Archive for CERITA PENDEK dan DONGENG_(majalah BOBO)

Raja Kayu

Seperti biasanya, Sukresh mengikuti ayahnya ke hutan. Setelah menebang satu dua pohon, ayah Sukresh mengajak Sukresh beristirahat. Bekal kue beras buatan ibu, mereka lahap habis.
“Kalau kau besar nanti, kau akan mampu menebang pohon lebih banyak dari Ayah,” ujar ayah Sukresh sambil membetulkan sorbannya.
Sukresh hanya terdiam.
Ketika hari menjelang siang, ayah segera memotong kayu menjadi kecil-kecil dan mengikatnya menjadi satu. Kayu-kayu itu akan diangkut dan dijual ke pasar. Pasti ibu senang melihat mereka mampu menjual kayu lebih banyak lagi pada hari itu.
Namun ketika akan mengangkut kayu ke pundaknya, tiba-tiba kaki ayah tergelincir. Tubuh ayah terperosok ke tepi tebing kecil. Sukresh terkejut. Dengan tertatih-tatih ia menuruni tebing. Diperiksanya setiap rerimbunan. Betapa terkejut ketika ia menemukan ayahnya yang pingsan. Namun lebih terkejut lagi ketika ia melihat seekor ular besar siap mematuk ayahnya.
“Jangan gigit ayahku!” teriak Sukresh keras.
Ajaib. Ular itu memandang Sukresh.
“Tubuh ayahmu menindih tiga anakku hingga mati. Maka balasan yang setimpal adalah nyawa ayahmu juga,” jawab ular itu.
“Apa pun akan kulakukan asal kau tidak menggigit ayahku,” pinta Sukresh.
“Baiklah. Sebagai gantinya, setiap mencari kayu bakar, kau harus menyediakan kayu bakar untukku sebanyak tiga ikat sebagai ganti nyawa tiga anakku. Kau hanya boleh membawa pulang satu ikat kayu bakar sebagai pengganti nyawa ayahmu. Dan ingat, perjanjian ini tidak boleh ada yang tahu. Termasuk ayah dan ibumu.”
“Baik, kalau itu yang kau minta. Asal kau lepaskan ayahku.”
Sejak saat itu Sukresh menggantikan ayahnya mencari kayu bakar di hutan. Ayahnya tidak dapat berjalan karena kakinya luka akibat tergelincir.
Hari-hari penuh kerja keras dilalui Sukresh. Setiap ia menebang empat pohon, tiga pohon dilemparkannya ke dalam jurang. Satu pohon dibawanya ke pasar untuk dijual.
Hari berganti hari. Bulan berganti bulan. Tahun berganti tahun. Sukresh tumbuh menjadi pemuda berbadan besar dan kuat. Namun setiap kembali dari hutan dia hanya membawa satu ikat kayu bakar. Orang-orang desa mulai berbisik-bisik mengejek. Sungguh tidak pantas bila Sukresh hanya membawa satu ikat. Tidak sepadan dengan besar tubuhnya.
“Sukresh anak pemalas. Di hutan kerjanya hanya melamun,” begitu cibiran pemuda-pemuda di desa itu.
Sukresh hanya diam. Ia tidak marah, karena tidak boleh ada yang tahu kisah yang sebenarnya. Sementara itu, ayah Sukresh sedih mendengar ejekan terhadap anaknya. Dan karena hasil penjualan kayu Sukresh hanya sedikit, keluarga mereka hidup miskin.
Hingga suatu hari datanglah ke rumah reot mereka dua orang menunggangi kuda. Jubah mereka seperti yang dikenakan orang-orang kaya di sungai Indus.
“Benarkah anda yang bernama tuan Sukresh?” tanya tamu itu penuh hormat saat melihat Sukresh.
“Benar,” jawab Sukresh.
“Hamba diutus tuanku Raja untuk menyampaikan dua pesan. Pesan pertama, perjanjian antara tuan Sukresh dan tuanku Raja telah berakhir. Pesan kedua, apa yang saya bawa adalah milik tuan semuanya. Itu adalah hasil keikhlasan dan pengorbanan tuan selama bertahun-tahun dalam mencintai ayah Tuan,” ujar tamu itu sambil menunjukkan barisan gerobak berderet-deret berisi kayu bakar.
Sukresh terkesima. Bukankah itu hasil pekerjaannya selama ini. Sukresh ingat bagaimana cara dia memotong kayu-kayu itu.
“Apakah semua ini untuk saya…” tanya Sukresh terheran-heran kepada tamunya. Namun ketika Sukresh menoleh, tamu itu telah pergi. Tinggallah Sukresh dan kedua orang tuanya yang masih kebingungan.
Sejak saat itu Sukresh menjadi orang kaya di desanya. Dialah raja kayu yang memiliki gudang-gudang berisi kayu bakar terbesar siap untuk dikirim ke seluruh pelosok negeri. (Dongeng ketiga dari Kumpulan Dongeng Kotak Kayu Hitam)

Leave a comment »

Nala dan Damayanti

Dahulu kala, negeri Nishadha India diperintah oleh raja bernama Nala. Ia sangat bijaksana, rendah hati dan juga tampan.
Di sebuah negeri lain bernama Vidharba terdapat seorang raja besar bernama Bhima. Ia memiliki seorang putri bernama Damayanti, dan tiga orang putra. Damayanti tumbuh menjadi gadis tercantik di negeri itu. Ia sering mendengar kabar tentang Nala, raja tampan di Nishadha. Begitu pun Nala, sering mendengar betapa cantiknya Damanyanti.
Suatu hari, Raja Nala melihat sekelompok angsa cantik dengan sayap berbintik emas di taman istana. Ditangkapnya seekor angsa berbulu cantik. Ia terkejut mendengar angsa itu berbicara seperti manusia.
“Lepaskan aku, wahai Raja Nala. Dan aku akan pergi untuk memberitahu putri Damayanti betapa hebat dan mulianya anda. Ia tidak akan memikirkan siapa pun selain anda.” Nala segera melepaskan angsa itu. Dan angsa itu pun terbang bersama angsa-angsa lain ke istana Damayanti.
Damayanti sedang berada di taman ditemani dayang-dayangnya. Betapa terkejutnya ia melihat angsa-angsa yang datang bertamu. Dan ia lebih terkejut lagi ketika didengarnya seekor dari mereka berkata, “Damayanti, Nala, raja Nishadha adalah laki-laki tertampan dan termulia di dunia. Kau juga mutiara paling sempurna di antara wanita lain. Kalian berdua diciptakan untuk bersama.”
Damayanti menjawab, “Aku mendengarmu, pergi dan katakan hal yang sama kepada Raja Nala!”
Sejak hari itu Damayanti hanya memikirkan Nala. Sampai akhirnya ia jatuh sakit. Dayang-dayangnya yang khawatir pergi menemui Raja Bhima dan menceritakan yang terjadi. Setelah berpikir keras, Raja Bhima mengundang seluruh raja untuk datang ke istananya. Barangkali saja ada di antara mereka yang bisa menenangkan hati putrinya. Karena berita tentang kecantikan Damayanti tiada tara, banyak raja yang ingin mengikuti kontes itu.
Pada saat itu, Dewa Indra, Dewa Surga yang berada di puncak Meru, juga ingin mengikuti kontes. Begitu pula dengan tiga dewa lainya. “Ayo kita pergi ke sana dan mengadu nasib,” ujar para dewa itu dengan gembira.
Ketika mereka sedang terbang di angkasa, mereka melihat Nala yang juga sedang dalam perjalanan ke Vidharba. Karena terkesan dengan sifat Nala yang mulia, mereka turun ke bumi dan memerintah Nala untuk menyampaikan pesan pada Damayanti.
Dengan penuh hormat Nala berkata, “Siapakah kalian? Dan mengapa aku harus menuruti kemauan kalian?”
Indra menjawab, “Kami penjaga dunia! Kau harus memberitahu Damayanti untuk memilih salah satu dari kami untuk menjadi suaminya.”
Tentu saja Nala terkejut, “Kumohon,” pintanya, “Jangan menyuruhku melakukan itu. Aku sendiri juga berusaha untuk memenangkan hatinya.”
Dewa-dewa itu tetap memaksa. Kemudian Nala memikirkan alasan lain. “Istana Bhima dijaga ketat,” ujarnya “Baigamana aku bisa masuk ke sana?”
“Jangan khawatir,” sahut dewa-dewa itu. “Kau berada di sana sekarang!”
TRING!
Sekejap mata, Nala pun sudah berada di taman istana raja Bhima. Ia langsung berada di hadapan Damayanti. Gadis itu terkejut melihat seorang laki-laki tampan tiba-tiba berdiri di hadapannya. “Siapa kau dan bagaimana kau bisa masuk ke sini?”
“Aku Nala, Raja Nishadha, “jawab Nala. “Dan aku datang kesini untuk menyampaikan pesan dari empat dewa.”
“Pesan apa….?”
“Mereka ingin kau memilih salah seorang dari mereka untuk menjadi suamimu.”
Damayanti berkata, “Katakan pada mereka bahwa aku sangat tersanjung. Tapi beritahu mereka bahwa hatiku telah menjadi milikmu, Nala.”
Meskipun gemetar karena senang, Nala tidak berani menentang para dewa. Ia mendesak Damayanti untuk melakukan seperti yang mereka minta.
“Tapi aku akan kembali ke sini dan berlomba bersama yang lain untuk memenangkanmu menjadi istriku,” janji Nala.
Terlintas ide di kepala sang putri, “Ketika kau kembali, datanglah bersama dewa-dewa. Jadi mereka tidak bisa menyalahkanku karena memilihmu.”
Ketika tiba hari perlombaan, aula istana penuh denga raja-raja. Semuanya tampan, kuat dan berpakaian indah. Tapi ketika Damayanti memasuki aula dan memandang ke sekelilingnya, tiba-tiba ia merasa takut. Karena ia melihat lima orang raja yang seperti Nala. Keempat dewa itu ternyata menyamar menjadi Nala, si Raja Nishadha. Untuk menentukan siapa Nala yang sebenarnya sangatlah sulit.
Damayanti melangkah dan membungkuk di hadapan kelima Nala itu. Ia berkata, “Aku telah memberikan hatiku pada Nala. Jadi, ijinkan aku memilikinya. Tunjukkan diri kalian dengan cara-cara khusus agar aku tahu siapa Nala yang sesungguhnya di antara kalian.”
Karena tersentuh kejujuran dan keberanian sang putri, keempat dewa itu menunjukkan ciri-ciri surgawi mereka. Mereka tidak memiliki bayangan, tidak berkeringat, kakinya tidak menyentuh tanah dan matanya tidak pernah berkedip. Maka, sang putri dapat memilih Nala yang sesungguhnya.
Damayanti menyentuh jubah Nala dan memasangkan rangkaian bunga merah di leher raja itu. Itu adalah tanda bahwa ia telah memilih Nala untuk menjadi suaminya. Lalu mereka menikah dan keempat dewa itu memberi mereka hadiah yang menakjubkan. *****

Leave a comment »

Lo Sun

Lo Sun seorang anak buta. Ia hidup bersama ayahnya di sebuah gubuk reot. Suatu hari, saat Lo Sun berusia lima tahun, ayahnya mengusirnya. Sebab sang ayah sudah tak sanggup membiayai hidup Lo Sun. “Kau pergi saja mengemis. Nanti akan banyak orang memberimu sedekah. Mereka pasti kasihan padamu karena kau buta.”
Lo Sun meninggalkan rumah tanpa bekal apapun. Ia ditemani Fan, anjingnya yang setia. Mereka pergi ke kota. Mereka mencari nafkah dengan meminta-minta. Lo Sun berjalan memakai tongkat. Di jalanan yang terjal dan berbatu-batu, Fan menjadi penunjuk jalan.
Fan adalah anjing yang pandai. Sesekali ia membantu majikannya mencari uang. Apabila Lo Sun menepuk tangan tiga kali, Fan berlutut dan menjatuhkan kepalanya ke tanah. Orang-orang di jalan menyukai tontonan ini, sehingga mereka memberi Lo Sun uang receh.
Lima tahun telah berlalu. Sejak matahari terbit sampai tenggelam ke peraduan, Lo Sun menyusuri jalan-jalan kota, mencari sesuap nasi. Pada malam hari mereka tidur di sembarang tempat. Kadang di depan pintu rumah orang, kadang di lapangan terbuka.
Suatu malam, Fan menuntun majikannya ke sebatang pohon berdaun lebat di tepi jalan. Lo Sun menyantap makanan malam, berupa sekerat kecil roti. Roti itu dimakannya berdua dengan Fan. Mereka lalu tidur.
Dalam tidurnya Lo Sun bermimpi. Seorang peri cantik datang dan berbicara lembut padanya, “Lo Sun, apa kau dapat melihatku?”
Lo Sun menjawab sedih, “Tidak, aku buta.”
“Kasihan,” sahut sang peri, “Tapi jangan sedih. Barangkali aku bisa menolongmu.”
“Apa kau bisa memulihkan mataku?” tanya Lo Sun penuh harap.
“Maksudku, kau bisa menolong dirimu sendiri. Aku hanya membantu. Kalau kau berbuat baik, maka secercah cahaya kecil akan memasuki rongga matamu. Semakin banyak kau beramal kebaikan, semakin bertambah baik penglihatanmu.” Si peri lalu menambahkan, “Tapi ingat, apabila perbuatanmu kurang baik, sinar itu akan meredup, dan kau akan kembali buta.”
Suara itu menjadi sayup-sayup, dan Lo Sun terbangun. Matahari hangat menerpa wajahnya. Bocah pengemis itu menjadi penuh semangat. Begitu juga Fan yang menyalak-nyalak gembira.
“Fan, bantulah aku agar bisa melihat lagi,” cetus Lo Sun. “Tanpa kau, aku tak bisa berbuat banyak.”
Mereka berjalan bersama menyelusuri jalan-jalan di kota. Tanpa disadari, mereka melintas di depan seorang pengemis tua yang duduk di tepi jalan. Pengemis itu berkata, “Kasihani aku! Beri pengemis buta uang satu kepeng!”
Lo Sun menjawab, “Tapi aku juga buta, Kek. Aku juga pengemis, seperti Kakek.”
“Tapi kau lebih beruntung, anak muda,” sahut lelaki tua, “Karena kau masih bisa berjalan. Tapi aku…, aku buta dan lumpuh.”
“Oh, ya,” pekik Lo Sun. Ia segera memberi si Kakek sekeping uang receh. Itu satu-satunya uang yang dimilikinya.
Pengemis tua mengucapkan terima kasih. Tiba-tiba Lo Sun merasakan secercah cahaya melintas di depan matanya. Dikerjapkan matanya, dan ketika dibuka dunia nampak sedikit terang. Ia sudah tidak buta total. “Fan, mimpiku menjadi kenyataan!” pekiknya. “Kata Peri, kalau aku berbuat amal dan kebajikan, buta mataku jadi berkurang!”
Malam harinya Lo Sun tidur di Kuil Pengemis. Yaitu bangunan berupa puing-puing kuno, letaknya di luar kota. Kuil Pengemis adalah tempat singgah para pengemis. Di pojok kuil ada seorang nenek pengemis. Tubuhnya kurus kering. Ia sakit karena kurang makan. Lo Sun hanya memiliki sepotong kecil roti kering untuk makan malam. Tapi diberikannya roti itu kepada nenek itu. Nenek itu mengucapkan terima kasih. Tiba-tiba ada secercah cahaya lain melintas di depan mata Lo Sun. Dikerjapkan matanya. Sekarang ia bisa melihat malam itu ada bulan purnama.
Malam itu Lo Sun tidur dengan perut kosong. Tapi ia tidak peduli. Rasa bahagia karena matanya mulai pulih membuat ia lupa bahwa ia lapar.
Esok harinya, Lo Sun dan Fan kelaparan. Mereka tidak punya roti lagi. Lo Sun dan Fan kembali ke kota untuk mengemis. Mereka telusuri jalanan berdebu. Tiba-tiba mereka melihat seekor ayam tersesat di jalan. Fan mengejarnya, lalu menangkapnya, dan memberikannya kepada Lo Sun.
Lo Sun merasa amat lega. Ayam itu dijualnya di pasar. Tapi ketika Lo Sun menerima beberapa keping uang dari si pembeli, tiba-tiba seberkas awan gelap melintas di depan mata Lo Sun. Pemandangan di depannya pun menjadi gelap.
Lo Sun teringat kata-kata peri dalam mimpi. “Pasti ini hukuman karena aku berbuat jahat,” batinnya. “Ayam itu bukan milikku. Aku telah mencurinya.”
Meskipun merasa amat lapar, Lo Sun tidak mau berbuat dosa. Ia harus mengembalikan ayam itu kepada pemiliknya. Tapi karena pembelinya sudah pergi, Lo Sun kembali ke desa, mencari pemilik ayam, dan menyerahkan semua uang hasil penjualan ayam kepadanya. Maka seberkas cahaya kembali melintas di depan matanya. Bumi nampaknya lebih cerah daripada semula. Lo Sun kembali tersenyum senang.
Sebulan kemudian, Lo Sun sudah bisa membedakan benda-benda yang dilihatnya. Sekarang Fan tak perlu lagi menuntunnya.
Suatu hari, ia dan Fan sedang duduk di pinggir sungai. Semalam turun hujan lebat. Langit diselimuti mendung tebal. Air sungai meluap, arusnya deras sekali. Tiba-tiba terdengar jeritan seorang lelaki, “Tolong! Aku tenggelam!”
Lelaki itu pasti tercebur ke sungai, dan kini terseret arus deras! Batin Lo Sun. Lo Sun tidak tahu haru berbuat apa. Ia masih kecil dan matanya setengah buta. Bagaimana ia bisa menolong orang tenggelam? Tapi Lo Sun ingat, Fan bisa berenang dan pandai. Ia pasti bisa menolong orang itu. “Tapi bagaimana kalau Fan tenggelam?” gumam Lo Sun ragu. “Aku tak akan punya teman lagi.”
Teriakan laki-laki tadi terdengar lagi. Kali ini Lo Sun tidak ragu-ragu. “Lari, Fan! Selamatkan lelaki yang tenggelam itu!”
Lo Sun berdoa agar si pria dan Fan selamat.
Akhirnya terdengar suara si lelaki naik ke tepian dan merebahkan tubuh dari tepi sungai. Lo Sun menghampirinya, dan bertanya, “Apakah anda baik-baik saja? Di mana anjingku?”
Lelaki itu duduk nyaris tak bisa bicara. Tapi ia kemudian berkata pelan, “Menyesal sekali, anjingmu terseret arus. Aku telah berusaha menariknya. Tapi kami berdua sama-sama lemah…”
Lo Sun menangis meraung-raung di rerumputan. “Fan! Apa yang bisa kulakukan tanpa kau di sampingku? Kau satu-satunya sahabatku!” Lo Sun terisak, membenamkan wajahnya di kedua telapak tangannya.
Lelaki itu duduk dan melingkarkan lengannya ke bahu Lo Sun yang malang. “Jangan menangis!” katanya menghibur. “Pulanglah, ceritakan pada ayahmu. Aku yakin dia akan membelikanmu anjing lain.”
“Tapi aku tak punya rumah,” jawab Lo Sun. “Aku buta, dan ayah mengusirku lima tahun lalu. Fan satu-satunya sahabatku.”
Tangisan lelaki itu pun meledak. “Angkatlah mukamu, Nak,” katanya. Lo Sun menengadah dan memandangi lelaki itu. Ya, ia dapat melihat wajah lelaki itu! Matanya telah pulih. Perbuatan baiknya yang terakhir telah menyembuhkan kebutaannya. Lelaki itu bicara dengan suara pelan, “Apakah namamu Lo Sun?”
“Ya, benar,” jawab Lo Sun. “Tapi darimana Anda tahu?”
“Lo Sun, anakku, maafkan aku!” ujar lelaki itu. “Aku ayahmu. Aku telah berlaku kejam dengan mengusirmu. Ayo pulang bersamaku, aku berjanji tak akan berbuat kejam padamu. Aku akan membelikan kau seekor anjing lain….”
Sesaat Lo Sun marah. Lelaki di depannya ternyata ayahnya yang telah membuat hidupnya sengsara! Tapi Lo Sun kemudian sadar, bahwa ia harus memaafkan. Jawabnya, “Aku maafkan, Ayah. Aku akan pulang bersama Ayah!”
Ayahnya memekik kegirangan. Saat mereka berjalan berangkulan pulang, Lo Sun bercerita tentang peri baik hati yang datang ke mimpinya.
Lo Sun kini mempunyai anjing lain bernama Min. Namun bagaimana pun akrabnya ia dengan Min, kenang-kenangan manisnya bersama Fan tak pernah bisa dilupakannya.

Leave a comment »

Kasut Bidadari

Kasut Bidadari adalah nama sejenis anggrek yang tumbuh di hutan. Kasut berarti sepatu. Anggrek Kasut Bidadari yang tumbuh di tanah ini sangat indah. Bunganya seperti disulam dengan benang emas. Tepiannya berwarna perak. Karena indahnya, ada dongeng tentang anggrek Kasur Bidadari ini. Beginilah ceritanya…
Dahulu kala, di kerajaan kahyangan, ada tujuh puteri yang sangat jelita. Nama-nama mereka diambil dari nama bunga. Mawar, Dahlia, Cempaka, Tanjung, Kenanga, Cendana dan si bungsu Melati. Mereka masing-masing mempunyai kesukaan yang berbeda. Yang paling menonjol dari antara mereka adalah si bungsu Melati.
Melati sangat suka bemain-main di hutan Rimba Hijau. Hutan itu sering dikunjungi manusia. Ayah mereka berulang kali melarang Melati bermain di hutan itu. Sang ayah takut jika puterinya itu bertemu dengan manusia.
Di rimba itu terdapat sungai dengan air terjun yang indah. Di saat cuaca cerah, gemercik airnya membias memantulkan sinar matahari. Sehingga terbentuklah warna-warna indah seperti pelangi.
Suatu hari Melati mengajak semua kakaknya ke Rimba Hijau. Mereka turun ke bumi dengan meneliti pelangi. Mereka mengenakan pakaian dan sepatu yang indah. Setibanya di bumi, mereka asyik bermain di air terjun.
Sedang asyiknya mereka bermain, lewatlah seorang pemburu. Ia sangat terkejut melihat ketujuh bidadari itu.
“Hei, siapa kalian? Aku belum pernah melihat kalian!” seru pemburu itu.
Ketujuh puteri itu sangat terkejut. Mereka langsung terbang melayang ke angkasa. Saking terburu-buru, sebelah sepatu Melati jatuh ke bumi. Melati bermaksud mengambilnya. Namun kakak-kakaknya melarangnya. Ketujuh bidadari itu lalu kembali meniti pelangi. Perlahan-lahan pelangi itu pun mulai menghilang.
Pemburu tadi terpana menyaksikan kepergian ketujuh bidadari itu. Ia lalu memungut sebelah sepatu Melati yang tadi terjatuh. Namun, sepatu itu tiba-tiba terjatuh lagi dari tangannya. Pada saat itulah terjadi kejadian aneh. Sepatu tadi perlahan-lahan berubah menjadi bunga yang indah. Setiap helai kelopaknya seperti tersulam dari benang emas dan perak.
“Aneh… kasut tadi mengapa bisa menjadi bunga? Tentu ketujuh gadis tadi adalah bidadari…” gumam pemburu itu. “Karena berasal dari kasut, kunamakan saja bunga ini Kasut Bidadari,” gumamnya lagi.
Demikianlah… Akhirnya sampai kini bunga itu dinamakan Kasut Bidadari.

Leave a comment »

Kampung Berwarna Paman Niko


Karla merengut.
Sudah dua hari ini ia kesal pada mamanya. Sebab Mama belum juga membelikan rumah boneka Barbie, yang sudah lama diinginkannya. Padahal Vidia dan Shiva, teman sekelasnya di SD Nusa Bangsa, sudah memiliki rumah boneka itu. Kemarin Shiva memang mengajak Karla bermain rumah boneka bersama di rumahnya. Tapi Karla malas. Ia ingin memiliki rumah boneka sendiri. Lengkap dengan ruang tamu, kamar boneka dan dapur. Semua serba kecil, mungil, tapi sangat mirip dengan aslinya. Aah, pasti menyenangkan bermain boneka bila ada rumah bonekanya, pikir Karla.
Ting Tong!
Terdengar bel pintu berbunyi. Tapi Karla sengaja tidak beringsut dari sofa ruang tamu. Dia masih kesal. Akhirnya Mama yang sedang sibuk menyiapkan makan siang di meja makan, terpaksa berjalan menuju pintu. Hm, tebak siapa yang datang? Paman Niko! Ia adik Mama.
“Hallo! Karla dimana, Mbak?” tanya Paman Niko pada Mama. Kepalanya celingukan. Biasanya Karla langsung menghambur dan menyambut kedatangan Paman Niko. Tapi kali ini Karla diam saja, biarpun telinganya dipasang baik-baik mendengarkan suara Paman Niko.
Karla sangat menyukai adik Mama yang satu ini. Orangnya gembul, rambutnya gondrong dikuncir satu ke belakang. Tapi penampilannya tidak dekil. Paman Niko hobi fotografi. Jadi kemana-mana selalu membawa kamera tele yang digantungkan di lehernya. Paman Niko suka bercanda, Karla betah berlama-lama di dekatnya. Selain itu Paman Niko juga seorang arsitek. Karyanya sudah beberapa yang dibangun. Karla sangat kagum padanya.
“Tuh, keponakanmu sedang ngambek, di ruang tamu. Minta dibelikan rumah boneka Barbie. Aku pikir, kan, sayang uangnya. Sebentar lagi Karla pasti bosan. Dia kan sudah mulai besar. Masa’ mau main boneka terus,” suara Mama terdengar samar-samar. Lalu suara langkah kaki Paman Niko. Mama menutup kembali pintu depan.
“Ho ho ho! Siapa itu, ngumpet di pojok sofa?” seru Paman Niko begitu melihat Karla yang melungkar di ujung sofa. Karla tersenyum senang. Ingin langsung menghambur ke gendongan Paman Niko seperti biasanya. Tapi ia merasa malu pada Mama. Masak baru saja ngambek, tahu-tahu sudah tertawa-tawa. Aduh, gengsi dong, pikir Karla.
“Kenapa anak manis? Paman dengar, hari ini jadwal ngambek ya? Mau rumah boneka ya?” tanya Paman Niko dengan mimik lucu, sambil duduk di sebelah Karla. Karla mulai luluh, cair seperti es batu yang kena sinar matahari. Sementara Mama diam-diam pergi ke ruang makan dengan senyum lega menghiasi bibirnya.
“Iya, Paman! Shiva dan Vidia sudah punya, cuma Karla yang belum. Paman Niko bikinkan, dong. Paman kan arsitek. Kalau bisa bikin rumah besar, pasti bisa bikin rumah kecil!” rajuk Karla manja. Paman Niko tertawa, perutnya yang besar terguncang-guncang.
“Wah, justru bikin rumah-rumahan boneka itu lebih sulit. Harus ahli, soalnya detilnya kan kecil-kecil. Tapi Paman Niko punya ‘rumah-rumahan’ lain yang juga cantik, warna-warni, seperti rumah boneka. Malah lebih bagus. Kamu mau lihat tidak?” tawar Paman Niko. Karla mendongak, penasaran. Masa’ sih ada rumah-rumahan yang lebih bagus dari rumah boneka?
“Ah, yang benar Paman! Dimana?” tanya Karla penasaran.
“Ada deh! Kalau Karla mau ikut, hari ini Paman kebetulan mau ke sana,” jawab Paman Niko.
“Mau, mau. Tapii…..” Karla diam sejenak, menggigit bibir. Lalu meneruskan dengan suara pelan.
“Apa diijinkan Mama?”
“Lo, Karla belum tahu ya? Kan Mama yang telpon Paman, dan menyuruh mengajak kamu. Sekarang, pamit saja pada Mama, terus ganti baju,” jawab Paman Niko dengan senyum mengembang. Karla tak ragu lagi, langsung terbang ke ruang makan, mencari Mama.
“O iya. Jangan lupa bawa pensil warna atau krayon, ya, sekalian…” ujar Paman Niko lagi. Karla berbalik sebentar.
“Lo, buat apa?” mimiknya terlihat bingung.
“Ada deh! Sudah, cepat! Nanti juga kamu tahu…” Paman Niko menyipitkan sebelah matanya. Karla tersenyum, meski benaknya masih dipenuhi tanda tanya.
Beberapa saat kemudian…
Karla turun dari mobil Paman Niko dengan bingung. Karla mengamati keadaan sekelilingnya dengan seksama. Sementara Paman Niko mengisi rol film ke dalam kameranya. Di depannya adalah sebuah perkampungan kumuh, dengan dinding-dinding dari papan-papan bekas. Mobil mereka tadi sempat melewati tumpukan sampah setinggi bukit. Di situ ada beberapa orang laki-laki bertelanjang dada tampak memilah-milah sampah. Di situ terdapat juga pangkalan becak. Beberapa pengemudi becak sedang duduk-duduk di atas becak menunggu penumpang.
“Ayo, Karla,” ajak Paman Niko.
Karla membuntut di belakang Paman Niko. Dengan ramah Paman Niko menyapa pengayuh-pengayuh becak itu. Mereka kelihatannya sudah akrab. Ternyata kampung itu berupa sebuah jalan setapak kecil. Di sisi-sisi jalan itu padat dengan rumah-rumah berdinding papan. Dindingnya di cat berwarna-warni oleh penghuninya. Yang mengherankan Karla, selain penduduk kampung yang sibuk hilir mudik melakukan kegiatannya, ada segerombolan remaja berpakaian kaos dan jeans. Dilihat dari penampilannya, mereka bukan penghuni kampung itu.
“Mereka siapa, Paman?” tanya Karla heran.
“Itu kakak-kakak mahasiswa jurusan arsitektur yang membantu penduduk mengecat kampung ini, Karla. Mereka juga yang mendekati para penduduk supaya mau mengecat rumahnya. Semua itu dalam rangka Jakart,” jawab Paman Niko.
“Apa sih Jakart itu, Paman?” tanya Karla polos.
“Jakart itu festival seni besar yang diselenggarakan selama bulan Juni. Seniman-seniman di berbagai bidang ingin mengenalkan seni pada tiap lapisan masyarakat. Juga pada orang-orang yang tinggal di daerah kumuh seperti ini, Karla. Ini untuk memperingati ulang tahun Jakarta,” urai Paman Niko panjang lebar. Karla mengangguk-angguk. Ia sangat bangga karena pamannya mempunyai perasaan sosial yang besar.
Karla jadi malu sendiri ketika melihat anak-anak sebayanya harus tinggal di rumah sederhana. Padahal ia baru saja merengek minta dibelikan rumah boneka yang mahal pada mamanya. Seharusnya ia bersyukur tinggal di rumah yang bagus. Setiap hari ke sekolah diantar sopir, dan makan makanan enak.
“Karla, belum pernah naik getek, kan?” tanya Paman Niko. Karla menggeleng.
“Di belakang rumah-rumah ini ada kali kecil. Nanti kita ke seberang kali ya, naik getek,” ujar Paman Niko.
Karla mengangguk girang. Lalu ia dengan Paman Niko berjalan melintasi jalan setapak itu. Orang-orang yang bertemu mereka menyapa ramah. Sekitar lima puluh meter kemudian, di antara kepadatan rumah-rumah tersebut terlihat sebuah tempat lapang. Ujungnya seperti dermaga dari bilah-bilah papan. Ternyata benar kata Paman Niko. Di belakang rumah-rumah itu ada kali yang lebarnya kira-kira tiga belas meter. Airnya keruh berwarna coklat. Sebuah perahu kayu eretan bersandar di dermaga kecil. Pengemudinya tampak mengantuk. Yang unik, perahu itu tidak dikayuh. Ada tali di antara ujung perahu dan kabel yang terbentang di antara kedua sisi sungai. Jadi si pengemudi perahu tinggal mengeret perahunya menyeberangi sungai. Karla senang sekali, karena ini pengalamanan pertamanya menaiki perahu eretan.
“Ujung sungai ini bermuara di Tanjung Priuk. Lihat tuh, dari sini kita bisa melihat jembatan layang Pluit. Nah, kampung ini sengaja dicat warna warni. Terutama yang menghadap jembatan layang itu. Supaya tamu-tamu yang baru datang dari bandara dan melintasi jembatan layang ini melihat pemandangan yang menarik,” Paman Niko sibuk menjelaskan.
“Apa nama kampung ini, Paman?”
“Nama aslinya Kampung Tanggul Indah. Tapi nama proyeknya Kampung Berwarna,” jawab Paman Niko. Dari seberang memang tampak rumah-rumah panggung di pinggir sungai itu mulai berwarna-warni. Ada beberapa kakak mahasiswa yang menggambari dindingnya dengan gambar bunga matahari, ikan mas koki yang manyun, Dinosaurus… Semuanya bagus.
Jam lima sore, Paman Niko mengajak Karla pulang. Sebenarnya Karla masih betah di sana. Malah ia ingin membantu kakak-kakak mahasiswa mengecat kampung itu.
“Kita sekarang pulang dulu. Besok Paman janji akan membawa kamu ke sini lagi. Besok kan ada lomba menggambar buat anak-anak kampung sini, kamu boleh ikut,” ujar Paman Niko.
Karla senang sekali. Besok mungkin ia akan mendapat teman-teman baru, menggambar bersama teman-teman baru. Itu tentu lebih menyenangkan dibanding main boneka sendirian di rumah.
Beberapa kakak mahasiswa melambaikan tangan sambil bersenda gurau, ketika Paman Niko dan Karla pamit pulang. Karla sudah tidak sabar ingin menceritakan pengalamannya itu pada Papa dan Mama. Oh, tentu juga pada Vidya dan Shiva. Kini Karla tidak iri lagi pada mereka. Karla tidak akan pernah melupakan pengalamannya hari itu. Berkunjung ke kampung berwarna.

Leave a comment »

Mengapa Beo Selalu Menirukan Suara

Dahulu kala, hewan-hewan di hutan bisa berbicara seperti manusia. Mereka bercakap, bekerja sambil bercakap, juga hidup rukun dan damai. Pada suatu hari Ibu Peri Penjaga Hutan mengumpulkan penghuni rimba. Ia berkata,
“Anak-anakku, Sang Pencipta telah menciptakan makhluk baru. Namanya manusia. Sang Pencipta memutuskan bahwa manusialah yang akan berbicara dengan bahasa kita. Dan kita diperintahkan untuk mencari bahasa dan suara baru untuk kita pakai mulai saat ini.”
Pada mulanya para penghuni rimba terkejut. Namun mereka sadar bahwa tidak mungkin menolak kehendak Sang Pencipta.
“Ibu Peri Penjaga Hutan, kami tunduk kepada kehendak Sang Pencipta. Tapi sekarang kami belum bisa mencari bahasa baru untuk kami pakai. Berilah kami waktu,” ujar Singa mewakili teman-temannya.
“Aku mengerti. Kalian diberi waktu satu minggu. Kalian akan berkumpul lagi disini dan memberitahu padaku bahasa apa yang kalian pilih. Setelah itu, pakailah bahasa serta suara itu, dan lupakan bahasa manusia.”
Maka pulanglah penduduk hutan ke tempat masing-masing. Mereka mulai berpikir keras untuk mencari suara yang gagah dan cocok untuk mereka masing-masing.
Begitulah, hari demi hari penduduk hutan sibuk bersuara. Mencari-cari suara yang akan mereka pakai selanjutnya. Singa yang telah dinobatkan sebagai raja hutan karena keberaniannya, lebih dahulu memilih suara mengaum.
“Aouuuuum,” katanya dengan gagah memamerkan suaranya. Penduduk hutan yang lain senang mendengarnya. Mereka merasa suara itu pas benar dengan bentuk tubuh singa yang gagah.
Tapi tidak semua hewan senang mendengarnya. Burung Beo yang usil malah menertawakan suara itu.
“Hahaha, mirip orang sakit gigi,” cetus Beo sambil tertawa terbahak-bahak.
Singa sangat malu mendengarnya.
Begitulah, hari berganti hari, semuanya mencoba berbagai suara kecuali Beo. Ia sibuk mengejek suara-suara yang berhasil ditemukan.
“Hahaha, seperti suara pintu yang tidak diminyaki,” ejek Beo kepada Jangkrik yang menemukan suara berderik.
“Hahaha, kudengar nenek-nenek tertawa,” ejeknya kepada Kuda.
“Ban siapa yang bocor? Hahaha,” ia menertawakan suara desis Ular.
Begitulah pekerjaan Beo setiap hari. Ia sibuk mengintip dan menertawakan penduduk hutan lainnya yang mencoba suara baru. Teman-temannya tidak dapat berbuat apa-apa. Mereka malu dan langsung menghindar dari Beo. Tapi Beo selalu berhasil menemukan dan menirukan suara mereka.
“Mbeeeek,” tirunya ketika melihat Kambing.
“Ngok-ngooook,” tirunya ketika melihat Babi.
Tak terasa sudah satu minggu. Penduduk hutan harus berkumpul kembali untuk mengumumkan suara yang mereka pilih.
Ibu Peri Penjaga Hutan memanggil mereka satu per satu. Beo saja yang masih saja tertawa. Ia pikir teman-temannya bodoh, karena suara yang mereka temukan lucu-lucu.
Tibalah giliran Beo untuk mengumumkan suara barunya. Ia maju ke depan.
“Mbeeeek,” jeritnya.
“Hei itu suaraku,” kata Kambing.
Yang lain tertawa.
Beo tertegun. Ia baru sadar, selama ini ia terlalu sibuk mengejek teman-temannya sehingga lupa untuk mencari suaranya sendiri.
“Muuu,…guk-guk,…meong,” Beo panik. Ia menirukan saja suara yang pernah ia dengar. Tentu saja Sapi, Anjing, dan Kucing tertawa terbahak-bahak.
Beo sangat malu. Akhirnya ia menangis tersedu-sedu. Ia minta maaf kepada teman-temannya.
Dengan tersenyum Ibu Peri Penjaga Hutan berkata, “Sudahlah, kamu akan tetap kuhadiahkan sebuah suara. Tapi sebagai pelajaran, kau akan tetap menirukan suara orang, sehingga kau akan ditertawakan selamanya.”
Begirulah riwayatnya, mengapa burung beo selalu menirukan suara-suara.

Leave a comment »

Balon Keinginan

Setiap warga kerajaan Khayali bisa mendapatkan apa saja yang mereka inginkan. Di sebelah timur istana Raja Don ada sebuah ruangan ajaib. Kamar Keinginan namanya. Kamar itu sangat luas. Di langit-langitnya yang tinggi terdapat Balon-Balon Keinginan berwarna-warni. Besar, kecil, berterbangan dan bergerak bebas. Permukaaan balon-balon itu berkilauan. Kalau saling bertabrakan akan memantul-mantul.
Setiap warga Khayali boleh memasuki kamar itu. Jika membayar dua keping, mereka bisa menyewa alat penangkap balon. Warga tidak boleh membawa alat sendiri.
Berbagai macam balon keinginan ada di situ. Asal sabar, siapa saja bisa meraih balon-balon tersebut. Balon berisi keinginan yang mudah dikabulkan biasanya melayang lebih rendah. Gerakannya juga lebih lamban.
Tipo kecil adalah warna kerajaan Khayali. Ia sering berkhayal memiliki dua keping uang. Ia ingin menangkap balon “Pembuat PR”. Supaya ia tak perlu mengerjakan PR-nya setiap hari. Namun, Tipo merasa heran melihat ayahnya. Ayah Tipo, Pak Seblu, tidak tertarik pada balon keinginan.
Pada suatu hari, Pak Seblu dipanggil menghadap Raja Don. Raja Don memerintahnya untuk membuat Gapura Istana yang baru. Gapura itu harus lebih bagus dan megah. Pak Seblu memang sudah biasa merancang rumah dan taman. Tapi baru kali ini mendapat pesanan dari Raja. Pak Seblu senang, tapi juga gugup dan takut akan mengecewakan Raja Don.
Tiga hari Pak Seblu melamun saja di bawah pohon halaman Istana. Kertas dan pena tergeletak di sampingnya. Setelah itu, Pak Seblu mengurung diri di ruang kerjanya. Hanya sesekali ia keluar. Kumis dan jenggotnya memanjang tak terurus.
Tipo kesepian, karena biasanya ia bercanda dan mengobrol dengan ayahnya. Untung ibunya tahu kesepian hati Tipo. Setiap sore, saat ayahnya di ruang kerja, Tipo berjalan-jalan dengan Ibu.
“Bu, kenapa Ayah tidak mengambil saja balon keinginan “Gapura Baru Istana”? Supaya Ayah tak perlu susah-susah bekerja.”
Ibu tersenyum sedikit, lalu berkata, “Tipo, jawaban pertanyaan itu harus kamu temukan sendiri. Semua warga negeri ini harus menemukan jawaban masalahnya sendiri. Kalau belum mendapatkannya, dia tidak akan pernah menjadi dewasa.” Mendengar jawaban itu, Tipo hanya diam. Ia tidak mengerti maksud perkataan ibunya.
Suatu sore, Tipo mengisi waktunya dengan menyusun pasel dari Paman Miwin. Pasel kayu itu susah sekali. Tapi menurut gambar petunjuknya, pasel itu akan membentuk gambar jembatan gantung yang indah sekali.
Esoknya, ayah Tipo sudah bercukur rapi. Dengan wajah berseri Pak Seblu berkata bahwa gambar rancangannya sudah selesai. Sambil sarapan ayah Tipo berkata ia akan menghadap Raja. Tipo senang sekali. “Ah, Ayah akan segera bisa menemaniku membuat pasel itu,” pikirnya.
Di jalan sepulang sekolah Tipo menemukan sekeping uang. “Wow, ini hari keberuntunganku,” serunya. Tetapi di rumah, Ayah belum pulang dari istana. Sampai petang juga belum. Akhirnya ketika Tipo sudah mengatuk barulah Ayah pulang. Rupanya Raja Don menyetujui rancangan Pak Seblu. Dan langsung menyuruh Pak Seblu untuk mempersiapkan bahan bangunan dan pekerjanya.
Tipo tidur dengan gelisah. “Ayah pasti akan sibuk lagi sampai Gapura itu selesai,” keluhnya. Bangun tidur, dipandanginya pazel yang setengah jadi itu. Rasanya Tipo ingin menendangnya. Mula-mula ia memang senang mengerjakannya. Tetapi sekarang ia menemukan bagian yang sulit. Tipo ingin dibantu ayahnya. Sambil bersiap ke sekolah Tipo melamun. Lalu, “Aha, aku tahu!” Ia berlari menemui Ibu dan meminta uang, “Satu kepiiiiing, saja Bu, boleh ya?” rayunya. Ibu ingin menggembirakan hati Tipo, jadi ia memberikan satu keping.
Tipo punya rencana. Sepulang sekolah, ia pergi ke Kamar Keinginan. Ia ingin menangkap balon “Gapura Baru Istana” supaya tugas Bapak segera selesai. Dimasukinya Kamar Keinginan itu dengan takjub. Kamar itu lebih indah dari cerita orang kepadanya. Pak Penjaga tersenyum-senyum melihat Tipo masih melongo. “Nak, ini tangga dan jaringnya. Maaf, saya hanya boleh membantu sampai di pintu saja”, katanya. “Selamat, semoga keinginanmu tercapai, Nak.” Lalu ditutupnya pintu besar itu. Bam!
Tipo repot menggeret tangga dan mengempit jaring yang lebih panjang dari tubuhnya. Dipanjatnya tangga di tengah ruangan. Matanya mencari-cari. Tak lama kemudian ia melihat balon “Gapura” sedang melayang menjauh. Susah payah diraihnya dengan jaring. Tidak berhasil. Dilihatnya balon “Pembuat PR” lewat. Dia tak mau balon itu.
Tipo akhirnya merasa lelah. Ia berbaring di lantai, beristirahat. Kemudian dicobanya lagi. Sampai pegal leher dan lengannya, tapi balon “Gapura” itu tak juga tertangkap. Ia tak mau menyerah. Ia ingin membebaskan ayahnya dari kerja kerasnya. Akhirnya yang tertangkap malah balon kecil bertulisan “Pasel Selesai”. Ingin dilepasnya lagi balon ini, dan menangkap balon “Gapura” itu. Tapi dia sudah sangat lelah. Diputuskannya untuk membawa balon itu pulang. Daripada uang dua kepingnya habis percuma.
Sampai di rumah, Ibu dan Ayah sudah cemas menunggunya. Mereka menemani Tipo ke kamarnya. Dan ajaib betul! Pasel jembatan itu sudah jadi! Indah sekali, tapi anehnya Tipo tidak terlalu senang. “Ah, lebih jika aku sendiri yang berhasil menemukan keping pasel yang tepat. Lebih puas!” katanya.
“Sudah mulai besar anak kita, ya?” kata Ayah tersenyum pada Ibu. “Sudah tahu kalau bersusah payah mencapai keinginan akan lebih memuaskan.”
“Sebetulnya, di Kamar Keinginan itu aku juga bekerja keras, lo, Yah, Bu. Padahal kupikir menangkap Balon Keinginan itu gampang,” celetuk Tipo. Mereka bertiga pun tertawa terbahak-bahak.

Leave a comment »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.