan mewah tersebar di sekelilingya.
“Wulan, kamu ternyata kaya sekali. Tapi, kenapa penampilanmu sederhana sekali?” tanyaku heran.
“Itu pesan dari lukisan itu,” jawabnya.
“Maksudmu?” tanyaku. Wulan tak menjawab pertanyaanku, tetapi malah duduk di tepi tempat tidurnya. Ia terus memandangi lukisan itu. Aku duduk di sebelahnya. Setelah beberapa saat, barulah ia berbicara.
“Dewi, aku tahu kamu penggemar cerita misteri. Apa kau mau mendengar ceritaku?” tanyanya. Aku mengangguk semangat dan memasang telinga tajam-tajam. Aku menebak ia pasti akan menceritakan keanehan yang terjadi di rumahnya. Apalagi ini adalah rumah kuno.
“Aku tak bercerita tentang hantu. Tetapi kupikir ceritaku ini mengandung sedikit misteri. Menurutku ini teka-teki menarik dan berguna bagiku, mungkin juga berguna begimu,” ujarnya. Ah, aku jadi penasaran ingin mendengar ceritanya.
“Aku akan bercerita tentang misteri pesan nenekku yang tersimpan dalam lukisan itu,” ujarnya. Wulan lalu mulai bercerita.
“Dua tahun lalu ketika kami baru saja pindah, Ayah menemukan buku harian nenekku. Di halaman terakhir disebutkan bahwa Nenek pernah menyembunyikan harta di suatu tempat. Di situ tertulis pesan bahwa lukisan itu mengandung dua arti. Jika kau mengetahuinya, maka akan menjadi lebih bijaksana. Dan percaya atau tidak, lukisan itu belum pernah dipindahkan sejak pertama kali di pajang di sini,” Wulan mengakhiri cerita sambil menunjuk ke lukisan yang tergantung di dekat jendela.
“Lalu?” tanyaku penasaran.
“Ayahku berhasil mengartikan salah satu dari dua arti yang disebutkan Nenek. Itulah yang menjadi petunjuk tempat harta itu berada. Lihatlah! Wanita dalam lukisan itu menghadap ke luar, ke bawah. Ayah yakin harta itu ada di bawah lantai di luar kamarku. Lalu Ayah menjebolnya. Ternyata Ayah benar. Harta itu ada di sana. Berupa kepingan uang logam emas kuno dan perhiasan-perhiasan mewah milik nenekku.”
“Lalu arti keduanya?” tanyaku. Wulan tersenyum. “Kau ingin aku membantumu untuk mengartikannya?” tanyaku lagi. Wulan tetap tersenyum. Aku mengalihkan pandanganku dari wajahnya ke lukisan itu. Kuperhatikan lukisan itu dengan seksama. Ya…kini aku tahu artinya.
“Kau tahu artinya? Dulu akulah yang berhasil mengartikannya. Aku yakin kau tahu artinya,” ucap Wulan yakin.
“Kesederhanaan…” jawabku ragu. Wulan mengangguk.
“Wanita dalam lukisan itu tetap sederhana walaupun kekayaan bergelimpangan di sekelilingnya. Kau tahu siapa dia? Wanita dalam lukisan itu adalah nenekku semasa muda. Aku ingin seperti beliau,” ucapnya. “Jadi makna lukisan ini adalah agar harta yang kami miliki dapat kami pergunakan sebaik-baiknya,” jelas Wulan.
Tiba-tiba aku termenung. Selama ini kadang-kadang aku berfoya-foya menggunakan uang. Namun kini aku sadar. Sikap itu kelak akan merugikan diriku sendiri. Aku ingin hidup sederhana seperti Wulan.
Cerita misteri Wulan takkan aku lupakan. Aku pandangi lukisan itu sekali lagi. Ada sesuatu yang luput dari pandanganku tadi. Dan baru aku sadari sekarang. Wanita dalam lukisan itu terlihat bahagia. Tentu saja. karena kesederhanan akan membawa kebahagiaan.

Leave a comment »

Kena Batunya

“Ssst….Bu Indati datang,” kata Cahyo. Langsung saja anak-anak kelas 4 SD Sambo Indah beranjak duduk ke tempatnya masing-masing.
“Selamat pagi, Anak-anak!” sapa Bu Isti dengan ramah.
“Selamat pagi, Buuuuuu!” Anak-anak menjawab dengan kompak.
“Anak-anak, kemarin Ibu memberikan tugas Bahasa Indonesia membuat pantun, semua sudah mengerjakan?”
“Sudah Bu.”
“Arga, kamu sudah membuat pantun?”
“Sudah dong Bu.”
“Coba kamu bacakan untuk teman-temanmu.”
Dengan wajah nakalnya, Arga membacakan pantunnya sambil tersenyum-senyum.
“Jalan ke hutan melihat salak
Ada pula pohon-pohon tua
Ayam jantan terbahak-bahak
Lihat Inka giginya dua”
“Huahaha….” Kontan saja anak-anak sekelas tertawa terbahak-bahak. Hanya satu orang yang tidak tertawa. Inka cuma cemberut sebel sambil melihat Arga.
“Arga, kamu nggak boleh seperti itu sama temannya,” tegur Bu Isti. “Kekurangan orang lain itu bukan untuk ditertawakan. Coba kamu buat pantun yang lain.”
“Iya Bu,” jawab Arga sambil masih tersenyum-senyum.
Itulah Arga, anak paling bandel di kelas empat. Ada saja ulah usilnya untuk mengganggu teman-temannya, terutama teman-teman perempuan di kelasnya. Pernah suatu hari Anggun kelabakan mencari buku PR matematikannya, padahal Pak Widodo, guru matematikannya, sudah masuk kelas dan siap meneliti PR anak-anak. Anggun kebingungan sampai hampir menangis. Eh, ternyata bukuitu ditemukan oleh Pak Widodo di laci meja guru. Tentu saja ulah Arga yang selalu usil.
Siang itu, pulang sekolah, Inka mendatangi Arga dengan wajah cemberut.
“Arga, kenapa sih kamu selalu usil? Kenapa kamu selalu mengejek aku? Memangnya kamu suka kalau diejek?” tanya Inka gusar.
Arga cuma tertawa-tawa. “Aduh…maaf deh, kamu marah ya In?”
“Iya dong. habis…kamu nakal. Kamu memang sengaja mengejek aku kan, biar anak-anak sekelas mentertawakan aku.”
“Wa…jangan marah dong, aku kan cuma bercanda. Eh, katanya marah itu bisa menghambat pertumbuhan gigi lho, nanti kamu giginya dua terus, hahaha…” Arga tertawa. Danto yang berada di dekat Arga juga ikut tertawa.
“Huh! kalian jahat!” teriak Inka. “Aku nggak ngomong lagi sama kalian!” Inka meninggalkan kedua anak yang masih tertawa nakal itu.
“Sudahlah In, nggak usah dipikirin. Arga kan memang usil dan nakal. Nanti kalau kita marah, dia malah tambah senang. Kita diamkan saja anak itu,” hibur Gendis, sahabat Inka.
Hari berikutnya, Gendis yang menjadi korban kenakalan Arga. Siang itu, sewaktu istirahat pertama, Arga duduk di dekat Gendis dan bertanya, “Dis, nama kamu kok bagus sih. mengeja nama Gendis itu gimana?”
“Apa sih, kamu mau mengganggu lagi ya? Beraninya cuma sama anak perempuan.”
“Lho…aku kan cuma bertanya, mengeja nama Gendis itu gimana. Masak gitu aja marah.”
“Memangnya kenapa sih?” tanya Gendis dengan curiga. “Gendis ya mengejanya G-E-N-D-I-S dong!”
“Haaa…kamu itu gimana sih Dis. Udah kelas empat kok belum bis mengeja nama sendiri dengan benar. Gendis itu mengejanya G-E-M-B-U-L. Itu lho kayak pamannya Bobo, hahaha….” Arga tertawa, diikuti teman-temannya.
Gendis yang memang merasa badannya gemuk jadi sewot. “Arga, kamu selalu begitu! Bisa nggak sih, sehari tanpa berbuat nakal? Lagian kamu cuma berani nakalin anak perempuan. Dasar!” Gendis pun pergi dengan marah.
Suatu hari, di siang yang panas, Inka dan Gendis berjalan kaku pulang sekolah. Tiba-tiba di belakang mereka terdengar bunyi bel sepeda berdering-dering.
“Hoi…minggir…minggir…. Pangeran Arga yang ganteng ini mau lewat. Rakyat jelata diharap minggir.”
Inka dan Gendis cuma menoleh sebel. Arga melewati mereka dengan tertawa keras. Tahu-tahu…gubrak! Karena kurang hati-hati, sepeda Arga menabrak sebuah pohon yang ada di pinggir jalan.
“Rasain kamu! Teriak Inka. “Makanya kalau naik sepeda itu lihat depan.”
“Iya,” tambah Gendis. “Makanya kalau sama anak perempuan jangan suka nakal. Sekarang kamu kena batunya.”
Sementara Arga cuma meringis kesakitan. “Aduh…tolong dong. aku nggak bisa bangun nih?”
“Ngapain ditoong. Dia kan suka nggangguin kita. Biar tahu rasa sekarang. Lagian, paling dia cuma pura-pura. Nanti kita dikerjain lagi.”
“Aduh…aku nggak pura-pura. Kakiku sakit sekali,” rintih Arga. “aku janji nggak akan ngerjain kalian lagi.” Akhirnya Inka tak tahan juga melihat Arga yang meringis kesakitan dan tidak bisa berdiri.
“Ditolong yuk, Dis.”
“Tapi…”
“Sudahlah, kita kan nggak boleh dendam sama orang lain. Bagaimanapun, Arga kan teman kita juga.” Gendis mengangguk. Kedua anak itu lalu mendekati Arga.
“Apanya yang sakit, Ga?”
“Aduh…kakiku sakit sekali. aku nggak kuat berdiri nih.”
“Gini aja Dis, kamu ke sekolah cari Pak yan yang jaga sekolah. pak Yan kan punya motor. Nanti Arga biar diantar pulang sama Pak Yan. Sekarang aku di sini menemai Arga.”
“Ide yang bagus,” kata Gendis semangat. Ia segera berjalan cepat-cepat menuju ke sekolah yang masih kelihatan dari tempat itu.
“In…,” kata Arga lirih. “Maafkan aku ya. Aku sering nggangguin kamu, Gendis, Anggun, dan teman-teman yang lain.
“Makanya kamu jangan suka ngerjain orang, apalagi mengolok-olok kekurangan mereka. Jangan suka meremehkan anak perempuan. Nyatanya, kamu membutuhkan mereka juga kan?”
“Iya deh, aku janji nggak akan ngerjain kalian lagi.”
Arga betul-betul menepati janjinya. Sejak kejadian itu, ia tak pernah mengganggu teman-temannya lagi. Arga pun jadi punya banyak sahabat, termasuk Inka dan Gendis. Mereka sering mengerjakan PR dan belajar bersama.
“Ternyata kalau aku nggak nakal, sahabatku tambah banyak,” pikir Arga. “Ternyata juga, punya banyak sahabat itu menyenangkan. Kalau mereka ulang tahun kan aku jadi sering ditraktir, hihihi….” ****

Leave a comment »

Rahasia Sebutir Telur

Bobi ingin sekali membeli mainan sega dreamcast. Kata teman-temannya mainan itu lebih canggih dari play station. Tetapi Mama malah membelikannya sebutir telur ayam.
“Untuk apa?” tanya Bobi hampir tertawa, “Mama salah dengar, ya?”
Mama tersenyum, lalu menggeleng, “Itu telur ajaib. Telur itu mempunyai sebuah rahasia. Kalau kamu bisa menjaganya selama dua minggu, Mama akan belikan sega dreamcast yang kamu minta,” jawab Mama sambil mengeluarkan belanjaannya.
Bobi memperhatikan telur di tangannya. Hanya sebuah telur ayam yang biasa digoreng untuk sarapan. Tapi, kenapa dibilang telur ajaib? Bobi garuk-garuk kepala.
“Bagaimana? Kamu mau menjaganya selama dua minggu atau sama sekali tidak dibelikan mainan itu?” tawar Mama melihat Bobi diam saja.
“Tapi Ma, ajaibnya dimana?” Bobi penasaran.
Sekali lagi Mama tersenyum, “Ajaibnya baru ketahuan kalau kamu mau menjaganya. Kamu berani menerima tantangan?” ujar Mama lagi.
“Beres. Tapi, Mama janji, ya, hanya dua minggu?” pinta Bobi.
Bobi pikir menjaga telur itu mudah sekali. Tetapi nyatanya? Baru satu jam saja, anak kelas lima SD itu sudah kelabakan. Ceritanya, telur itu ia letakkan di atas meja belajar. Bobi lupa kalau telur itu bentuknya oval dan sewaktu-waktu bisa menggelinding. Bobi membuka laci, mencari kunci sepedanya. Begitu kunci yang dicarinya ketemu, ia membanting laci itu. Akibatnya, telur itu menggelinding dan… Dengan panik Bobi meloncat dan berusaha menangkap telur itu. Hup! Berhasil!
“Selamat….selamat….,” katanya sembari mencium telur itu. Kan tidak lucu kalau baru satu jam telur itu sudah hancur.
Hari itu juga Bobi menaruh telur itu di gelas plastik air mineral, yang telah diberi kapas. Biar aman kalau dibawa ke mana-mana.
Akan tetapi, pada hari kedua, ketika Bobi buru-buru pergi ke sekolah karena kesiangan, untuk yang kedua kalinya telur itu hampir pecah. Saat Bobi membelokkan sepedanya, tiba-tiba dari sebuah gang muncul penjual bubur ayam. Bobi mengerem sepedanya dengan keras. Telur yang belum sempat dimasukkan ke dalam tas terlepas dari tangannya dan jatuh. Beruntung telur itu tidak pecah. Sekali lagi dia mengucapkan syukur dan menciumi telur itu. Penjual bubur ayam sampai keheranan.
Telur itu lalu ia masukkan itu ke dalam tas. Bobi kemudian mengayun sepedanya dengan pelan. Sejak itu Bobi lebih hati-hati lagi menjaga telur ajaibnya. Dia tidak mau, gara-gara kecerobohannya telur itu pecah. Dan akibatnya ia tidak jadi mendapat mainan.
Memang awalnya amat menyiksa. Biasanya pulang sekolah Bobi langsung main. Tapi kini ia harus langsung pulang. Biasanya ia tidak betah lama-lama mendekam di kamar. Tapi kini ia harus betah. Biasanya ia mengerjakan PR terburu-buru, main banting pintu, taruh barang sembarangan… Tapi kini tidak. Ia harus lebih hati-hati. Dan tanpa terasa telah dua minggu Bobi menjaga telur itu.
Pulang sekolah, Bobi mencari Mama. Ia mau menagih janji Mama karena telah sukses menjaga telur ajaibnya. Tapi Mama tidak ada.
“Mas Bobi, tadi Mama pesan mau ke rumah sakit. Menengok suami Tante Retno yang kecelakaan,” kata Bi Suri, pembantu di rumah Bobi.
“O…, makasih, Bi,” ucap Bobi sambil masuk ke kamar.
Bi Suri mengerutkan kening mendengar ucapan terima kasih dari Bobi. Soalnya, tidak biasanya Bobi sesopan itu. Apa Mas Bobi sudah berubah? Atau….ah, Bi Suri mengibaskan tangannya lalu melanjutkan pekerjaannya.
Menjelang sore hari Mama baru pulang. Bobi langsung menyambutnya dengan senang.
“Bagaimana keadaan suami Tante Retno, Ma?” tanya Bobi.
Mama menggeleng, “Dia masuk ruang ICU. Keadaannya parah,” cerita Mama.
“Terus?”
“Tante Retno butuh uang banyak, karena itu….” sejenak Mama menarik napas, “Uang yang sudah Mama siapkan untuk beli mainan kamu, Mama pinjamkan ke Tante Retno,” lanjutnya.
Deg! Bobi kaget sekali. Berarti dia tidak jadi beli dreamcast. Berarti dia…aduh, bagaimana ini? Padahal dia sudah bilang ke teman-temannya akan membelinya. Bagaimana kalau teman-teman bertanya?
“Kamu tidak marah kan, Bob?” tanya Mama sambil mengelus kepala Bobi.
Untuk beberapa lama Bobi terdiam. Akhirnya perlahan-lahan dia menganggukkan kepala. Mama tersenyum, lalu memeluknya, “Kalau Tante Retno sudah mengembalikan, Mama janji akan langsung membelikannya,” kata Mama.
Ting! Tong! Tiba-tiba bel berbunyi. Buru-buru Bobi berlari ke ruang tamu dan membuka pintu. Ternyata anak Tante Retno yang paling besar.
“Ada apa, Adi?” tanya Mama setelah dia dipersilahkan duduk.
“Ini Tante, uang Tante yang tadi dipinjamkan ke Mama. Kata Mama, Mama tidak jadi pinjam. Karena orang yang menabrak Papa mau membiayai semua perawatan Papa,” jelas anak Tante Retno sambil menyerahkan amplop berwarna coklat.
Sungguh, Bobi hampir-hampir tidak percaya mendengarnya. Dia ingin melonjak dan berteriak keras-keras saking girangnya. Tapi ia mampu menahannya. Inikah rahasia telur yang dimaksud Mama?
“Bagaimana, Bob? Jadi beli mainan?” tanya Mama setelah Adi pulang.
Bobi terdiam. Bukannya menjawab, dia malah masuk kamar. Diambilnya telur itu, lantas diperhatikannya dalam-dalam. Tidak ada yang istimewa. Tetapi, dia merasa harus berterima kasih. Karena telur itu telah memberikan pelajaran paling berharga, yaitu sebuah kesabaran.
“Bagaimana, Bob?” tanya Mama lagi yang mengikutinya ke kamar.
Pelan-pelan Bobi menggelengkan kepala, “Tidak jadi, Ma. Bobi pikir uang itu sebaiknya dipakai untuk hal yang lebih berguna,” ujarnya cukup mengharukan.

Leave a comment »

Kebanggaan Anggit


Didi berlari cepat menyusul Anggit.
“Jalanmu cepat sekali, Anggit!” komentar Didi sambil terengah-engah. “Ini pasti karena sarapanmu banyak. Jadi jalannya cepat!”
Anggit tertawa mendengarnya. “Makan banyak? Aku bisa tertidur di kelas!” sahut Anggit. Matanya tertumbu pada tas ransel di punggung Didi. “Ransel baru, ya?”
“Iya, Mama yang belikan kemarin,” jawab Didi. “Bagus tidak, Nggit?”
Anggi mengangguk. “Bagus. Harganya pasti mahal!”
Didi mengangkat bahu. “Mungkin. Soalnya aku tidak tanya, sih!”
Anggit tidak berkomentar lagi. Tapi hatinya berkata, betapa beruntungnya Didi. Ia bisa mendapatkan apa saja yang ia inginkan. Minggu lalu sepatu sekolahnya baru. Hari ini tas sekolah. Besok apalagi? Sedangkan aku, batin Anggit sambil menarik nafas. Jangankan tas baru. Sepatu sekolah butut ini saja belum diganti. Tuh lihat, ujungnya sedikit sobek dan warna hitamnya sudah memudar. Andai saja aku seperti Didi …
“Nggit,” tegur Didi kemudian. “Nanti sore aku ke rumah kamu , ya? Aku ingin belajar matematika lagi. Boleh, kan?”
“Silakan. Aku senang kok kamu mau belajar dengan aku.”
Didi tersenyum.
Malamnya Anggit melamun. Bahkan makan malamnya tidak dihabiskan.
“Kenapa, Nggit?” tanya Bapak heran. “Kamu sakit?’
Anggit menggeleng.
Ibu yang menjawab. “Anggit ingin sepatu dan tas baru.”
Bapak menghentikan makannya. “Kok tiba-tiba, Nggit?” tanyanya. “Anggit lagi butuh buku-buku pelajaran, kan?”
“Anggit memang butuh buku pelajaran,” jawab Anggit. “Tapi Anggit juga butuh sepatu dan tas baru, Pak.”
Bapak menggeleng. “Tidak bisa dua-duanya Anggit,” ujar Bapak. “Uang Bapak terbatas. Jadi kamu harus memilih, tidak bisa semuanya. Begitu kan, Bu?”
“Iya,” jawab Ibu. “Dan Ibu pikir, buku-buku pelajaran lebih penting dibanding tas dan sepatu baru.”
Anggit menatap Bapak dan Ibu bergantian. “Kenapa sih Anggit tidak bisa seperti Didi?” keluhnya. “Didi bisa mendapat apa yang dia mau kapan saja.”
Barulah Bapak dan Ibu mengerti penyebabnya.
“Didi itu kan anak orang berada, Nggit. Bapaknya kan pengusaha?” kata Ibu. “Sedangkan kita? Hidup kita sederhana, Anggit. Kamu harus belajar menerima keadaan.”
Anggit tampak belum puas.
“Satu hal yang mungkin terlupa oleh kamu, Nggit,” kali ini Bapak mencoba mengingatkan. “Didi memang lengkap secara materi. Tapi soal ilmu, kamu tidak kalah, kan. Kamu selalu rangking satu di kelas dan sekolah. Apa itu tidak lebih membanggakan?”
Anggit tak menyahut.
Keesokan harinya, Anggit melangkah malas-malasan. Di depan kelas langkahnya terhenti ketika mendengar namanya disebut-sebut dari dalam kelas.
“Kalian tahu tidak, berapa nilai matematika Anggit kemaren?” tanya Didi terdengar.
“Sepuluh!” jawab teman-teman yang lain serempak.
“Hah, sepuluh?” Dewa melongo. “Aduh, kapan ya aku bisa seperti dia?”
“Iya, ingin rasanya seperti Anggit. Tapi tidak bisa-bisa!” terdengar suara Astrid.
Di luar Anggit tercenung. Selama ini, bagi Anggit, nilai sepuluh itu sudah biasa. Sangat biasa, karena ia selalu mendapatkannya dengan mudah. Tapi ternyata tidak demikian bagi teman-temannya.
“Nah, kalian pasti juga ingin tahu nilaiku berapa?” tanya Didi terdengar menyombongkan diri.
Terdengar suara tawa teman-teman, “Yang jelas bukan sepuluh!” seru mereka.
Didi tersenyum. “Memang tidak! Tapi tidak sejelek dulu lagi,” sahutnya riang. “Nilaiku delapan!”
Teman-temannya kembali melongo. “Lo, kok bisa?”
“Ya bisa dong,” seru Didi. “Aku kan belajar sama Anggit!” sambungnya terdengar bangga.
Anggit jadi tercekat. Ia sama sekali tak menduka Didi sebangga itu padanya.
“Orangtua Anggit pasti bangga punya anak seperti dia,” kali ini suara Lastri.
“Bukan hanya orangtuanya. Anggit sendiri tentu juga bangga pada dirinya!” sambung Didi.
Bapak dan Ibu memang sangat bangga pada diriku, batin Anggit mengiyakan. Tapi kalau aku sendiri? Anggit menggeleng. Aku memandang diriku selalu kurang. Terutama dari segi materi.
“Mudah-mudahan saja Anggit juga bangga pada dirinya sendiri. Soalnya, selama ini kulihat Anggit selalu rendah diri. Padahal ….,” celetuk Dewa kembali terdengar.
Anggit kembali mengiyakan di dalam hati. Ia memang sering rendah diri. Karena tidak seperti teman-temannya yang punya seragam, tas dan sepatu bagus. Padahal kenapa harus rendah diri, sih? Ia kan memiliki apa yang tidak dimiliki teman-temannya itu. Yaitu … kecerdasan!
Bukankah kata Bapak dan teman-temannya itu lebih membanggakan?
Barulah Anggit menyadari kekeliruannya selama ini. Hatinya kini menjadi lega.
Belum pernah Anggit merasa sebahagia ini. Dengan langkah ringan ia kemudian masuk ke kelas.
“Selamat pagi teman-teman,” sapanya riang.

Leave a comment »

Kenangan Tentang Bunda

Brek! Via menghempaskan tubuhnya di tempat tidur. Air matanya meleleh membasahi bantal. Hati Via betul-betul terluka mendengar omongan Bi Jum.
“Lo, kenapa memangis?” tanya Eyang Putri cemas. Beliau meletakkan obat dan segelas air putih di meja.
Via diam tidak menjawab. Isaknya semakin jelas terdengar.
“Eyang, benarkah Bunda tidak mau mengurus Via?” tanyanya terpatah-patah.
“Siapa bilang?’
“Tadi di Puskesmas Bi Jum bercerita pada orang-orang. Katanya Bunda tidak mau mengurus Via. Bunda sibuk berkarir. Itulah sebabnya Via diasuh Eyang.”
Eyang mengangguk-angguk mulai memahami persoalan Via. Namun beliau belum menanggapi pertanyaan cucunya.
“Minum obat dulu, ya. Nanti kita bicarakan hal ini,” bujuk Eyang seraya membantu Via minum obat. Sesekali terdengar helaan nafas panjangnya.
Pagi tadi Eyang menyuruh Bi Jum, pembantunya mengantar Via berobat ke Puskesmas. Sudah dua hari Via pilek. Biasanya Eyang sendiri yang mengantar Via berobat. Namun tetangga sebelah meninggal. Eyang melayat ke sebelah.
“Benarkah Bunda tidak mau mengasuh Via, Eyang?” desak Via penasaran.
Eyang menatap lembut cucunya yang sedang sedih dan gelisah. Dengan penuh kasih sayang tangannya yang keriput membelai Via.
“Apakah Via merasa begitu?”
Via tercenung. Ya, sepertinya ucapan Bi Jum ada benarnya juga. Bude Laras dan Bulik Prita, saudara Bunda mengasuh sendiri anak-anaknya. Meskipun mereka berdua juga bekerja di kantor. Sementara Via diasuh Eyang.
“Bingung, ya? Via, umumnya seorang anak memang tinggal bersama orang tuanya. Namun karena alasan tertentu, ada juga anak yang tinggal dengan orang lain.”
“Dan alasan itu karena mereka tidak mau repot mengasuh anaknya, kan?” potong Via sengit.
“Mmm, sebaiknya Via cari tahu sendiri ya, jawabannya. Nanti Eyang beritahu caranya.”
Via menatap Eyang tak berkedip. Dengan senyum tetap tersungging di bibir, Eyang beranjak mengambil kertas dan bolpoin.
“Dulu, kalau Eyang kecewa terhadap seseorang, Eyang menulis semua hal tentang orang tersebut. Semua kenangan yang manis atau pun yang tidak menyenangkan. Biasanya begitu selesai menulis, hati Eyang lega. Pikiran pun menjadi jernih. Sehingga Eyang bisa menilai orang itu dengan tepat. Via mau mencoba cara ini? Tulislah kenangan tentang Bunda. Mudah-mudahan Via akan menemukan jawaban. Eyang ke dapur dulu, ya.”
Begitu Eyang berlalu, Via meremas kertas. Untuk apa menulis kenangan tentang Bunda? Bikin tambah kesal saja. Plung! Via melempar kertas ke tempat sampah.
Langit begitu biru. Via menatap gumpalan awan putih yang berarak. Dulu Bunda bercerita awan itu berlari karena takut digelitik angin. Kenangan Via kembali ke masa kecil. Bunda selalu mendongeng menjelang tidur. Bunda selalu memandikan dan menyuapinya. Tugas itu tidak pernah digantikan pembantu, meskipun Bunda juga bekerja di kantor.
Tiba-tiba jam kerja Bunda bertambah, karena hari Sabtu libur. Bunda tiba di rumah paling awal pukul 17.20. Kini Via lebih banyak bersama pembantu. Suatu ketika Bunda pulang lebih awal karena tidak enak badan. Saat itu waktu bagi Via tidur siang. Namun pembantu mengajaknya main ke rumah tetangga. Bunda marah dan pembantu ketakutan. Ia keluar.
Sambil menunggu pembantu baru, Via ikut Bunda ke kantor sepulang sekolah. Mula-mula semua berjalan lancar. Lalu Via mulai sakit-sakitan. Akhirnya ia harus opname. Dokter menduga Via kurang istirahat dan makan tidak teratur. Bunda menangis mendengarnya. Ia merasa bersalah.
Eyang datang menawarkan diri mengasuh Via di Salatiga. Via senang sekali. Ia tidak akan kesepian karena banyak sepupunya yang tinggal tidak jauh dari rumah Eyang. Sebetulnya Bunda keberatan. Namun demi kebaikan Via, Bunda pun rela.
Setiap awal bulan Ayah dan Bunda bergantian ke Salatiga. Biasanya mereka tiba Minggu pagi. Sore harinya mereka sudah kembali ke Bandung, karena esok paginya harus ke kantor. Bunda pun selalu menyempatkan diri mengambil rapor Via. Atau menemani Via ikut piknik sekolah. Saat ulang tahun Via, Ayah dan Bunda cuti untuk merayakannya bersama.
Ah, tiba-tiba ada aliran haru di dada Via. Keraguannya terhadap kasih sayang Bunda, hilang sudah.
“Via, umumnya seorang anak memang tinggal bersama orang tuanya. Namun karena alasan tertentu, ada juga anak yang tinggal dengan orang lain,” kembali mengiang kata-kata Eyang.
Hop! Via bangkit meraih kertas dan pena. Ia mulai menuliskan kenangannya tentang Bunda. Sewaktu-waktu bila hatinya ragu ia akan membaca tulisannya kembali. Biarlah Bi Jum berpendapat Bunda tidak mau mengasuh dirinya. Namun Via yakin Bunda amat menyayanginya. Keyakinan itu akan ia jaga baik-baik. Via menghela nafas lega. Kini ia tidak boleh begitu saja terpengaruh ucapan orang lain.

Leave a comment »

Hukuman Manis Buat Arya


Arya berdiri di ruang makan. Sebentar-sebentar dia mengintip ke ruang kerja ayahnya. Di ruangan itu tersimpan buku-buku koleksi ayahnya. Ruangan itu dialasi tikar lampit Kalimantan. Sangat nyaman. Arya dan Astri betah berlama-lama membaca di situ. Ibu Arya yang seorang guru, juga sering mengoreksi soal-soal ulangan di situ.
Sekarang ini lampu ruangan itu mati. Ayah belum sempat menggantikan dengan lampu baru. Arya mengintip sekali lagi. Namun ia tidak bisa melihat jelas karena ruangan itu agak gelap. Sore itu tidak ada seorang pun di rumah kecuali Arya. Ayah dan ibu mengantar Astri ke dokter gigi. Arya mulai gelisah. Ia ingin sekali masuk ke ruangan itu. Tiba-tiba ia dikejutkan oleh dering telepon. Ternyata dari Dani, teman sekelasnya.
“Kalau kamu tidak bisa menemukannya, berarti kamu ingkar janji. Dasar pengecut!” kata Dani dengan suara keras.
“Tapi Dan…” jawab Arya gugup.
Belum sempat Arya menyelesaikan kalimatnya, telepon sudah ditutup Dani. Arya lalu berjalan menuju ruang belajar. Besok Ibu akan memberi ulangan matematika. Di ruang itulah biasanya Ibu mempersiapkan soal-soal ulangan. Perlahan-lahan dibukanya pintu ruangan itu. Berkas sinar lampu dari ruang makan menerobos masuk.
“Itu dia!” gumam Arya gembira. Sebuah buku tergeletak di meja. Tampak ada sehelai kertas terselip di dalamnya. Arya tahu benar bahwa mengintip soal sebelum ulangan adalah perbuatan curang. Namun ejekan Dani terngiang-ngiang di telinganya.
Arya menarik napas panjang dan berkata pada dirinya sendiri, “Aku bukan pengecut. Aku harus mengambilnya!”
Dengan gemetar, diambilnya kertas itu dari atas meja. Lega rasanya begitu melihat bahwa kertas itu benar-benar soal ulangan matematika. Rasa takut kembali muncul di hatinya. “Pengecut, pengecut!” Mengingat kata-kata Dani itu, Arya menjadi nekat membawa kertas itu keluar. Secepat kilat ia lari ke ruang TV menelepon Dani.
“Hebat!” teriak Dani. Arya lalu membacakan soal matematika itu dan Dani mencatatnya.
“Terima kasih, Arya. Besok kutraktir es krim Mas Doto deh!” seru Dani riang. Arya tertegun sejenak. Dia lalu lari ke ruang belajar dan menyimpan kembali kertas soal itu.
Baru saja Arya hendak menutup pintu ruang belajar, terdengar suara mobil Ayah di depan rumah. “Hmmm, untung sudah beres,” gumamnya perlahan.
Keesokkan harinya ulangan matematika berlangsung sesuai jadwal.
“Ya ampun, soalnya persis sekali!” seru Arya dalam hati. Dani berhasil menyelesaikan soal ulangan dalam waktu dua puluh menit. Ketika ia menyerahkan lembar jawaban, semua anak memandang keheranan padanya. Arya tersenyum dan Dani membalas dengan mengedipkan sebelah matanya.
“Kau adalah sahabatku yang paling baik di dunia!” ucap Dani saat mereka menikmati es krim di bawah pohon. Arya tersipu.
Sore harinya, saat Arya pulang ke rumah,
“Arya, Ibu punya kejutan buatmu!” seru Ibu gembira.
“Wow, chicken pie!” teriak Arya. “Makasih, Bu!” seru Arya lagi.
Saat makan malam tiba, dengan bangga Ibu menceritakan kehebatan anaknya. “Ayah, Arya mendapat nilai matematika paling tinggi di kelas, lo!” seru Ibu.
“Wah hebat! Anak istimewa harus mendapat hadiah istimewa! ” timpal Ayah.
“Aku juga mau kasih Mas Arya hadiah. Tapi rahasia!” ucap Astri, adik Arya.
Arya menutup mulut dengan tangannya. Alisnya agak terangkat. Ia menjadi salah tingkah. Ia malu dan merasa sangat bersalah. Arya akhirnya menunduk dan berkata lirih,
“Maaf, Bu. Saya membaca soal ulangan matematika itu tadi malam,” air mata menggenang di pelupuk matanya.
Ibu memeluknya dengan lembut dan berkata, “Hmm, Ibu senang akhirnya kamu mengaku. Tapi mengapa kau lakukan itu? Ada yang menyuruhmu?” desak Ibu lembut.
“Ti…tidak, Bu!” sahut Arya cepat, tetap menunduk.
“Memang serba salah jadi anak guru, ya?” Ibu menyelidik halus. “Mmm…sebetulnya kalau aku berani, hal ini tidak akan terjadi, Bu,” jawab Arya memberanikan diri.
Ibu tersenyum mendengar jawaban anaknya. “Sebenarnya Ibu curiga sejak tadi malam. Kau tidak menyelipkan kembali soal matematika itu pada halaman semula,” jelas Ibu bijak. “Dan Ibu tambah curiga melihat gerak-gerik Dani saat menyerahkan soal. Tapi sudahlah, kamu kan sudah mengakui kesalahanmu,” ucap Ibu lagi.
“Jadi, sebetulnya Ibu sudah tahu sejak tadi malam?” Arya keheranan.
Ibu tersenyum mengangguk.
“Lo…kenapa Mas Arya tidak langsung dimarahi, Bu?” tanya Astri. Ayah tertawa sambil mengacak-acak rambut Astri,
“Kamu tuh paling suka kalau Mas Arya dihukum!”
“Menghukum seseorang itu tidak harus selalu dengan marah-marah!” Ibu menjelaskan.
“Bu, Arya lebih baik dimarahi habis-habisan daripada diperlakukan dengan baik begini,” sergah Arya.
“Akh kamu! Sudah salah malah nawar-nawar!” sahut Ayah sambil tertawa.
Arya menghela nafasnya. Tiba-tiba Ayah menyeletuk, “Astri, sini chicken pie nya. Ayah habiskan saja deh!” Astri dan Arya serentak lari menuju lemari makan, dan berteriak,
“Jangan dooong!” Ayah dan Ibu tertawa melihat tingkah kedua anaknya. ***

Leave a comment »

PUTRI SEORANG SAUDAGAR

Konon duluuuu sekali, adalah seorang saudagar yang kaya. Dia mempunyai tiga orang putri. Ketiganya berparas cantik. Sulung memiliki tubuh yang ramping. Karena itu dia senang sekali memakai baju yang bagus-bagus. Tengah mempunyai kulit yang halus lembut. Karena itu dia suka memakai perhiasan yang indah-indah. Sedang si Bungsu suaranya sangat merdu. Sifatnya juga lemah lembut. Dia sayang sekali kepada ayahnya.

Suatu hari saudagar itu akan berdagang ke negri seberang. Negeri itu sangat jauh letaknya. Harus melewati hutan dan gurun yang tandus. Di sana banyak berkeliaran perampok.
“Nah!” kata saudagar itu kepada ketiga putrinya. “Apa yang kalian inginkan untuk oleh-oleh nanti?”
“Biasa Yah,” sahut si Sulung. “Saya ingin sebuah baju yang paling cantik yang ada di negri itu.”
“Kalau saya sih minta dibawakan perhiasan yang paling indah yang ada di negri itu,” seru si Tengah.
Bungsu hanya diam. Teringat dia akan mimpinya semalam. Dia merasa cemas, takut kalau apa yang dimimpikannya itu akan menjadi kenyataan.

“Bagaimana Bungsu?” Apa yang kau inginkan?” tanya saudagar itu karena si Bungsu hanya memandangi dirinya saja.
“Saya ingin ayah tidak pergi,” sahut si Bungsu dengan suara pelan.
“Huuuu!” seru si Sulung sebal. “Kalau Ayah tidak pergi bagaimana aku bisa mendapat baju yang cantik!”
“Iya, nih. Kamu bagaimana sih!” seru si Tengah tidak kalah kesal. “Kalau Ayah tidak pergi aku kan tidak bisa memiliki perhiasan yang indah.”
Saudagar itu menepuk bahu si Bungsu tanda mengerti. “Ayah mengerti mengapa kau merasa cemas melepas ayah pergi. Tapi percayalah. Ayah bisa menjaga diri.”
Bungsu menundukkan kepalanya. Ingin rasanya dia menceritakan mimpinya. Tetapi dia takut ditertawakan. Tentu kedua kakanya akan berkata, “Alaa, mimpi itu kan cuma bunga tidur.”
Karena itu setelah ayahnya pergi, Bungsu terus gelisah. Bayangan mimpi itu terus mengganggu pikirannya. Setiap kali memikirkan ayahnya air matanya menitik. Akhirnya dia mengambil keputusan untuk menyusul ayahnya. Diam-diam dia pergi meninggalkan rumahnya.

Dia berjalan menuju luar kota. Setelah seharian berjalan, dia merasa lelah. Dia duduk menyandar di bawah sebatang pohon yang rindang. Pikirannya masih dipenuhi oleh bayangan mimpinya.
“Oooh, seandainya aku menjadi burung, tentu aku bisa lebih cepat menyusul Ayah,” keluhnya. Tak terasa air mata menetes di pipinya. Angin sepoi-sepoi membuat matanya mengantuk. Apalagi badannya sudak capek sekali. Akhirnya dia tertidur lelap. Entah berapa lama dia tidur. Ketika sudah bangun dia merasa ada sesuatu yang aneh di tubuhnya.. Seluruh badannya telah ditumbuhi bulu-bulu. Tangannya berubah menjadi sayap. Dan mulutnya menjadi paruh. Dia tidak bisa lagi berbicara seperti semula. Yang keluar dari mulutnya hanyalah suara siulan yang sangat merdu.
Meskipun begitu Bungsu merasa gembira. Sebab dengan memiliki sayap, kini dia bisa lebih cepat menemukan ayahnya. Dia lalu terbang. Makin tinggi. Makin jauh. Tapi dia belum juga menemukan ayahnya. Dia sudah merasa putus asa ketika tiba-tiba dari kejauhan dia mendengar suara pekik burung gagak. Dia mencoba terbang ke arah itu. Dilihatnya segerombolan burung gagak raksasa terbang mengelilingi sesuatu benda. Bungsu segera mendekati mereka.

Astaga! Pekiknya dalam hati. Itu kuda ayahnya. Sepertinya kuda itu sudah mati. Berarti ayahnya ada di sekitar tempat itu. Dengan rasa cemas dia memeriksa sekitar tempat itu. Akhirnya dia menemukan ayahnya. Tergeletak pingsan di balik segerombolan semak. Tubuhnya terluka. Nampaknya ayahnya telah menjadi korban perampokan. Mungkin sebelum merampok ayahnya disiksa lebih dulu.
Menetes air mata Bungsu melihat keadaan ayahnya itu. Teringat dia akan mimpinya. Apa yang ditakutkannya telah menjadi kenyataan. Dia harus segera mencari pertolongan agar ayahnya bisa diselamatkan.
Bungsu segera terbang mengelilingi gurun itu. Melihat kalau-kalau ada orang yang bisa dimintai pertolongan. Haaa! Ada seorang pemuda gagah yang sedang mengendarai kuda. Nampaknya dia bermaksud beristirahat, sebab kini dia menghentikan kudanya. Memasang kemah. Menurunkan perbekalan yang dibawanya, kemudian memberi kudanya minum dan makan. Nah, sekarang pemuda itu siap menikmati makan siangnya.
Bungsu segera menukik. Menyambar roti yang siap dimasukkan ke mulut pemuda itu. Si pemuda mula-mula kaget dengan kejadian tiba-tiba itu. Tetapi kemudian dia menjadi heran. Karena burung yang telah menyambar rotinya itu tidak segera terbang menjauhinya. Burung itu terbang rendah di hdapannya. Berputar-putar seolah ingin ditangkap.
Pemuda itu menjadi penasaran. Dia berdiri. Mencoba menangkap burung cantik yang kelihatan jinak itu. Tetapi si burung mengelak. Terbang menjauh sedikit lalu berputar-putar kembali. Pemuda itu terus mengikuti burung itu. Dia penasaran. Tak sadar dia telah meninggalkan kemahnya. Kini dilihatnya burung cantik itu hinggap di atas sebuah pohon kecil. Si Pemuda mengendap-endap. Mengulurkan tangan, siap menangkap si burung. Tetapi tiba-tiba dia terbelalak kaget.

“Astaga!” serunya tatkala melihat saudagar yang sedang tergeletak pingsan. Dia segera mengangkat tubuh saudagar itu. Segera dibawanya ke kemahnya. Sementara burung cantik mengikuti dari belakang.
Setelah berada di kemahnya, saudagar itu dirawatnya dengan baik. Luka-lukanya dibersihkan, diberi obat. Pakaiannya yang kotor diganti. Dan ketika saudagar itu siuman, dia menjadi heran.
“Siapa anda?” tanyanya menatap penolongnya.
“Saya kebetulan sedang lewat. Burung itu yang menunjukkan Bapak kepada saya. Rupanya Bapak telah menjadi korban perampok,” sahut pemuda itu.
Saudagar mengangguk. “Yaa … sungguh menyesal saya karena tidak mau mendengar kata-kata anak saya yang bungsu. Padahal dia sudah melarang saya pergi. Akh, dia tentu sangat sedih bila mengetahui keadaan saya sekarang,” kata saudagar itu seraya menitikkan air matanya.

Aneh! Tiba-tiba saja si Bungsu berubah kembali menjadi seorang putri yang cantik. Dia segera memeluk ayahnya dengan gembira.
“Ayah! Syukurlah Ayah selamat,” katanya.
“Astaga! Jadi kau yang telah menunjukkan ayah kepada orang itu?” tanya saudagar itu. “Mengapa kau bisa menjadi burung?”
Bungsu segera mengisahkan kejadiannya. Kemudian dia mengucapkan terima kasih kepada pemuda yang telah menolong ayahnya. Si Pemuda tersenyum.
“Saya kagum sekali mendengar bagaimana besarnya kasih sayangmu kepada ayahmu. Kebetulan saya melakukan perjalanan ini untuk mencari seorang istri. O, ya. Perkenalkan. Saya Pangeran dari negri seberang. Kalau kamu tidak keberatan saya ingin melamar kamu menjadi istri saya.”
Begitulah akhirnya, mereka kawin dan hidup berbahagia. Saudagar itu kembali pulang ke rumahnya tanpa membawa oleh-oleh bagi kedua putrinya yang lain. Namun Bungsu menitipkan sebuah gaun yang cantik dan sepasang perhiasan bagi kedua kakaknya.

Leave a comment »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.