Archive for Cerita Rakyat Bangka Belitung

Putri Pinang Gading

Membalong yang dulu dikenal dengan Belantu adalah nama sebuah kecamatan di Kabupaten Belitung, Provinsi Kepulauan Bangka-Belitung (Babel), Indonesia. Konon, di daerah ini pernah hidup sepasang suami-istri yang bermata pencaharian sebagai petani dan nelayan. Pada suatu hari, sang suami baru selesai menangkap ikan di tepi laut. Namun, dalam perjalanan pulang ke rumahnya, ia menemukan sebatang bambu yang sangat aneh. Bambu itu dapat bergerak sendiri dan selalu menghalang-halangi jalannya. Bagaimana bambu itu dapat bergerak sendiri? Lalu, apa yang akan dilakukan Pak Inda terhadap bambu itu? Kisahnya dapat Anda ikuti dalam cerita Putri Pinang Gading berikut ini.

* * *

Alkisah, di sebuah Kubok[1] yang bernama Kelekak Nangak yang terdapat di Kecamatan Membalong, hiduplah sepasang suami-istri yang miskin dan tidak mempunyai anak. Sang Suami bernama Pak Inda, sedangkan sang Istri bernama Bu Tumina. Mereka tinggal di sebuah rumah kecil yang beratap nangak [2] dan berlantai kayu gelegar berlapik tuntong.[3] Untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, mereka menanam padi di ladang dan menangkap ikan dengan cara memasang sero[4] di tepi laut. Ketika air surut, ikan-ikan akan terperangkap dalam sero itu.

Pada suatu hari, musim panen padi bertepatan dengan waktu air laut surut. Pak Inda betare (berpamitan) kepada istrinya untuk melihat sero yang dipasang di tepi laut.

“Dik! Hari ini Abang akan pergi memeriksa sero di tepi laut. Bagaimana kalau Adik sendiri saja yang berangkat ke ladang memanen padi?” tanya sang Suami.

“Baik, Bang! Kebetulan juga hari ini kita tidak mempunyai lauk untuk makan siang,” jawab sang Istri.

Dengan membawa ambong,[5] berangkatlah Pak Inda ke laut. Ketika akan mendekati seronya, tiba-tiba ia tersandung sepotong bambu. Ia pun mengambil bambu itu dan melemparkannya ke laut, agar hanyut terbawa oleh air laut yang sedang surut. Namun, ketika akan menangkap ikan di seronya, ia tersandung lagi dengan sepotong bambu.

“Kenapa banyak sekali bambu yang hanyut di tempat ini?” gumam Pak Inda sambil mengamati bambu itu.

“Aneh! Sepertinya bambu ini yang sudah aku lemparkan tadi,” gumam Pak Inda heran.

Oleh karena sudah tidak sabar ingin melihat seronya, Pak Inda segera membuang kembali bambu itu agak jauh ke tengah laut agar tidak menghalanginya lagi. Setelah itu, ia pun menangkap ikan di dalam seronya. Pak Inda sangat gembira, karena mendapatkan banyak ikan. Sebagian ikan tersebut ia masukkan ke dalam ambongnya, dan sebagian pula diikat dengan tali rotan, karena ambongnya tidak dapat menampung semua ikan tersebut. Setelah itu, ia pun bergegas pulang ke rumahnya.

Namun, pada saat akan meninggalkan pantai, tiba-tiba ia kembali tersandung pada sepotong bambu. Ia pun mengambil bambu itu lalu mengamatinya secara seksama.

“Wah, tidak salah lagi, ini bambu yang aku buang ke laut tadi. Tapi, kenapa bambu ini bisa sampai ke sini, padahal air laut sedang surut?” tanya Pak Inda dalam hati.

“Benar-benar aneh! Bambu ini dapat melawan arus air laut. Ini bukanlah bambu sembarangan,” tambahnya sambil mengamati bambu itu.

Setelah beberapa saat berpikir, Pak Inda mengambil bambu itu dan menggunakannya sebagai pemikul ikan. Sesampainya di rumah, Pak Inda menceritakan peristiwa yang dialami kepada istrinya. Oleh istrinya, bambu itu digunakan sebagai penindih jemuran padi agar tidak diterbangkan angin.

Pada suatu hari, saat sedang duduk bersantai di rumah, Pak Inda dan istrinya dikejutkan oleh suara letusan yang sangat keras. Keduanya pun segera menuju ke sumber suara letusan itu. Rupanya, sumber letusan itu berasal dari sepotong bambu yang digunakan oleh sang Istri menindih jemuran padi yang berada di depan rumah mereka. Alangkah terkejutnya mereka saat melihat seorang bayi perempuan disertai dengan pancaran cahaya yang menyilaukan keluar dari bambu itu.

“Bang, lihat itu! Ada seorang bayi perempuan yang tergeletak di tanah,” seru sang Istri.

“Bayi itu menangis! Cepat tolong dia, Dik!” seru Pak Inda kepada istrinya.

Tanpa berpikir panjang, Bu Tumina segera mengambil dan memandikan bayi itu. Setelah bersih, ia menggendong bayi itu sambil bernyanyi:

Anakku sayang, anak kandungku.
Anak kandung sibiran tulang,
Obah jerih… pelerai demam.

Bu Tumina terus bernyanyi hingga si bayi tidak menangis lagi dan tertidur. Kedua suami-istri itu sangat senang, karena telah mendapatkan seorang anak yang sudah lama mereka dambakan. Mereka pun merawat dan membesarkan bayi itu dengan penuh kasih sayang seperti anak kandung mereka sendiri. Mereka memberinya nama Putri Pinang Gading.

Waktu berjalan begitu cepat, Putri Pinang Gading sudah berumur lima belas tahun  tahun. Setiap hari ia pergi berburu binatang di hutan yang ada di sekitar rumahnya. Banyak sudah binatang buruan yang pernah dipanahnya, karena memang sejak kecil ia sangat suka bermain panahan dan sering dilatih oleh ayahnya cara memanah yang baik. Semenjak kehadiran Putri Pinang Gading, rezeki Pak Inda selalu bertambah, sehingga kehidupan mereka pun semakin sejahtera.

Pada suatu hari, terdengar kabar bahwa di Kampung Kelekak Remban terjadi bencana yang ditimbulkan oleh serangan burung yang besar. Oleh masyarakat Kelekak Remban, burung itu disebut Burung Gerude yang tinggal di sebelah timur daerah Ranau. Burung Gerude itu sangat ganas dan buas. Ia mengobrak-abrik permukiman penduduk Kelekak Remban, dan bahkan telah menelan seorang warga. Seluruh penduduk Kelekak Remban jadi panik. Untuk berlindung dari serangan Burung Gerude, para warga membuat remban.[6] Tidak seorang pun warga yang berani keluar rumah.

Peristiwa yang mengerikan itu terdengar oleh Putri Pinang Gading yang kini sudah berusia 21 tahun. Ia bertekad hendak pergi ke Kampung Kelekak Remban untuk menolong warga yang sedang dilanda ketakutan.

“Ayah, Ibu! Izinkanlah Putri pergi untuk mengusir binatang buas itu!” pinta Putri Pinang Gading.

“Apakah kamu sanggup mengalahkan burung besar itu, Nak?” tanya Pak Inda khawatir terhadap putrinya.

“Ayah tidak perlu khawatir. Putri akan membinasakan burung itu dengan panahku yang beracun ini,” jawab Putri Pinang Gading dengan penuh keyakinan.

“Baiklah, kalau begitu! Tapi, kamu harus lebih berhati-hati, Nak! Kami takut kehilanganmu,” ujar Pak Inda.

“Benar, Nak! Kamu adalah putri kami satu-satunya,” sahut Bu Tumina.

“Baik, Ayah, Ibu! Putri akan jaga diri,” kata Putri Pinang Gading seraya berpamitan kepada ayah dan ibunya.

Setelah menyiapkan beberapa anak panah yang sudah dibubuhi racun, Putri Pinang Gading berangkat menuju Kampung Kelekak Remban. Sesampainya di sana, kampung itu tampak sepi. Semua warga sedang bersembunyi di dalam rumah mereka. Putri Pinang Gading juga tidak melihat Burung Gerude itu.

“Ke mana Burung Gerude itu? Aku sudah tidak sabar lagi ingin membinasakannya,” gumam Putri Pinang Gading yang sudah siap dengan anak panah di tangannya.

Baru saja selesai bergumam, tiba-tiba ia mendengar suara burung yang sangat keras. Suara itu tidak lain adalah suara Burung Gerude. Burung itu terbang ke sana ke mari di atas rumah-rumah penduduk sedang mencari mangsa. Sesekali ia mengobrak-abrik rumah penduduk. Namun, burung itu tidak menyadari jika Putri Pinang Gading sedang memperhatikan gelagaknya dari balik sebuah pohon besar.

Putri Pinang Gading yang sudah siap dengan anak panah di tangannya tinggal menunggu saat yang tepat untuk meluncurkan anak panahnya. Pada saat Burung Gerude itu lengah, dengan cepat ia melepaskan anak panahnya. Anak panah itu meluncur ke arah Burung Gerude itu dan tepat mengenai dadanya. Burung Gerude itu pun jatuh ke bumi dan tewas seketika.

Para warga yang menyaksikan peristiwa itu melalui cela-cela rumah, keluar dari rumah mereka dan segera mengerumuni Burung Gerude yang sudah mati itu. Mereka sangat kagum melihat keberanian Putri Pinang Gading. Akhirnya, kampung itu terbebas dari ancaman bahaya serangan Burung Gerude. Untuk merayakan keberhasilan itu, para warga mengadakan pesta besar-besaran dengan mengundang Putri Pinang Gading.

Konon, tempat jatuhnya Burung Geruda itu berubah menjadi tujuh buah anak sungai. Sementera anak panah Putri Pinang Gading yang mengenai dada Burung Gerude itu tumbuh menjadi serumpun bambu. Suatu hari, ada seorang nelayan memotong bambu itu untuk dijadikan joran [7] pancing. Pada saat memotong sebatang pohon bambu itu, tiba-tiba tangan nelayan itu tersayat dan langsung meninggal karena bambu itu masih beracun. Oleh masyarakat setempat, bambu itu disebut dengan bulo berantu (bambu beracun). Kemudian kampung itu mereka beri nama Belantu, dari kata buloantu. Namun, dalam perkembangannya, nama Belantu berubah menjadi Membalong yang kini menjadi nama kecamatan di Pulau Belitung.

* * *

Demikian cerita Putri Pinang Gading dari daerah Bangka-Belitung (Babel), Indonesia. Cerita di atas termasuk ke dalam cerita legenda yang mengandung pesan-pesan moral yang dapat dijadikan pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Setidaknya ada dua pesan moral yang dapat dipetik dari cerita di atas, yaitu keutamaan sifat pemberani dan pandai menghargai sesuatu.

Pertama, keutamaan sifat pemberani. Sifat pemberani yang dimaksud di sini adalah berani karena benar, berani pada kebaikan dan berani menegakkan keadilan. Sifat pemberani ini tercermin pada perilaku Putri Pinang Gading yang berhasil membinasakan Burung Gerude yang besar dan ganas itu, walaupun ia hanya seorang perempuan. Dari sini dapat diambil sebuah pelajaran bahwa hendaknya orang tua membekali anak-anaknya dengan berbagai keterampilan sejak masih kecil.

Kedua, sifat pandai menghargai sesuatu. Sifat ini tercermin pada perilaku Pak Inda. Pada mulanya, ia menganggap bahwa sepotong bambu itu tidak bermanfaat baginya. Namun, setelah berpikir, ia pun menyadari ternyata bambu itu berguna untuk dijadikan sebagai pemikul. Bahkan, suatu hal yang tidak pernah diduga sebelumnya oleh Pak Inda, ternyata bambu itu menjelma menjadi seorang bayi perempuan. Ia dan istrinya pun menjadi senang karena telah mendapatkan seorang anak yang sudah lama mereka dambakan. Dari sini dapat diambil sebuah pelajaran bahwa jika kita mendapatkan sesuatu benda, hendaknya tidak melihat dari segi fisiknya saja, tetapi memikirkan manfaat yang dapat diambil dari benda tersebut.

[1] Kubok adalah kumpulan beberapa buah rumah.

[2]Nangak adalah sejenis daun palem berduri.

[3]Gelegar berlapik tuntong adalah kulit kayu terunjam.

[4]Sero adalah salah satu alat penangkap ikan tradisional masyarakat Belitung yang menyerupai bilik-bilik yang diberi pintu yang sempit.

[5]Ambong adalah sejenis kerajang atau karung untuk menggendong barang-barang.

[6]Remban adalah kayu yang disusun dan dijalin rapi dengan rotan.

[7]Joran artinya tangkai pancing atau batang pancing.

Leave a comment »

English version_The Blowpiper

Bangka-Belitung Islands is one of provinces located in Sumatra Island, Indonesia. It is called so for having many islands, one of which is Bangka Island, located in East of Sumatra Island. Bangka Island, topographically, is a swampy area, with lower flat land, and some are hilly. Dense forests stretched over the hilly area while mangrove forest covers some of the swampy areas.

It is told across generation of Bangka Island people, that once upon time in the hilly forest lands, lived a young orphan man. For meeting his daily need, the young man always went hunting for a boar. One day, he found a treasures of jewelries, gold, diamonds and other kinds of precious stones, making him the wealthiest man in the region. What did he do until became a widely known rich young man? Who did give him such trove of treasures? Do you want to know the answer, want to hear the whole story? Follow and read the story below Si Penyumpit (the Blowpiper) !

* * *

Once upon a time, long time ago, lived a young skilful man in Bangka Island. He was expert at using blowpipe, especially for hunting. He had never missed even a single shot, always pointing to the target, and catching to the prey directly. It was no wonder, then, the whole people called him as a blowpiper. Besides, he also could cure the sick, blending various proper plants for those who need medicines. Such skills are inherited and passed down by his beloved father.

One day, the head village Pak Raje came to the house of the blowpiper, asking him to chase away the fold of wild boars that entered and ruined his growing paddies. Pak Raje told the blowpiper that his father once owed him amount of money. Thus, to pay such money, the blowpiper should work for him voluntarily. Having run out of money, the blowpiper took the job, though he would not be paid after completing the job.

In the next day, the blowpiper prepared his tools, brought some foods, and went to the Pak Raja‘s field. Arriving at the location, the blowpiper spread his mat on which he put a box for burning incenses, praying to the Deities, and the Menternau (God of Boar). It was his usual ritual before commencing his hunt for the boar. In his prayer, the blowpiper asked the Menternau to stop the boars coming to the field, otherwise he would kill the boars. Afterwards, the blowpiper watched the field and did some patrols to every sides. He did this until mid night. Three days passed, he still not found any suspicious movements of attacks from the boars. Though such save situation, the blowpiper kept monitoring the field, making sure him-self that the boars would not ruined the field. He was known for his responsibility.

Entering the seventh day of his work, the blowpiper noticed a suspicious movement from the far distance. He walked to the source of voice where he saw a fold of bier trying to enter to the field of Pak Raje. Those boars jumped the rocky fences made by Pak Raje. Seeing that, the blowpiper rushed to hide behind a big tree with a blowpipe in his hand. He noticed the boars, waiting the right time to blowpipe them. When the fold of boars ruined the paddies, the young man pointed his blowpipe toward one of the boars that was closest to him. Slowly, he blowpiped a boar, catching a left side of the boar. Soon after that, the fold of boars run outside the field and disappeared from the young man‘s view. He was wondered by what just happened.

“Hmmmm… I have blowpiped one of them, it must hurt it,” said the blowpiper curiously.

“Why they still can run?” asked the young man to himself.

When the day dawned, the young man went along the blood of the boar he shoot last night. The blood pointed to the middle of jungle. He kept following the sprinkling of the blood until it ended in front of a big cave covered with dense bushes. Slowly, the young man entered the cave, checking what would be inside. Full of surprise, the young man found a beautiful bloody lady laid on a soft bed, surrounded by some other good looking ladies. One of them was an old lady, the mother of the fainted woman.

“Hey young man! Who are you?” asked the old lady astoundingly.

“I am the blowpiper,” answered the young man friendly.

“What‘ve brought you here Young man?” asked the mother, wondering to the young man‘s answer.

“I am looking for my lost needle. It was stuck to a wild boar,” explained the young man to the old lady, trying to convince her about the reason for coming to the cave.

“The stuff you are looking for is on my daughter,” said the old lady angrily.

“How come it is on your daughter?” asked the young man in full of surprise.

“You know my young man…..the boar that you blowpiped last night is in fact my daughter‘s manifestation,” explained the old woman sadly.

The old woman‘s explanation surprised the blowpiper.

“So….., all of you are the boars that I saw last night?” asked the young man.

“What you have said is right young man,” answered the old woman softly.

“I did not mean to…. I am so sorry to hear that. I would not do that if I knew that the  boars were you”, apologized the young woman.

“Never mind,” said the old woman. “Forget all about that. The most important thing right now is how to release the needle from my daughter‘s body,” added the old woman sadly.

“Yes. I will try to take the needle, stop the bleeding and cure your daughter immediately. But…..I need your help. Can you find for me some leaves of keremunting[1] and pound it until soft,” explained the blowpiper politely.

In a few moment, the old woman ordered the ladies to search for the leaves of keremunting which could be found surrounding the cave. Soon after that, the ladies came back, bringing some leaves asked by the blowpiper.

“These are the leaves that you have asked,” said the old woman to the blowpiper, handing over the leaves of keremunting.

The blowpiper prepared everything for the medicine. He took some stuff from his pocket, and started compounding the leaves with other plants. Then, he came closer to the beautiful lady, uncovered the blanket, found the needle in her body. Saying some praying and mantras, the young man took the needle slowly, removed it from the body. Then, he covered the wounded skin with his medicine made of keremunting leaves to stop the bleeding.

In a short time, the wound of beautiful woman recovered, leaving no traces.

“Now, she has recovered. Let me go home now. Later may be we can meet again,” said the young man politely.

“Yes my young man…. I have something to you, as my expression to thank you. You have done the best for my lovely daughter. This encasement contains turmeric, nyatoh fruit[2], leaves of simpur[3], and jering fruit[4]. All of this is for you. But, don‘t open it until you are in home. Remember that my young man, said the old woman while giving the encasement.

“Yes. I will remember that,” said the young man convincingly, leaving the cave.

Arriving at his home, the blowpiper quickly opened the encasement. What a surprise, the young man found anything else, other than what the old woman described. The encasement contained some jewelries like gold, diamonds, and other precious stones.

“Wow….. what a precious stuff!” expressed the young man.

“I will be a very rich man in this region,” murmured the young man happily.

In the next tomorrow morning, the blowpiper sold all his precious stuff to a rich merchant in his village. He used all the money he got from the selling to purchase a field, garden, house, and paid all debt his father had owed to Pak Raje.

Since then, the whole people in the region knew that news, that the blowpiper became a very rich man. This news was also heard by Pak Raje. He intended to be like the blowpiper.

One day, Pak Raje borrowed the blowpipe from the young man to hunt a boar in his own field. On the way, he met with a boar, then shoot it with the blowpipe. Like the young man, Pak Raje followed the blood left by the bloody boar until he entered the cave. It was like what happened with the young man. Pak Raje was asked to cure the bleeding woman, but he could do that as he had no skill at medicine like the young man. As he could not do that, tens of boars attacked him, making him bleeding and seriously wounded. He attempted to find the way to home. Walking lamently, he finally could arrive at his home  and felt fainted as he could not bear the paint.

The oldest daughter of Pak Raje informed what happened to her father to the blowpiper. Hearing the bad news, the young man rushed walking to Pak Raje‘s house to help him. With seven leaves of different trees, the young man tried to compound a special medicine and stop the bleeding of Pak Raje. He burnt an incense, mentioned the whole body of Pak Raje like his hand, body, and foot. When the incense smoked, he mentioned the name of Pak Raje. Suddenly, Pak Raje could move his body, hand, and foot. The Young man wipe Pak Raje‘s face with his hand. Finally, Pak Raje could make it and recovered from the serious injury he had.

After thinking about what he had been through, Pak Raje realized the bad intention that he thought. He was forced by the greedy to be a richer than before.

“Thank you young man. You have cured my wound. I am so sorry to force you to take care my field. To redeem my fault, would you marry my youngest daughter. After that, I will appoint you to be the next head village. Would you accept my offering?” asked Pak Raje to the blowpiper.

“Pak Raje, Thank you for the offering. I would like to accept that. It is my pleasure to be your son in law,” answered the young man happily.

“Well then we should inform this happy news to the people in this region. I will tell all my staff to bring the news to the people,” said Pak Raje.

A week after that, the marriage between the blowpiper and the daughter of Pak Raje was held lavishly. Many art performances were played to enliven the day. Pak Raje, his family, and all people were happy with the marriage. The blowpiper was a very polite and kind person, and the daughter of Pak Raje was a beautiful woman. At the end of ceremony, Pak Raje installed the blowpiper as the next head village, replacing him who had become older. The newly wed live happily ever after, and the people lived in prosperous, harmony  and justice under the rule of the new head village, the blowpiper.

* * *

As such is the whole story of Si Penyumpit (The Blowpiper), from Bangka Island, Bangka-Belitung Islands. The story above delivers a very important message for us which can be a valuable guide in daily life. At least, there are two messages conveyed throughout this story: to help other and to requite

First, to help other. This characteristic is reflected through the Blowpiper who cured the lady and Pak Raje. This is a very wise character and is suggested by the Malayans, like what has been said and poem below: .

wahai ananda dengarlah manat,
tulus dan ikhlas jadikan
azimat
berkorban menolong sesama umat
semoga hidupmu beroleh rahmat

Second, to requite. This character is shown by the behavior of old woman who had given the young man the encasement containing some jewelries, gold, diamonds, and other precious stones since he had cured her daughter. It is also shown by Pak Raje who married his daughter to the Blowpiper after being cured. Like the first characteristic, this is also very suggested by the Malayans and said clearly in the below poem:

apa tanda melayu pilihan,
membalas budi ia utamakan

(HQ/ter/108/04-08)

References:


[1] Keremunting (myrtaceae) is a kind of plant with sweet purple fruit. Besides for eating, kerementing fruit can be used as a medicine for stomachache and diarrhea. Its root can be mixed used as a mixture of medicine for a mother who bears a child. The leaves of keremunting can be easily found in Bangka Island.

[2] Buah nyatoh (palaquium spp) has sweet taste like sapodilla. It can grow in any lands, its height reaches 30 meters with 50-100 cm in diameter. In India, nyatoh is known amongst people as pohon pali, while the Malaysian named it as mayang, nyatoh and taban. The British called it as nyatoh.

[3] Daun simpur is special plant only grows in Bangka Island. It leaves are wide, clean, and soft. The local people usually use it for wrapping foods and cakes, as the leaveas are wide like banana leaves.

[4] Buah jering (pithecellobium jiringa) is a kind of plant that grow in around the forest. This plant produces fruits in all seasons, can be used to cure diabetes by poaching its shell until cooked, and its water is filtered to drink.

Leave a comment »

Si Penyumpit

Kepulauan Bangka-Belitung (Babel) adalah salah satu provinsi di Pulau Sumatera, Indonesia. Disebut kepulauan, karena wilayah provinsi ini terdiri dari beberapa pulau. Salah satu di antaranya adalah Pulau Bangka, yang terletak di sebelah timur Pulau Sumatera. Secara topografis, wilayah Pulau Bangka terdiri dari rawa-rawa, daratan rendah, dan perbukitan. Di daerah perbukitan terdapat hutan lebat, sedangkan pada daerah rawa terdapat hutan bakau.

Menurut sebuah cerita yang sangat terkenal di kalangan masyarakat Pulau Bangka, pada zaman dahulu di daerah perbukitan yang dihampari hutan lebat itu, pernah hidup seorang pemuda yatim-piatu yang miskin. Sehari-harinya, ia bekerja sebagai pemburu babi hutan. Suatu ketika, pemuda itu mendapat hadiah berupa perhiasan emas, intan permata dan berlian dari seseorang sehingga ia menjadi kaya-raya. Apa sebenarnya yang telah dilakukan pemuda itu, sehingga ia mendapat hadiah yang sangat berharga itu? Ingin tahun jawabannya? Ikuti kisahnya dalam cerita Si Penyumpit berikut ini!

* * *

Alkisah, pada zaman dahulu kala, di sebuah daerah di Pulau Bangka, hiduplah seorang pemuda yang sangat mahir menyumpit binatang buruan. Sumpitannya selalu mengenai sasaran. Oleh karenanya, masyarakat memanggilnya si Penyumpit. Selain mahir menyumpit, ia juga pandai mengobati berbagai macam penyakit. Bakat menyumpit dan mengobati tersebut ia peroleh dari ayahnya.

Pada suatu hari, Pak Raje, Kepala Desa di kampung itu, meminta si Penyumpit untuk mengusir kawanan babi hutan yang telah merusak tanaman padinya yang sedang berbuah, dengan dalih bahwa orang tua si Penyumpit sewaktu masih hidup pernah berhutang kepadanya. Demi membayar hutang orang tuanya, si Penyumpit rela bekerja pada Pak Raje.

Keesokan harinya, berangkatlah si Penyumpit ke ladang Pak Raje untuk melaksanakan tugas. Sesampainya di ladang, ia membakar kemenyan untuk memohon kepada dewa-dewa dan mentemau (dewa babi), agar kawanan babi tersebut tidak merusak tanaman padi Pak Raje. Si Penyumpit kemudian melakukan ronda dengan memantau seluruh sudut ladang hingga larut malam. Sudah tiga malam si Penyumpit meronda, namun belum terlihat tanda-tanda yang mencurigakan. Meskipun situasi aman, si Penyumpit terus berjaga-jaga.

Ketika memasuki malam ketujuh, dari kejauhan tampak oleh si Penyumpit tujuh kawanan babi hutan sedang beriring-iringan hendak memasuki ladang. Satu per satu babi hutan itu melompati pagar batu yang telah dibuat Pak Raje. Mengetahui hal itu, si Penyumpit segera bersembunyi di balik sebuah pohon besar dengan sumpit di tangan yang siap untuk digunakan. Ketika kawanan babi tersebut mulai mengobrak-abrik tanaman padi yang tak jauh dari pohon tempat ia bersembunyi, dengan hati-hati pemuda itu mengangkat sumpitnya, lalu disumpitkannya ke arah babi yang paling dekat dengannya. Sumpitannya tepat mengenahi sisi sebelah kiri perut babi itu. Sesaat kemudian, kawanan babi itu tiba-tiba menghilang bersama dengan anak sumpitnya. Melihat peristiwa aneh itu, si Penyumpit menjadi penasaran.

Keesokan harinya, si Penyumpit menyusuri ceceran darah hingga ke tengah hutan.   Sesampainya di tengah hutan, ia menemukan sebuah gua yang di sekelilingnya ditumbuhi semak-belukar. Dengan hati-hati, pemuda itu memasuki gua tersebut. Sesampainya di dalam, ia sangat terkejut, karena melihat seorang putri yang tergeletak di atas pembaringan yang dikelilingi oleh wanita-wanita cantik. Salah seorang dari wanita tersebut adalah ibu sang Putri.

“Hai, anak muda! Engkau siapa?” tanya ibu sang putri.

“Saya si Penyumpit,” jawab si pemuda dengan ramah.

“Ada perlu apa Engkau ke sini?” tanya ibu sang putri dengan nada menyelidik.

“Saya sedang mencari anak sumpit saya yang hilang bersama dengan seekor babi hutan,” jawabnya.

“Benda yang engkau cari itu ada pada putriku,” kata ibu sang putri.

“Bagaimana bisa anak sumpit saya ada pada putri Bibi?” tanya si Penyumpit heran.

“Ketahuilah, anak muda! Babi yang engkau sumpit itu adalah penjelmaan putriku,‘ jelas ibu sang putri.

Si Penyumpit sangat kaget mendengar penjelasan ibu sang putri.

“Jadi…, kalian adalah babi jadi-jadian?” tanya si Penyumpit dengan heran.

“Benar, anak muda,” jawab ibu sang putri.

“Kalau begitu, saya minta maaf, karena tidak mengetahui hal itu,” kata si Penyumpit dengan rasa menyesal.

“Sudahlah, anak muda. Lupakan saja semua kejadian itu. Yang penting sekarang adalah bagaimana melepaskan benda ini dari perut putriku,” kata ibu sang putri.

“Baiklah. Saya akan melepaskan anak sumpit itu dan mengobati luka putri bibi. Tolong saya dicarikan beberapa helai daun keremunting[1] dan tumbuklah hingga halus, pinta si Penyumpit.

Untuk memenuhi permintaan itu, ibu sang putri segera memerintahkan beberapa dayangnya untuk mencari daun keremunting yang banyak terdapat di sekitar mereka. Tak berapa lama, dayang-dayang tersebut sudah kembali dengan membawa daun yang dimaksud. Setelah yang diperlukan disiapkan, si Penyumpit mendekati gadis cantik yang sedang terbaring lemas itu, lalu membuka selimut yang menutupi tubuhnya. Tampaklah sebuah benda runcing yang menancap di perut sang putri, yang tidak lain adalah mata sumpit miliknya. Sambil mulutnya komat-kamit membaca mantra, si Penyumpit mencabut mata sumpit itu dengan pelan-pelan. Setelah mata sumpit terlepas, bekas luka tersebut kemudian ditutupinya dengan daun keremunting yang sudah dihaluskan untuk menahan cucuran darah yang keluar.

Beberapa saat kemudian, luka sang putri sembuh dan tidak meninggalkan bekas luka sedikit pun.

“Sekarang putri Bibi sudah sembuh. Izinkanlah saya mohon diri,” pamit pemuda itu dengan sopan.

“Baiklah, anak muda! Ini ada oleh-oleh sebagai ucapan terima kasih kami, karena engkau telah menyembuhkan putriku. Bungkusan ini berisi kunyit, buah nyatoh,[2] daun simpur,[3] dan buah jering.[4] Tapi, bungkusan ini jangan dibuka sebelum engkau sampai di rumah,” pesan ibu sang putri.

“Baik, Bi!” jawab pemuda itu, lalu pergi meninggalkan gua.

Setibanya di rumah, si Penyumpit segera membuka bungkusan tersebut. Alangkah terkejutnya ia, karena isi bungkusan itu tidak seperti yang disebutkan ibu sang putri. Bungkusan itu ternyata berisi perhiasan berupa emas, berlian, dan intan permata.

“Waw…, berharga sekali benda ini!” tanya si Penyumpit dengan rasa kagum.

“Dengan benda ini, aku akan menjadi kaya-raya,” gumamnya dengan perasaan gembira.

Keesokan harinya, si Penyumpit pergi menjual seluruh benda berharga itu kepada seorang saudagar kaya di kampung itu. Hasil penjualannya ia gunakan untuk membeli ladang yang luas, rumah mewah, dan melunasi seluruh hutang ayahnya kepada Pak Raje.

Sejak itu, tersiarlah kabar bahwa si Penyumpit telah menjadi kaya-raya. Berita itu juga didengar oleh Pak Raje. Ia pun berniat untuk mengikuti jejak si Penyumpit. Suatu hari, Pak Raje meminjam sumpit pemuda itu dan kemudian pergi berburu babi hutan di ladang miliknya. Dalam perburuannya, ia berhasil menyumpit seekor babi. Setelah itu ia mengikuti jejak dan menemukan babi hutan itu, yang ternyata penjelmaan sang putri. Pak Raje berusaha menyembuhkan luka yang diderita oleh sang Putri, namun tidak berhasil karena ia tidak memiliki keahlian mengobati penyakit. Akhirnya, ia diserang berpuluh-puluh babi hutan. Dengan tubuh yang penuh luka-luka, ia berjalan sempoyongan pulang ke rumahnya. Sesampainya di rumah, Pak Raje langsung tergeletak tidak sadarkan diri, karena tidak tahan lagi menahan rasa sakit.

Putri sulung Pak Raje segera menyampaikan nasib malang yang menimpa ayahnya itu kepada si Penyumpit. Mendengar kabar itu, si Penyumpit segera ke rumah Pak Raje untuk menolongnya. Si Penyumpit kemudian mengobati Pak Raje dengan 7 helai daun. Setelah itu ia membakar kemenyan, lalu menyebut satu per satu anggota tubuh Pak Raje, seperti tangan, kaki, kepala, dan lain-lain. Terakhir, ia menyebut nama Pak Raje. Ketika asap kemenyan itu mengepul, di Penyumpit kemudian membaca mantera. Tak lama kemudian, tampak jari tangan Pak Raje bergerak-gerak. Dengan pelan-pelan ia mengusap-usap matanya hingga tiga kali. Akhirnya, Pak Raje sadarkan diri dan sembuh dari penyakitnya.

Setelah itu Pak Raje insaf (sadar) dan mengakui semua kesalahannya kepada si Penyumpit.

“Terima kasih, Penyumpit! Kamu telah menyembuhkan penyakitku. Aku minta maaf karena telah memaksamu menjaga ladangku. Untuk menebus kesalahanku ini, aku akan menikahkanmu dengan putri bungsuku. Setelah itu, aku akan mengangkatmu menjadi Kepala Desa untuk menggantikanku. Bersediakah kamu menerima tawaranku ini, wahai Penyumpit?” tanya Pak Raje.

“Terima kasih, Pak Raje! Dengan senang hati, saya bersedia,” jawab si Penyumpit.

“Baiklah kalau begitu. Berita gembira ini akan segera aku sampaikan kepada seluruh warga kampung ini,” kata Pak Raje.

Satu minggu kemudian, pernikahan si Penyumpit dengan putri bungsu Pak Raje dilangsungkan dengan meriah. Berbagai macam seni pertunjukan ditampilkan dalam acara tersebut. Pak Raje bersama keluarganya beserta seluruh warga desa turut bergembira atas pernikahan itu. Di akhir acara, Pak Raje menyerahkan jabatannya sebagai Kepala Desa kepada menantunya yang baik hati itu. Sepasang insan yang baru menjadi suami-istri itu hidup berbahagia. Warganya pun hidup tentram dan damai di bawah perintah Kepala Desa yang baru, si Penyumpit.

* * *

Demikian cerita rakyat Si Penyumpit dari Pulau Bangka, Kepulauan Bangka-Belitung. Cerita di atas mengandung pesan-pesan moral yang dapat dijadikan sebagai pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Sedikitnya ada dua pesan moral yang dapat dipetik dari cerita di atas, yaitu sifat suka menolong dan pandai membalas budi.

Pertama, sifat suka menolong. Sifat ini tercermin pada perilaku si Penyumpit yang telah menyembuhkan penyakit sang Putri dan Pak Raje. Sifat ini termasuk sifat yang terpuji dan sangat diutamakan dalam kehidupan orang Melayu, sebagaimana dikatakan dalam untaian syair berikut ini:

wahai ananda dengarlah manat,
tulus dan ikhlas jadikan
azimat
berkorban menolong sesama umat
semoga hidupmu beroleh rahmat

Kedua, sifat pandai berbalas budi. Sifat ini tercermin pada sikap ibu sang Putri yang telah memberikan hadiah kepada si Penyumpit berupa perhiasan emas, intan dan berlian, karena telah menyembuhkan penyakit putrinya. Demikian pula, Pak Raje yang telah menikahkan putri bungsunya dengan si Penyumpit, karena telah menyembuhkan penyakitnya. Sifat ini termasuk sifat yang terpuji dan sangat diutamakan dalam kehidupan orang Melayu, sebagaimana dikatakan dalam ungkapan berikut ini:

apa tanda melayu pilihan,
membalas budi ia utamakan

(SM/sas/57/01-08)

Sumber:


[1] Keremunting (myrtaceae) adalah sejenis tumbuhan yang rasanya manis dan warnnanya ungu jika sudah matang. Selain dapat dimakan, buah kerementing dapat digunakan sebagai obat mencret dan sakit perut. Akarnya dapat digunakan sebagai campuran obat bagi ibu yang baru melahirkan. Daun keremunting banyak terdapat di belukar di wilayah Pulau Bangka.
[2] Buah nyatoh (palaquium spp) rasanya manis seperti buah sawo. Pohon ini banyak tumbuh di alam liar yang tingginya dapat mencapai 30 meter dengan diameter 50-100 cm. Di India, nyatoh dikenal oleh masyarakatnya sebagai pohon pali, orang Malaysia menyebutnya pohon mayang, nyatoh dan taban, sedangkan di Inggris dikenal sebagai nyatoh.

[3] Daun simpur termasuk tumbuhan lokal Pulau Bangka. Daunnya lebar, halus, dan bersih. Oleh masyarakat setempat, daun ini sering digunakan untuk membungkus makanan dan kue-kue, karena daunnya lebar seperti halnya daun pisang.

[4] Buah jering (pithecellobium jiringa) adalah sejenis tumbuhan yang banyak tumbuh di pinggir hutan. Tumbuhan ini berbuah sepanjang musim dan memiliki khasiat untuk mengobati kencing manis dengan cara merebus kulitnya hingga matang, lalu air rebusan tersebut diminum

Leave a comment »

English version_Si Kelingking

Belitung, formerly known as Biliton, is the name of an island in Bangka Belitung Province, Indonesia. It lies east of Sumatra Island, and covers the areas of Belitung and East Belitung districts. There is folklore telling about a spouse who tried to kill their son. The spouse tried so many ways to kill him but they failed. How come they wanted to kill their son? Here is the story of Si Kelingking. *** As the story goes by, there was a poor spouse living in Belitung Island. Though living in destitute, they lived harmoniously. But, their happiness would not be complete yet as they had no son at the time. Every night they offered a prayer to God for a son would come to them immediately. “Dear God… Give us a son, even though he will be as big as pinkie,” they wished. God heard their wishes, just in a short moment, the wife got pregnant. They were so happy to welcome their first son. In several months, the wife gave birth to a son. But, they were shock to know their baby was as big as a pinkie. “Honey… how come our baby is too small?” The wife asked her husband. He kept silent hearing his wife asked. He doubted very much about what was going on. Later on, they remembered their wishes of a son even though as big as a pinkie. “Honey! Do you remember what we wished? We prayed to be given a son even though he will be as big as a pinkie,” he reminded his wife. “Oh my God. Now God has already made our wish come true,” the wife responded. As the time goes by, the son grew older become a six-year boy but nothing changed with his body, he was as big as a pinkie. For that reason, they gave the name Kelingking. In the beginning, they took great care for kelingking but, they felt annoy as he was an eat-too-much boy, contrast with his body. For a meal, he spent about secanting (local term replacing a basin) of rice, even more. Every day, his parent used to face such problem. They had to meet Kelingking`s need but their earnings would be no longer sufficient. For that reason, they intended to murder Kelingking. “My husband! How do we kill him?” the wife asked. “I have a plan” the husband answered. “What is your plan, honey?” the wife questioned curiously. “I`ll take him to a forest tomorrow morning,” the husband replied. “Take him to the forest? What for?” the wife began more curious. Kelingking`s mother let her husband to take Kelingking to a forest on the next day to look for some woods. His father pruned down a big tree in the forest soon after arriving at the forest. “Kelingking, just stand at your position now, I`ll cut this tree right now!” Kelingking`s father said. “Alright dad!” he answered. Out of his consciousness, his father cut down the tree that was directed to him. His father deliberately cut the tree as such so that the tree would fall to him. The tree fell on him. His father looked at him but, did not seem so sad at all knowing the tree bore down on his son. The father was happy knowing the tree bear down upon his son, Kelingking. “Go to hell now…! Ha… ha… ha…!” the father shouted up while laughing and walked closer to the tree. After ensuring that Kelingking had really died, Kelingking`s father went home to his wife. Both looked happy knowing that sound. “Honey…we can live tranquilly now,” the mother made sure her husband. However, they heard a little sound outside their house. “Daddy…daddy…where should I put this timber?” the sound voiced. “Honey! That voice belongs to Kelingking`s voice. He is died, isn`t he?” the mother questioned. “Let`s check it!” the father took his wife to check it. Both were so shock to know Kelingking was still alive. He was carrying on his back a big timber from the forest. “Daddy….! Where should I put this timber?” Kelingking asked. “Just put it there!” the father responded. After shouldering a big timber from the forest, Kelingking immediately ran into his home looking for some foods. He ate too much again after working hard. Both of his parents stood wordlessly did not know what to do after that. Their lives gradually deteriorated. Kelingking ate too much everyday. Then, one day Kelingking`s parents discussed the best solution for eradicating Kelingking. They planned to kill him again. “Honey, what to do now?” the wife seemed so confuse. “I will carry him to a mount to take some stones on the next day,” the father told his wife cheerfully. “Take it easy honey. I am sure it`s gonna done well,” the husband ensured his wife. On the next day, Kelingking`s father took him to a mount to seek for big stones on the slope of the mountain. “Kelingking! Just stand at your position now. I will jack some stones up from the top. Just compile the stones I have lifted up,” the father shouted up from the top of the mount. “Alright dad!” Kelingking replied. Kelingking`s father climbed up the mount while bringing a plane of wood to jack some stones up. The father jacked up some small stones, and gradually, he jacked some big stones. Jacking up the biggest stone, the father pointed it to Kelingking. He wanted to kill Kelingking by befalling the stone on Kelingking. The stone fell down on him. The father walked down the mount ensuring himself that Kelingking had died now. “Kelingking! Kelingking! Kelingking!” The father called Kelingking. There was no answer from Kelingking. The father was really sure Kelingking had died. The father pleasantly went home to tell his wife. However, his wife could not believe it at a moment`s notice. “Are you sure he had really died?” the mother quizzed hesitantly. “Yes, I am sure! I have killed him by dropped him down a big stone,” he answered. “Ohh… I hope he had really died thus we could live happily,” she said happily. In a short moment, there was a sound outside of their house. “Daddy…Where should I put this stone?” the sound asked. “Put it out there,” the father responded unconsciously. Both were so shock and eager to know. They went outside immediately, and saw Kelingking was carrying a big stone. Kelingking then quickly ran into his home looking for some foods as he was really hungry after shouldering a big stone. Kelingking`s parents gave up completely. Both realized that Kelingking came amongst them from hope after a long term of having no son. They realized that one`s death note is solely owned by God. Thus, whatever they did towards Kelingking in term of killing him, if God doesn`t allow, they would fail. After that, they never did such evil deeds towards Kelingking anymore. Kelingking, a boy who was as big as a pinkie, obviously had the incredible power than common people. He was a hardworking boy, and helped his father at all times. He did all of his father`s works thus their daily needs could be met. *** Here this is a story of Si Kelingking from Bangka-Belitung Province, Indonesia. It is a fairy tale bearing highly moralistic values as follow: 1. Keeping away from tendency to underestimate other people. It can be seen in the characters of Kelingking`s parents. They solely looked at Kelingking`s physical. They unfairly judged Kelingking as a son who ate too much hence, they wanted to kill him. Out of their minds, Kelingking obviously bore incredible power than common people. Realizing that fact, Kelingking`s parents began to take great care for him. Finally, the story above tells us not to hate other people abundantly since may lead to love the one we hated too much before. 2. The death note of a person is solely owned by God. Kelingking`s parents could not kill him after times of attempting it. From this, we may draw a moral message that the death note of a person is solely owned by God. No matter how one attempts to kill a person, if God does not allow the person die, thus the person will not pass away

Leave a comment »

Si Kelingking

Belitung yang dulu dikenal dengan Billiton adalah nama sebuah pulau di Provinsi Bangka Belitung, Indonesia. Pulau yang terletak di bagian timur Sumatra ini terbagi menjadi dua kabupaten, yaitu Kabupaten Belitung dan Belitung Timur. Di pulau ini beredar sebuah cerita rakyat tentang sepasang suami-istri yang hendak membunuh anaknya. Berbagai cara telah mereka lakukan untuk membunuh anaknya, namun tidak pernah berhasil. Mengapa sepasang suami-istri itu hendak membunuh anaknya? Kisahnya dapat  Anda simak dalam cerita Si Kelingking berikut ini.

* * *

Alkisah, di sebuah desa di Pulau Belitung, hiduplah sepasang suami-istri yang miskin. Walaupun hidup miskin, mereka tetap rukun dan bahagia. Namun, kebahagiaan itu terasa belum lengkap, karena mereka belum mempunyai anak. Untuk itu, setiap malam kedua orang suami-istri itu senantiasa berdoa kepada Tuhan agar dikaruniai seorang anak.

“Ya, Tuhan! Karuniakanlah kami seorang anak, walaupun sebesar kelingking!”

Rupanya doa mereka dikabulkan oleh Tuhan Yang Mahakuasa. Tidak beberapa lama kemudian sang Istri hamil. Sepasang suami-istri itu sangat senang, karena tidak lama lagi akan mendapatkan seorang anak yang selama ini mereka dambakan.

Beberapa bulan kemudian, sang Istri pun melahirkan. Namun, mereka sangat terkejut ketika melihat bayi yang keluar dari rahim sang Istri hanya sebesar kelingking.

“Bang! Kenapa anak kita kecil sekali, Bang?” tanya sang Istri sedih.

Mendengar pertanyaan istrinya, sang Suami hanya diam. Ia seakan-akan tidak percaya apa yang sedang mereka alami. Akhirnya, sang Suami teringat dengan doa yang sering mereka ucapkan.

“Dik! Ingatkah doa kita selama ini? Bukankah kita selalu berdoa agar diberikan anak walaupun sebesar kelingking?” tanya sang Suami mengingatkan istrinya.

“Ooo, iya. Rupanya Tuhan mengabulkan doa kita sesuai dengan permintaan kita,” kata sang Istri.

Bayi itu pun mereka pelihara dengan sebaik-baiknya. Waktu terus berjalan hingga anak itu berusia enam tahun. Namun, badan anak itu tetap sebesar kelingking. Oleh karena itu, mereka memberinya nama Si Kelingking.

Mulanya, sepasang suami-istri itu sayang kepada Si Kelingking. Tetapi, ada suatu hal yang membuat mereka risau, yakni walaupun badannya kecil, Si Kelingking banyak sekali makannya. Sekali makan, ia dapat menghabiskan secanting[1] nasi, bahkan terkadang masih kurang. Setiap hari suami-istri itu selalu bingung, karena penghasilan yang mereka peroleh hanya cukup untuk dimakan oleh Si Kelingking sendiri. Oleh karena sudah tidak kuat lagi menghidupi Si Kelingking, kedua suami-istri itu bersepakat hendak menyingkirkannya dari kehidupan mereka.

“Bang! Bagaimana caranya kita menyingkirkan Si Kelingking?” tanya sang Istri bingung.

“Abang punya cara,” jawab sang Suami.

“Apa itu, Bang?” tanya sang Istri penasaran.

“Besok pagi, aku akan mengajaknya ke hutan,” jawab sang Suami.

“Ke hutan? Untuk apa, Bang?” tanya sang Istri tambah bingung.

“Aku akan membuangnya di tengah hutan,” jawab sang Suami.

Sang Istri pun setuju. Keesokan harinya, sang Ayah mengajak Si Kelingking ke hutan untuk mencari kayu. Setibanya di tengah hutan, sang Ayah segera menebang pohon besar.

“Kelingking! Kamu berdiri di situ saja! Ayah akan menebang pohon ini!” seru sang Ayah.

“Baik, Ayah!” jawab Si Kelingking menuruti perintah ayahnya.

Namun, tanpa disadari oleh Si Kelingking, ayahnya menebang pohon itu diarahkan kepadanya. Sang Ayah sengaja melakukan hal itu, agar pohon itu menimpanya. Beberapa saat kemudian, pohon besar itu pun roboh menimpa Si Kelingking. Melihat hal itu, sang Ayah bukannya sedih, melainkan gembira.

“Matilah kau kerdil! Ha… ha… ha…!” seru sang Ayah sambil tertawa terbahak-bahak, lalu mendekati pohon besar itu.

Setelah memastikan dan yakin anaknya mati, sang Ayah segera kembali ke rumahnya untuk menceritakan kejadian itu kepada istrinya. Mendengar cerita suaminya, sang Istri pun menjadi senang.

“Bang! Mulai hari ini, hidup kita akan jadi tenang,” kata sang Istri kepada suaminya.

Namun, menjelang siang hari, tiba-tiba terdengar suara teriakan dari luar rumah.

“Ayah…! Ayah….! Diletakkan di mana kayu ini?”

“Bang! Sepertinya itu suara Kelingking. Bukankah anak itu sudah mati?” tanya sang Istri heran.

“Ayo, kita keluar melihatnya!” seru sang Suami penasaran.

Kedua suami-istri sangat terkejut saat melihat Si Kelingking sedang memikul sebuah pohon besar di pundaknya.

“Ayah! Diletakkan di mana kayu ini?” tanya Si Kelingking.

“Letakkan di situ saja!” perintah ayahnya.

Setelah meletakkan kayu itu, Si Kelingking langsung masuk ke dalam rumah mencari makanan. Oleh karena merasa kelaparan usai memikul pohon besar, ia pun menghabiskan secanting nasi  yang sudah dimasak ibunya. Sementara ayah dan ibunya hanya duduk bengong melihat anaknya, dan tidak tahu apa yang harus mereka perbuat.

Sejak Si Kelingking kembali ke rumah, kehidupan mereka semakin susah. Semakin hari Si Kelingking semakin banyak makannya. Tidak cukup jika hanya makan secanting nasi. Melihat keadaan itu, sepasang suami-istri itu kembali berunding untuk mencari cara menyingkirkan Si Kelingking dari kehidupan mereka.

“Bang! Apa lagi yang harus kita lakukan?” tanya sang Istri bingung.

“Besok Abang akan mengajaknya pergi ke gunung untuk mengambil batu,” jawab sang Suami sambil tersenyum.

“Tenang, Dik! Recanaku ini pasti akan berhasil,” tambah sang Suami dengan penuh keyakinan.

Keesokan harinya, sang Ayah mengajak Si Kelingking ke gunung untuk mengambil batu. Sesampainya di kaki gunung, sang ayah berhenti.

“Kelingking! Ayah akan naik ke atas gunung hendak mendongkel batu-batu itu. Kamu tunggu di sini saja sambil menghadang dan mengumpulkan batu-batu itu,” perintah sang Ayah.

“Baik, Ayah!” jawab Si Kelingking.

Setelah itu, sang Ayah mendaki gunung itu sambil membawa sebatang kayu untuk digunakan mendongkel batu. Pada awalnya, ia hanya mendongkel batu-batu kecil, lalu batu yang agak besar, dan kemudian batu yang lebih besar lagi. Pada saat mendongkel batu besar itu, ia sengaja mengarahkannya kepada Si Kelingking. Batu itu pun menindih Si Kelingking. Melihat hal itu, sang Ayah segera turun dari gunung dan menghampiri Si Kelingking yang tertindih batu.

“Kelingking! Kelingking! Kelingking!” seru sang Ayah memanggil anaknya.

Beberapa kali ia memanggil anaknya, namun tidak mendapat jawaban. Ia yakin bahwa Si Kelingking telah mati. Dengan perasaan gembira, ia pun segera kembali ke rumah dan menceritakan kejadian itu kepada istrinya. Namun, sang Istri tidak langsung percaya dengan cerita itu.

“Apakah Abang yakin jika anak itu benar-benar sudah mati?” tanya sang Istri dengan perasaan ragu-ragu.

“Iya, Dik! Abang berhasil menindihnya dengan batu besar,” jawab sang Suami.

“Ya, syukurlah kalau begitu. Hidup kita akan benar-benar jadi tenang kembali,” kata sang Istri dengan perasaan lega.

Namun, ketika menjelang sore, tanpa mereka duga sebelumnya, tiba-tiba terdengar lagi suara dari luar rumah.

“Ayah…! Ayah…! Diletakkan di mana batu ini?” tanya suara itu.

“Letakkan di situ!” jawab Ayah Si Kelingking tanpa sadar.

Suami-istri itu tersentak kaget saat keluar dari rumah. Mereka melihat Si Kelingking sedang meletakkan sebuah batu besar. Setelah itu, seperti biasanya, Si Kelingking langsung masuk ke rumah untuk mencari makanan, karena kelaparan.

Akhirnya, kedua orang suami-istri itu merasa kasihan kepada anak mereka, Si Kelingking. Mereka pun menyadari bahwa walau bagaimana pun Si Kelingking lahir karena permintaan mereka sendiri. Sejak saat itu, mereka tidak pernah lagi berniat untuk membunuhnya. Mereka telah menerima kembali Si Kelingking sebagai anggota keluarga. Sementara Si Kelingking yang memiliki kekuatan lebih dari orang-orang biasa semakin rajin membantu ayahnya bekerja. Bahkan, semua pekerjaan yang berat-berat dia yang melakukannya, sehingga pekerjaan ayahnya menjadi lebih ringan dan kebutuhan hidup mereka dapat terpenuhi.

* * *

Demikian cerita Si Kelingking dari Provinsi Bangka-Belitung, Indonesia. Cerita di atas termasuk ke dalam kategori dongeng yang mengandung pesan-pesan moral.  Setidaknya ada dua pesan moral yang dapat dipetik dari cerita di atas, yaitu: pertama, menjauhi sifat suka memandang rendah orang lain. Sifat ini digambarkan oleh perilaku ayah dan ibu Si Kelingking. Mereka hanya melihat bentuk fisik dan kerakusan anak mereka, sehingga mereka berniat membuangnya. Namun, di luar dugaan mereka bahwa meskipun badannya kecil, ternyata Si Kelingking memiliki kekuatan yang luar biasa yang tidak dimiliki oleh orang lain. Menyadari hal itu, mereka pun menjadi sayang kepada Si Kelingking. Dari sini dapat dipetik sebuah pelajaran bahwa jika membenci seseorang janganlah berlebihan, karena bisa jadi rasa benci itu berubah menjadi rasa sayang.

Kedua, ajal manusia ada di tangan Tuhan. Hal ini dapat dilihat pada cerita di atas bahwa walaupun ayah dan ibu Si Kelingking beberapa kali mencoba ingin membunuhnya, namun tidak pernah berhasil. Dari sini dapat dipetik sebuah pelajaran bahwa hidup dan mati seseorang hanya Tuhan yang menentukan. Bagaimana pun kerasnya usaha seseorang untuk menghilangkan nyawa orang lain, jika Tuhan belum menghendaki, maka seseorang tidak akan mati.

Leave a comment »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.